Setelah Islam berkembang, muncul berbagai kesultanan yang berperan besar dalam penyebaran Islam, perdagangan, pendidikan, dan budaya, tersebar dari Samudra Pasai di Sumatra hingga Ternate dan Tidore di Maluku.
Kesultanan Samudra Pasai
Kesultanan Islam pertama di Nusantara (abad ke-13), terletak di pesisir utara Sumatra dekat Selat Malaka. Dicatat Marco Polo (1292) dan Ibn Battuta (1345–1346). Ekonominya ditopang perdagangan rempah, emas, dan barang India-Tiongkok. Raja pertama: Sultan Malik al-Saleh (±1267 M).
Kesultanan Aceh
Berdiri awal abad ke-16 setelah runtuhnya Samudra Pasai, dipimpin pertama oleh Sultan Ali Mughayat Syah (1514–1530 M) yang memperkuat Aceh melawan Portugis di Selat Malaka. Sultan Iskandar Muda (1607–1636 M) memperluas kekuasaan hingga Semenanjung Malaya dan menjalin hubungan dengan Kekhalifahan Utsmaniyah di Turki. Aceh juga menjadi pusat pendidikan Islam.
Kesultanan Demak
Kesultanan Islam pertama di Jawa (akhir abad ke-15), didirikan Raden Patah (1475–1518 M), keturunan Brawijaya V dari Majapahit. Berperan besar dalam dakwah Islam bersama Wali Songo dan melawan Portugis di Malaka. Mencapai kejayaan di masa Sultan Trenggana (1521–1546 M), lalu melemah akibat perebutan kekuasaan hingga digantikan Kesultanan Pajang.
Kesultanan Mataram Islam
Berdiri akhir abad ke-16 di Kotagede (kini bagian Yogyakarta), didirikan Panembahan Senopati (1584–1601 M). Berbeda dari kerajaan Islam maritim sebelumnya, Mataram adalah kerajaan agraris. Mencapai puncak kejayaan di bawah Sultan Agung (1613–1645 M) yang menciptakan Kalender Jawa (perpaduan Hijriyah dan Saka), meski gagal merebut Batavia dari VOC (1628–1629 M).
Kesultanan Banten
Didirikan pertengahan abad ke-16 oleh Sunan Gunung Jati, berkembang pesat sebagai pelabuhan dagang lada di Selat Sunda. Mencapai kejayaan di bawah Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683 M) yang gigih menentang VOC, namun akhirnya dihapuskan kolonial Belanda pada 1813.
Kesultanan Gowa-Tallo
Terletak di pesisir Sulawesi Selatan (Makassar), bersatu abad ke-16 menjadi kekuatan maritim besar di Indonesia Timur setelah Raja Gowa, Karaeng Matoaya, memeluk Islam (1605) dan bergelar Sultan Alaudin. Sultan Hasanuddin (1653–1669) melawan dominasi VOC dalam Perang Makassar, berakhir dengan Perjanjian Bungaya (1667) yang melemahkan kesultanan ini.
Kesultanan Ternate dan Tidore
Dua kerajaan Islam di Maluku sejak abad ke-13, pusat perdagangan cengkih dan pala. Sultan Zainal Abidin (1486–1500 M) menjadi raja Ternate pertama yang masuk Islam; Tidore berkembang pesat di bawah Sultan Mansur (1512–1526 M). Portugis bersekutu dengan Ternate, Spanyol dengan Tidore. Sultan Baabullah mengusir Portugis (1575), namun keduanya akhirnya jatuh ke tangan Belanda awal abad ke-17.
Soal. Mengapa Kesultanan Aceh dikenal sebagai pusat kekuatan militer dan pendidikan Islam di Asia Tenggara?
Jawaban. Aceh menguasai jalur perdagangan Selat Malaka dan berkepentingan mempertahankan kendali rempah dari dominasi Portugis yang menguasai Malaka sejak 1511, sehingga membangun armada laut kuat. Sultan Iskandar Muda memperkuat pertahanan dan memperluas wilayah hingga Semenanjung Malaya. Aceh juga menjadi pusat pendidikan Islam maju dengan ulama besar seperti Nuruddin ar-Raniri dan Hamzah Fansuri, sementara hubungannya dengan Kesultanan Utsmaniyah memperkuat posisinya dalam dunia Islam.
Nama "Demak" memiliki beberapa versi asal-usul yang menarik — ada yang menyebut berasal dari kata Jawa "delemak" (tanah berair/rawa), namun ada juga teori dari bahasa Arab "dimak" (air mata), melambangkan perjuangan para ulama dan wali dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa yang penuh tantangan dan pengorbanan.
Kegiatan Kelompok 1: Menelusuri Jejak Kesultanan Islam di Nusantara
Tujuan. Mengidentifikasi peran penting kesultanan Islam dalam sejarah Indonesia.
- Bentuk kelompok 3–4 orang, pilih salah satu kesultanan Islam Nusantara (Samudra Pasai, Aceh, Demak, Banten, Mataram, Gowa-Tallo, Ternate, atau Tidore).
- Diskusikan: bagaimana kesultanan tersebut berperan dalam penyebaran Islam? Apa peran mereka dalam perdagangan maritim/agraris? Tantangan apa yang dihadapi dari bangsa asing (VOC/Portugis)? Adakah warisan budaya, bangunan, atau tradisi yang masih ditemukan hingga kini?
- Tulis jawaban dalam narasi singkat (maksimal 1 halaman), beri nama kelompok sesuai tokoh atau peninggalan yang dipilih, dan sampaikan hasil diskusi di depan kelas.
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp