Anemia
Anemia adalah kondisi jumlah eritrosit atau kadar hemoglobin lebih rendah dari normal sehingga kapasitas darah mengangkut oksigen berkurang. Gejalanya berupa kelelahan, lemas, pucat, pusing, sesak napas, serta penurunan konsentrasi. Penyebabnya beragam: kekurangan zat besi, kekurangan vitamin B12 atau asam folat, gangguan sumsum tulang, kelainan genetik seperti anemia sel sabit dan talasemia, serta perdarahan kronis. Penanganannya bergantung penyebab, mulai dari konsumsi makanan kaya zat besi dan suplemen hingga transfusi darah berkala.
Hemofilia
Hemofilia adalah kelainan genetik yang menyebabkan darah sulit membeku akibat defisiensi faktor pembekuan VIII (Hemofilia A) atau IX (Hemofilia B). Kelainan ini diwariskan melalui kromosom X sehingga lebih sering terjadi pada pria, sedangkan wanita umumnya menjadi carrier. Pengobatannya berupa terapi penggantian faktor pembekuan dan terapi pencegahan untuk mengurangi risiko perdarahan spontan.
Leukemia
Leukemia adalah kanker darah yang ditandai produksi berlebihan leukosit di sumsum tulang sehingga mengganggu produksi eritrosit dan trombosit. Akibatnya penderita mengalami anemia, infeksi berulang, perdarahan sulit dihentikan, serta pembengkakan kelenjar getah bening dan limpa. Leukemia akut berkembang sangat cepat, sedangkan leukemia kronis berkembang lebih lambat. Faktor risikonya meliputi paparan radiasi tinggi, zat kimia beracun, kelainan genetik, dan infeksi virus tertentu. Pengobatannya berupa kemoterapi, terapi radiasi, terapi target, dan transplantasi sumsum tulang.
Siklemia
Siklemia adalah kelainan genetik pada hemoglobin yang menyebabkan eritrosit berbentuk bulan sabit. Sel yang kaku ini mudah menggumpal, menghambat aliran darah, menimbulkan krisis nyeri, dan menyebabkan anemia kronis karena lebih cepat dihancurkan limpa. Penyakit ini diwariskan secara autosom resesif dan paling sering ditemukan pada keturunan Afrika, Timur Tengah, dan India. Pengobatannya meliputi transfusi darah, obat hidroksiurea, terapi oksigen, serta pencegahan pemicu seperti dehidrasi, suhu dingin, dan infeksi.
Talasemia
Talasemia adalah kelainan genetik yang menyebabkan produksi hemoglobin tidak normal sehingga eritrosit mudah rusak dan terjadi anemia berat. Talasemia alfa disebabkan mutasi rantai alfa dan sering ditemukan di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika; talasemia beta disebabkan mutasi rantai beta dan lebih umum di Mediterania, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Komplikasinya berupa pertumbuhan terhambat, kelainan bentuk tulang, dan penumpukan zat besi akibat transfusi berulang. Pengobatannya berupa transfusi darah rutin, kelasi besi, dan transplantasi sumsum tulang.
Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang terjadi saat tekanan dalam arteri mencapai 140/90 mmHg atau lebih. Kondisi ini meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan penyakit ginjal. Faktor penyebabnya meliputi pola makan tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, obesitas, stres berkepanjangan, serta merokok dan alkohol. Hipertensi disebut silent killer karena sering tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Pencegahannya dengan diet rendah garam, olahraga rutin minimal 30 menit per hari, pengendalian stres, menghindari rokok dan alkohol, serta obat antihipertensi sesuai resep dokter.
Hipotensi
Hipotensi adalah tekanan darah rendah kurang dari 90/60 mmHg yang dapat menyebabkan pusing, lemas, mual, penglihatan kabur, pingsan, hingga syok. Penyebabnya meliputi dehidrasi, anemia, gangguan hormonal, efek samping obat, gangguan jantung, dan hipotensi ortostatik. Pencegahannya dengan menjaga asupan cairan, menghindari perubahan posisi tubuh mendadak, asupan garam yang cukup, menghindari alkohol, dan menggunakan pakaian kompresi.
Arteriosklerosis
Arteriosklerosis adalah penebalan dan pengerasan dinding arteri yang menyebabkan hilangnya elastisitas pembuluh darah sehingga aliran darah terhambat. Penyebabnya meliputi penuaan, pola makan tinggi lemak jenuh dan kolesterol, merokok, kurang olahraga, dan stres berkepanjangan. Aterosklerosis adalah bentuk umum arteriosklerosis yang ditandai penumpukan plak lemak di dalam arteri; plak dapat pecah dan membentuk gumpalan darah yang menyumbat aliran ke jantung atau otak.
Trombus dan Embolus
Trombus adalah gumpalan darah yang terbentuk di dalam pembuluh darah dan menghambat aliran darah. Trombus di arteri menyebabkan serangan jantung atau stroke, sedangkan di vena menyebabkan trombosis vena dalam (DVT) yang berisiko menimbulkan emboli paru. Faktor risikonya meliputi imobilisasi lama, merokok, obesitas, kehamilan, dan gangguan pembekuan bawaan.
Embolus adalah trombus atau zat asing yang terlepas dan terbawa aliran darah ke bagian tubuh lain, menyebabkan emboli paru, stroke embolik, atau serangan jantung. Jenisnya meliputi tromboemboli, embolus udara, embolus lemak, dan embolus tumor. Penanganannya dengan antikoagulan, trombolitik, atau trombektomi.
Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan arteri koroner, umumnya karena aterosklerosis. Gejalanya berupa nyeri dada (angina pektoris), sesak napas, kelelahan, hingga serangan jantung. Faktor risikonya meliputi pola makan tidak sehat, merokok, hipertensi, diabetes, obesitas, dan kurang aktivitas fisik. Penanganannya meliputi gaya hidup sehat, obat seperti statin dan beta-blocker, pemasangan ring (stent), serta operasi bypass jantung.
Varises dan Hemoroid
Varises adalah pembesaran vena akibat gangguan katup vena, sering terjadi di kaki dengan gejala pembuluh menonjol kebiruan, nyeri, rasa berat, dan kram. Faktor risikonya meliputi kehamilan, berdiri atau duduk terlalu lama, usia, obesitas, dan faktor genetik. Pencegahannya dengan bergerak teratur, mengangkat kaki saat istirahat, kaus kaki kompresi, dan menjaga berat badan ideal.
Hemoroid atau wasir adalah pembengkakan pembuluh darah di daerah anus dan rektum bawah akibat peningkatan tekanan, dengan gejala gatal, nyeri saat buang air besar, dan perdarahan rektal. Penyebabnya meliputi sembelit kronis, kehamilan, mengangkat beban berat, duduk terlalu lama, dan kurang serat. Penanganannya dengan meningkatkan asupan serat dan air, salep atau supositoria, mandi air hangat, hingga tindakan medis seperti skleroterapi, ligasi pita karet, atau hemoroidektomi.
Limfangitis dan Edema
Limfangitis adalah infeksi atau peradangan pembuluh limfa akibat infeksi bakteri dari luka atau infeksi kulit, ditandai pembengkakan kelenjar getah bening, garis merah pada kulit, demam, dan menggigil. Penyebab utamanya adalah Streptococcus pyogenes atau Staphylococcus aureus. Pengobatannya dengan antibiotik, perawatan luka yang baik, kompres hangat, dan istirahat cukup.
Edema adalah penumpukan cairan berlebih di jaringan tubuh yang menyebabkan pembengkakan, terutama di kaki, tangan, atau wajah. Penyebabnya meliputi gangguan jantung, penyakit ginjal, penyakit hati seperti sirosis, efek samping obat, kehamilan, dan kurangnya aktivitas fisik. Penanganannya dengan mengurangi konsumsi garam, meningkatkan aktivitas fisik, diuretik sesuai anjuran dokter, dan mengangkat kaki saat beristirahat.
Infark Miokard
Infark miokard atau serangan jantung terjadi ketika suplai darah ke otot jantung terhenti total sehingga jaringan jantung rusak permanen. Gejalanya berupa nyeri dada hebat yang menjalar ke lengan kiri, leher, atau rahang, sesak napas, mual dan muntah, serta keringat dingin dan pusing. Faktor risikonya meliputi aterosklerosis, hipertensi, kolesterol tinggi, merokok, diabetes, obesitas, dan stres berlebihan. Penanganan daruratnya berupa obat trombolitik, pemasangan stent, operasi bypass, serta obat seperti aspirin, beta-blocker, dan nitrogliserin.
Soal. Seorang pria berusia 55 tahun mengeluh nyeri dada yang menjalar ke lengan kiri, sesak napas, dan keringat dingin. Pemeriksaan menunjukkan penyumbatan arteri koroner akibat plak aterosklerosis. Jelaskan bagaimana aterosklerosis dapat menyebabkan serangan jantung berdasarkan mekanisme peredaran darah!
Jawaban. Jawaban: Penumpukan plak menyempitkan arteri koroner hingga otot jantung kekurangan oksigen.
Pembahasan. Aterosklerosis terjadi karena penumpukan plak lemak dan kolesterol di dinding arteri sehingga aliran darah ke otot jantung berkurang. Jika plak pecah, tubuh membentuk bekuan darah yang dapat menyumbat aliran sepenuhnya sehingga bagian otot jantung yang tidak mendapat oksigen mengalami infark miokard. Pencegahannya meliputi pola makan sehat, olahraga rutin, menghindari rokok dan alkohol, obat seperti statin, serta tindakan medis berupa pemasangan stent atau operasi bypass jika penyumbatan sudah parah.
Tidak semua serangan jantung ditandai nyeri dada. Pada wanita, gejalanya bisa berupa kelelahan ekstrem, mual, serta nyeri di punggung atau rahang yang sering diabaikan. Tekanan darah juga dapat berubah dalam hitungan detik tergantung aktivitas, stres, dan posisi tubuh, sementara duduk terlalu lama saat perjalanan panjang dapat memicu trombosis vena dalam.
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp