Sistem pernapasan rentan terhadap gangguan akibat infeksi bakteri, virus, polusi udara, atau kebiasaan hidup yang tidak sehat. Gejalanya dapat berupa kesulitan bernapas, batuk berkepanjangan, hingga penurunan kapasitas paru-paru.
Tuberkulosis (TBC)
TBC disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan dapat menyebar ke organ lain. Gejalanya berupa batuk berdahak lebih dari dua minggu yang kadang disertai darah, demam, berkeringat di malam hari, dan penurunan berat badan drastis. Penularannya melalui percikan dahak. Pencegahannya dengan vaksinasi BCG dan menjaga kebersihan lingkungan, sedangkan pengobatannya memerlukan terapi antibiotik jangka panjang secara teratur.
Faringitis dan Difteri
Faringitis adalah peradangan pada faring akibat infeksi virus atau bakteri dengan gejala sakit tenggorokan, kesulitan menelan, suara serak, dan demam. Faringitis akibat Streptococcus pyogenes memerlukan antibiotik.
Difteri disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menghasilkan racun perusak jaringan tenggorokan dan saluran pernapasan, ditandai terbentuknya selaput tebal berwarna abu-abu yang dapat menyumbat saluran pernapasan. Pencegahan terbaiknya adalah imunisasi DPT.
Pneumonia (Radang Paru-paru)
Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan peradangan alveolus sehingga terisi cairan atau nanah dan mengganggu pertukaran gas. Gejalanya batuk berdahak, sesak napas, nyeri dada, dan demam tinggi. Kelompok paling rentan adalah anak-anak, lansia, dan individu dengan kekebalan tubuh lemah. Pencegahannya meliputi vaksinasi, menjaga kebersihan tangan, dan menghindari asap rokok.
Kanker Paru-paru (Karsinoma Pulmonar)
Kanker paru-paru disebabkan pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali, sering dikaitkan dengan kebiasaan merokok. Gejalanya baru muncul pada tahap lanjut berupa batuk kronis, batuk berdarah, nyeri dada, sesak napas, dan penurunan berat badan. Pengobatannya meliputi operasi, kemoterapi, terapi radiasi, atau terapi target.
Gangguan Kadar Gas dalam Darah
- Hiperkapnia: kadar karbon dioksida dalam darah meningkat di atas batas normal akibat gangguan pernapasan seperti PPOK atau asma berat.
- Hipoksemia: kadar oksigen dalam darah lebih rendah dari normal akibat penyakit paru kronis, anemia, gangguan jantung, atau berada di dataran tinggi.
- Asfiksia: kekurangan oksigen ekstrem akibat sumbatan saluran napas, cedera dada, atau keracunan gas; penanganannya antara lain teknik Heimlich dan bantuan pernapasan.
- Sianosis: kulit dan selaput lendir membiru karena kadar oksigen dalam darah turun di bawah 85%.
Gangguan Kronis dan Lainnya
- PPOK: penyempitan saluran napas permanen akibat merokok jangka panjang atau polusi, mencakup bronkitis kronis dan emfisema.
- Dispnea: kesulitan bernapas atau sesak napas yang tidak normal, sering dikaitkan dengan asma, PPOK, pneumonia, atau gangguan jantung.
- Apnea tidur: berhenti bernapas sementara saat tidur, baik obstructive sleep apnea maupun central sleep apnea; ditangani dengan perubahan gaya hidup atau CPAP.
- SIDS: kematian mendadak pada bayi sehat saat tidur; dicegah dengan posisi tidur telentang, tempat tidur aman, dan menghindari asap rokok.
- Influenza: infeksi virus influenza dengan gejala demam, pilek, batuk, nyeri tenggorokan, dan kelelahan; dicegah dengan vaksinasi tahunan.
- SARS: infeksi saluran pernapasan akut oleh virus SARS-CoV dengan gejala demam tinggi, batuk kering, dan sesak napas yang dapat berkembang menjadi pneumonia parah.
Soal. Hasil tes spirometer seorang pasien menunjukkan volume tidal 500 mL, volume cadangan inspirasi 3000 mL, volume cadangan ekspirasi 1000 mL, dan volume residu 1200 mL. Hitung kapasitas vital paru dan kapasitas total paru pasien!
Jawaban. Jawaban: KVP = 4500 mL dan KTP = 5700 mL.
Pembahasan. Kapasitas vital paru dihitung dengan menjumlahkan volume tidal, volume cadangan inspirasi, dan volume cadangan ekspirasi: 500 + 3000 + 1000 = 4500 mL atau 4,5 liter. Kapasitas total paru diperoleh dengan menambahkan volume residu pada kapasitas vital paru: 4500 + 1200 = 5700 mL atau 5,7 liter.
Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu bisa menjadi gejala TBC, asma, atau PPOK. WHO mencatat polusi udara menyebabkan lebih dari 7 juta kematian setiap tahun akibat penyakit pernapasan, dan perokok pasif pun berisiko tinggi terkena kanker paru-paru meskipun tidak pernah merokok.
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp