Fitri Learning

BelajarGeografi SMA Kelas 11Bab 4

Pengertian, Jenis, dan Sebaran Bencana

Geografi SMA Kelas 11 · Bab 4: Mitigasi dan Adaptasi Kebencanaan

Pengertian Bencana

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam, faktor nonalam, maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Pengertian tersebut mengandung tiga aspek dasar.

Ancaman (Hazard)

Ancaman bencana adalah kejadian atau peristiwa yang dapat menimbulkan bencana, baik berasal dari faktor alam, nonalam, maupun manusia, yang berpotensi merusak dan mengancam kehidupan, kesehatan, harta benda, atau lingkungan.

Natural Hazard

Ancaman yang berasal dari proses alam, seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Ancaman ini sering tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui persiapan dan mitigasi yang tepat.

Manmade Hazard

Ancaman yang dihasilkan dari aktivitas manusia, seperti kegagalan teknologi, kecelakaan industri, atau kebakaran akibat ulah manusia. Contohnya kebakaran hutan karena pembukaan lahan dengan pembakaran atau kecelakaan industri yang menimbulkan polusi berat.

Social Hazard

Ancaman yang muncul dari interaksi sosial dan konflik antarmasyarakat, seperti kerusuhan, aksi teror, atau konflik horizontal lainnya. Ancaman ini sering berdampak kompleks karena melibatkan dinamika sosial, politik, dan budaya.

Kerentanan (Vulnerability)

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007, kerentanan adalah kondisi atau karakteristik masyarakat yang menyebabkan mereka tidak mampu mencegah, mengurangi, atau mempersiapkan diri terhadap dampak buruk bencana. Kerentanan diklasifikasikan menjadi empat jenis utama:

  • Kerentanan fisik: infrastruktur, bangunan, dan aset fisik yang rentan rusak, seperti rumah di daerah rawan longsor atau fasilitas umum yang tidak tahan gempa.
  • Kerentanan sosial: aspek demografi, budaya, dan hubungan sosial, seperti pendidikan rendah, akses informasi terbatas, dan marginalisasi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat miskin.
  • Kerentanan ekonomi: kemampuan individu atau masyarakat untuk pulih secara finansial; masyarakat berpendapatan rendah atau bergantung pada satu sektor seperti pertanian lebih rentan.
  • Kerentanan lingkungan: degradasi ekosistem seperti penggundulan hutan, kerusakan lahan basah, atau pencemaran air yang menurunkan kemampuan lingkungan menyerap dampak bencana.

Kapasitas (Capacity)

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007, kapasitas adalah sumber daya, kekuatan, dan kemampuan yang dimiliki masyarakat, kelompok, atau individu untuk mengantisipasi, menghadapi, menanggulangi, dan memulihkan diri dari bencana. Kapasitas dikategorikan ke dalam empat jenis utama:

  • Kapasitas fisik: infrastruktur, teknologi, dan peralatan seperti bangunan tahan gempa, sistem drainase, dan akses alat peringatan dini.
  • Kapasitas sosial: jaringan sosial, solidaritas, dan hubungan antaranggota masyarakat yang mempercepat pemulihan melalui bantuan dan kerja sama.
  • Kapasitas kelembagaan: kebijakan, peraturan, dan organisasi seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pelatihan tanggap darurat, dan regulasi bangunan tahan bencana.
  • Kapasitas ekonomi: kemampuan mengelola sumber daya keuangan seperti asuransi bencana, program bantuan sosial, dan tabungan masyarakat.

Jenis-Jenis Bencana

Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2007, bencana dapat disebabkan oleh faktor alam, nonalam, dan manusia.

Bencana Alam

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan peristiwa atau serangkaian peristiwa yang terjadi secara alamiah, seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Meskipun sulit dicegah, dampaknya dapat diminimalkan melalui mitigasi dan kesiapsiagaan.

Gempa Bumi

Gempa Bumi di Cianjur-Sukabumi Tahun 2022 – wikimedia.org
Gempa Bumi di Cianjur-Sukabumi Tahun 2022 – wikimedia.org

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan di permukaan bumi akibat pergerakan lempeng tektonik, aktivitas vulkanik, atau runtuhan tanah. Indonesia sering mengalaminya karena berada di pertemuan Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Penyebabnya adalah pergerakan lempeng tektonik, aktivitas vulkanik saat magma naik ke permukaan, serta runtuhan tanah atau longsoran bawah tanah seperti di daerah tambang dan kawasan karst.

Gempa diukur dengan seismograf dan dinyatakan dalam Skala Richter yang mengukur kekuatan berdasarkan energi yang dilepaskan, serta Skala Mercalli yang mengukur intensitas atau dampak gempa terhadap lingkungan. Gempa bumi tidak dapat diprediksi secara akurat, namun dampaknya dapat diminimalkan melalui pemantauan aktivitas seismik, pemetaan zona rawan, bangunan tahan gempa, edukasi masyarakat, dan sistem peringatan dini.

Tsunami

Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti "gelombang pelabuhan". Tsunami adalah serangkaian gelombang besar akibat perpindahan besar massa air, biasanya disebabkan gempa bumi di dasar laut, letusan gunung berapi, atau longsoran bawah laut. Di perairan dalam kecepatannya mencapai 800 km/jam, sedangkan saat mendekati pantai kecepatannya menurun namun tinggi gelombangnya meningkat drastis.

Wilayah di sekitar zona subduksi lempeng seperti Indonesia, Jepang, Filipina, dan Chili paling sering mengalami tsunami. Contoh tsunami besar adalah tsunami akibat letusan Gunung Krakatau (1883) yang mencapai 40 meter dan menewaskan lebih dari 36.000 jiwa, serta tsunami akibat gempa 9,1–9,3 Skala Richter di Samudra Hindia pada 26 Desember 2004 yang melanda 14 negara dan menewaskan lebih dari 230.000 jiwa dengan Aceh sebagai wilayah paling terdampak.

Gunung Meletus

Gunung meletus adalah peristiwa keluarnya material dari dalam perut bumi seperti magma, gas, abu vulkanik, dan batuan melalui kawah akibat tekanan aktivitas magma. Proses ini disebut erupsi, yang dapat bersifat eksplosif dengan lontaran material maupun efusif berupa aliran lava. Lava memiliki suhu 700°C hingga 1.200°C sehingga mampu merusak tumbuhan, bangunan, dan infrastruktur.

  • Abu vulkanik yang mengganggu pernapasan, mencemari air, dan merusak tanaman.
  • Aliran lava yang membakar apa saja di jalurnya.
  • Lahar, yaitu aliran material vulkanik bercampur air akibat hujan deras setelah erupsi, yang sangat destruktif.
  • Awan panas (pyroclastic flow) bersuhu 600°C–1.000°C dengan kecepatan hingga 700 km/jam.
  • Tsunami, jika letusan terjadi di bawah laut atau dekat perairan.

Letusan Gunung Krakatau tahun 1883 merupakan salah satu letusan terbesar dalam sejarah; ledakannya terdengar hingga ribuan kilometer, menciptakan tsunami setinggi 40 meter, menewaskan lebih dari 36.000 jiwa, dan menurunkan suhu rata-rata bumi akibat debu vulkanik. Tanda sebelum letusan meliputi peningkatan aktivitas seismik, deformasi gunung, kenaikan suhu di sekitar kawah, peningkatan emisi gas vulkanik seperti sulfur dioksida (SO₂), perubahan warna air kawah, serta suara gemuruh atau dentuman.

Banjir

Banjir adalah peristiwa meluapnya air ke daerah yang biasanya kering, baik karena faktor alami maupun ulah manusia. Banjir dapat diprediksi melalui indikator curah hujan tinggi yang berlangsung lama, kondisi debit sungai, keadaan lingkungan seperti saluran air tersumbat atau dataran rendah rawan genangan, serta informasi cuaca dan peringatan dini dari lembaga meteorologi.

Penyebab banjir antara lain hujan deras, tersumbatnya saluran air, penggundulan hutan, perubahan fungsi lahan hijau, dan kenaikan air laut. Dampaknya berupa kerusakan infrastruktur, kehilangan nyawa dan hewan ternak, penyakit seperti diare, demam berdarah, dan leptospirosis, serta gangguan ekonomi pada pertanian dan perdagangan.

  • Banjir bandang: banjir besar yang terjadi tiba-tiba dengan aliran sangat deras akibat hujan lebat dalam waktu singkat, tanah longsor yang menyumbat sungai, atau jebolnya bendungan. Contohnya banjir di Sentani, Papua, pada tahun 2019.
  • Banjir luapan: terjadi akibat meluapnya air sungai ke daerah sekitarnya karena hujan deras terus-menerus, seperti di sepanjang Sungai Bengawan Solo.
  • Banjir pantai (banjir rob): terjadi di wilayah pesisir akibat naiknya permukaan air laut saat pasang tinggi, angin kencang, atau badai, seperti di Semarang, Jawa Tengah.

Kekeringan

Kekeringan adalah kondisi kekurangan air yang berlangsung lama akibat curah hujan sangat rendah, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan pengelolaan air yang tidak efisien. Dampaknya meliputi gagal panen dan kelangkaan pangan, krisis air bersih, masalah kesehatan, dan gangguan ekonomi. Terdapat empat tipe kekeringan.

Kekeringan meteorologi terjadi ketika curah hujan lebih rendah dari rata-rata dalam waktu tertentu.

Tabel Intensitas Kekeringan Meteorologi

Tingkat KekeringanCurah Hujan
Kering70%–85% dari normal
Amat Kering50%–70% dari normal
Amat Sangat Kering<50% dari normal

Kekeringan pertanian terjadi ketika tanah tidak mampu menyediakan kelembapan yang cukup untuk pertumbuhan tanaman, diukur berdasarkan persentase luas daun yang kering pada tanaman padi.

Tabel Intensitas Kekeringan Pertanian

Tingkat KekeringanPersentase Daun Kering
KeringSebagian bagian daun kering
Amat KeringSebagian besar bagian daun kering
Amat Sangat KeringSemua bagian daun kering

Kekeringan hidrologi terjadi ketika sumber daya air seperti sungai, danau, atau waduk mengalami penurunan drastis, diukur berdasarkan persentase debit air sungai.

Tabel Intensitas Kekeringan Hidrologi

Tingkat KekeringanDebit Air Sungai
KeringMencapai periode ulang aliran periode 5 tahunan
Amat KeringMencapai periode ulang aliran jauh di bawah periode 25 tahunan
Amat Sangat KeringMencapai periode ulang aliran amat jauh di bawah periode 50 tahunan

Kekeringan sosial-ekonomi terjadi apabila terdapat gangguan pada aktivitas manusia akibat menurunnya curah hujan dan ketersediaan air, sehingga menghubungkan aktivitas manusia dengan elemen kekeringan meteorologi, pertanian, dan hidrologi.

Tabel Intensitas Kekeringan Sosial-Ekonomi

Tingkat KekeringanKetersediaan Air (Lt/Orang/Hari)Pemenuhan KebutuhanJarak ke Sumber Air
Kering>30 – <60Minum, masak, cuci alat makan/masak, mandi terbatas0,1 – 0,5 km
Amat Kering>20 – <30Minum, masak, cuci alat makan/masak0,5 – 3 km
Amat Sangat Kering<10Minum, masak>3 km

Tanah Longsor

Menurut Kementerian ESDM dalam Pengelolaan Gerakan Tanah, tanah longsor adalah perpindahan massa tanah, batuan, atau material lainnya yang bergerak menuruni lereng akibat pengaruh gravitasi. Penyebab utamanya curah hujan tinggi, kemiringan lereng curam, kondisi geologi dengan lapisan tanah lemah, serta aktivitas manusia seperti penggalian tanah, pembukaan lahan, dan deforestasi.

Prosesnya dimulai dari infiltrasi air hujan yang membuat tanah jenuh air sehingga kekuatan gesek antar partikel menurun dan tanah kehilangan kestabilan, lalu gravitasi menarik massa tanah menuruni lereng. Gejala umumnya munculnya retakan pada tanah atau jalan di lereng, pohon atau tiang listrik yang mulai miring, aliran air yang menjadi lebih keruh, dan terkadang suara gemuruh dari dalam tanah. Wilayah rawan longsor adalah lereng curam dengan curah hujan tinggi, tanah yang mudah menyerap air seperti lempung, serta kawasan pembangunan di lereng tanpa perencanaan matang.

Longsoran Translasi – Shutterstock
Longsoran Translasi – Shutterstock

Longsoran translasi adalah pergerakan massa tanah secara menyeluruh di sepanjang bidang gelincir yang datar atau hampir rata, sering terjadi karena tanah di atas batuan dasar yang lemah tidak memiliki ikatan kuat.

Longsoran Rotasi – Shutterstock
Longsoran Rotasi – Shutterstock

Longsoran rotasi adalah pergerakan tanah di sepanjang bidang gelincir melengkung, biasanya terjadi pada lereng dengan struktur tanah lempung yang jenuh air.

Pergerakan Blok – Shutterstock
Pergerakan Blok – Shutterstock

Pergerakan blok adalah perpindahan massa batuan atau tanah dalam satu blok besar yang bergerak menuruni lereng karena retakan besar yang membuatnya kehilangan kestabilan.

Runtuhan Batu – Shutterstock
Runtuhan Batu – Shutterstock

Runtuhan batu terjadi ketika material batuan terlepas dari lereng curam dan jatuh secara bebas, biasanya akibat erosi, cuaca ekstrem, atau aktivitas manusia yang mengganggu kestabilan lereng.

Rayapan Tanah – Shutterstock
Rayapan Tanah – Shutterstock

Rayapan tanah adalah pergerakan lambat tanah menuruni lereng dengan kemiringan rendah yang sulit dideteksi tetapi dapat merusak bangunan dan infrastruktur, dengan penyebab utama siklus basah dan kering pada tanah.

Aliran Bahan Rombakan – Shutterstock
Aliran Bahan Rombakan – Shutterstock

Aliran bahan rombakan adalah pergerakan campuran tanah, batuan, dan air yang mengalir seperti cairan, sering terjadi setelah hujan deras di daerah dengan tanah jenuh air, terutama dekat aliran sungai.

Kebakaran Hutan dan Lahan

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran hutan dan lahan adalah peristiwa terbakarnya vegetasi di hutan, lahan, atau wilayah tertentu secara tidak terkendali, baik karena faktor alam maupun aktivitas manusia. Kebakaran umumnya terjadi di wilayah dengan vegetasi kering, tanah gambut, dan iklim panas dengan musim kemarau panjang, terutama selama fenomena El Niño.

Faktor alami penyebabnya adalah sambaran petir, musim kemarau, dan El Niño, sementara aktivitas manusia meliputi pembukaan lahan dengan pembakaran, kelalaian membuang puntung rokok, dan praktik industri yang tidak ramah lingkungan. Dampaknya meliputi kerusakan ekosistem, polusi udara berbahaya, kerugian ekonomi di sektor kehutanan dan pertanian, serta gangguan sosial dan krisis kesehatan.

Angin Puting Beliung

Angin puting beliung adalah angin kencang yang berputar dengan kecepatan tinggi dalam waktu singkat, biasanya terjadi di daerah tropis saat peralihan musim (pancaroba), dengan kecepatan yang dapat mencapai lebih dari 100 km/jam. Fenomena ini terbentuk akibat perbedaan tekanan udara ekstrem, ketika udara panas yang naik cepat bertemu udara dingin yang turun sehingga menciptakan pusaran vertikal, biasanya disertai pembentukan awan kumulonimbus.

Wilayah rawan angin puting beliung adalah daerah tropis bersuhu permukaan dan kelembapan tinggi seperti Indonesia, terutama dataran rendah dan wilayah terbuka. Dampaknya merusak bangunan, fasilitas umum, dan lahan pertanian, serta mengancam keselamatan jiwa akibat puing yang terbawa angin. Fenomena ini sulit diprediksi secara akurat, namun potensinya dapat dikenali melalui pemantauan cuaca.

Bencana Non-Alam

  • Kegagalan teknologi: bencana akibat kerusakan atau malfungsi teknologi, seperti kebocoran zat kimia di pabrik, ledakan fasilitas industri, atau kecelakaan transportasi akibat kesalahan teknis.
  • Kegagalan modernisasi: terjadi ketika perkembangan teknologi, urbanisasi, atau sistem sosial tidak diimbangi perencanaan matang, seperti banjir perkotaan akibat buruknya drainase, kemacetan parah, atau ledakan populasi di kota besar.
  • Epidemi atau wabah penyakit: penyebaran penyakit secara cepat dan luas akibat kurangnya sanitasi, perubahan lingkungan, atau mutasi patogen, seperti pandemi COVID-19.

Bencana Sosial

  • Aksi teror: tindakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut atau ketidakstabilan dengan motif politik, ideologi, atau agama, seperti pengeboman di tempat umum, yang berdampak pada hilangnya nyawa, trauma psikologis, dan terganggunya stabilitas keamanan.
  • Kerusuhan dan konflik sosial: timbul akibat ketegangan atau perselisihan antar kelompok masyarakat, seperti konflik etnis atau demonstrasi yang berujung kekerasan, yang berdampak pada kerusakan fasilitas umum, gangguan ekonomi, hingga korban jiwa.

Kegiatan Kelompok 1

Kegiatan Kelompok 1

Menganalisis Persebaran Wilayah Rawan Bencana di Sekitar Tempat Tinggal.

Tujuan. Memahami wilayah rawan bencana di sekitar tempat tinggal beserta penyebab dan dampaknya.

Langkah.

  1. Bentuk kelompok yang terdiri dari 3–4 orang peserta didik.
  2. Carilah informasi mengenai wilayah rawan bencana di sekitar tempat tinggal kalian atau di daerah lain di Indonesia.
  3. Catat jenis-jenis bencana yang sering terjadi di wilayah tersebut dan faktor penyebabnya.
  4. Jelaskan dampak yang ditimbulkan dari bencana tersebut terhadap kehidupan masyarakat.
  5. Buatlah peta sederhana yang menunjukkan wilayah rawan bencana yang kalian amati.
  6. Sajikan hasil analisis dan peta kalian di depan kelas untuk didiskusikan bersama.
  7. Kumpulkan hasil kegiatan kepada guru untuk dinilai.

Dampak Bencana terhadap Kehidupan

  • Gempa bumi: kerusakan infrastruktur seperti runtuhnya bangunan, jalan, dan jembatan, serta bencana sekunder seperti tanah longsor dan tsunami, disertai dampak psikologis berupa trauma.
  • Tsunami: menghancurkan wilayah pesisir, menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, merusak permukiman dan fasilitas umum, serta merusak ekosistem laut dan pantai.
  • Letusan gunung berapi: kerusakan lahan pertanian, hancurnya infrastruktur, dan ancaman kesehatan akibat abu vulkanik; lahar dan awan panas dapat menghancurkan permukiman.
  • Banjir: kerugian ekonomi besar karena merusak rumah, lahan pertanian, dan infrastruktur, serta pencemaran sumber air bersih yang memicu wabah penyakit.
  • Kekeringan: kelangkaan bahan pangan, kerugian sektor pertanian, krisis air bersih, hingga kelaparan dan kekurangan gizi dalam jangka panjang.
  • Tanah longsor: kerusakan fisik rumah dan infrastruktur, korban jiwa, kerusakan ekosistem lokal, dan peningkatan risiko banjir.
  • Kebakaran hutan: menghancurkan ekosistem, polusi udara berbahaya, gangguan kesehatan masyarakat, dan kontribusi terhadap perubahan iklim.
  • Angin puting beliung: kerusakan bangunan dan fasilitas umum, kerugian ekonomi, ancaman keselamatan, dan terganggunya aktivitas masyarakat.

Persebaran Jenis Bencana di Indonesia

Indonesia memiliki risiko bencana yang tinggi karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik dan di wilayah tropis. Data Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2021 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan gambaran tingkat risiko di berbagai wilayah.

Tabel Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) tahun 2021

ProvinsiNilai IRBProvinsiNilai IRB
Aceh144.00Nusa Tenggara Barat134.00
Sumatera Utara138.00Nusa Tenggara Timur138.00
Sumatera Barat136.00Kalimantan Barat128.00
Riau130.00Kalimantan Tengah130.00
Jambi128.00Kalimantan Selatan126.00
Sumatera Selatan132.00Kalimantan Timur124.00
Bengkulu134.00Kalimantan Utara122.00
Lampung126.00Sulawesi Utara132.00
Kepulauan Bangka Belitung120.00Sulawesi Tengah136.00
Kepulauan Riau118.00Sulawesi Selatan134.00
DKI Jakarta122.00Sulawesi Tenggara130.00
Jawa Barat140.00Gorontalo120.61
Jawa Tengah142.00Sulawesi Barat128.00
DI Yogyakarta138.00Maluku126.00
Jawa Timur136.00Maluku Utara124.00
Banten124.00Papua Barat122.00
Bali120.00Papua120.00

Nilai IRBI mencerminkan tingkat risiko bencana di setiap provinsi, dengan nilai lebih tinggi menunjukkan risiko lebih besar, sehingga dapat digunakan sebagai acuan perencanaan mitigasi dan penanggulangan bencana.

  • Gempa bumi: wilayah ber-IRBI tinggi seperti Sumatera Barat (136) dan Jawa Tengah (142) rawan gempa; Sumatra Barat akibat Sesar Mentawai dan Jawa Tengah berada di jalur subduksi Lempeng Eurasia dan Indo-Australia.
  • Tsunami: pesisir barat Sumatra (Aceh: 144) dan selatan Jawa (Jawa Timur: 136) rentan karena dekat zona subduksi sumber gempa bawah laut, seperti tsunami Aceh 2004.
  • Letusan gunung berapi: banyak gunung aktif di Jawa Barat (140) dan Jawa Timur (136); Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta termasuk paling aktif di dunia.
  • Banjir: dataran rendah dengan curah hujan tinggi seperti Jakarta (122) dan Kalimantan Barat (128), diperparah drainase buruk dan alih fungsi lahan.
  • Kekeringan: wilayah bercurah hujan rendah seperti Nusa Tenggara Timur (138) dan Nusa Tenggara Barat (134).
  • Tanah longsor: daerah berbukit seperti Jawa Barat (140) dan Sulawesi Selatan (134) dengan curah hujan tinggi dan penggundulan hutan di lereng.
  • Kebakaran hutan dan lahan: wilayah bertanah gambut seperti Riau (130) dan Kalimantan Tengah (130), terutama saat musim kemarau.
  • Angin puting beliung: daerah bersuhu permukaan tinggi seperti Jawa Timur (136) dan Sulawesi Selatan (134), terutama saat musim pancaroba.
Kegiatan Kelompok 2

Membuat Peta Persebaran Wilayah Rawan Tsunami di Indonesia.

Tujuan. Melatih keterampilan memahami wilayah rawan tsunami dan keterampilan pemetaan.

Langkah.

  1. Bentuk kelompok yang terdiri atas 4–5 orang peserta didik.
  2. Carilah data terkait wilayah rawan tsunami di Indonesia atau di kabupaten/kota tempat tinggal kalian dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BMKG, atau sumber resmi lainnya.
  3. Buatlah peta persebaran wilayah rawan tsunami berdasarkan data yang telah dikumpulkan dengan prinsip pembuatan peta yang baik dan benar.
  4. Lengkapi peta tersebut dengan analisis singkat mengenai faktor penyebab, dampak, dan upaya mitigasi bencana tsunami di wilayah tersebut.
  5. Kumpulkan hasil karya kalian kepada bapak/ibu guru untuk dinilai.
Danau Toba di Sumatra adalah hasil dari letusan supervulkan terbesar di dunia

Letusan supervulkan Gunung Toba terjadi sekitar 74.000 tahun lalu dan merupakan salah satu letusan terbesar dalam sejarah bumi. Letusan ini memengaruhi iklim global, menyebabkan musim dingin vulkanik selama beberapa tahun, dan diyakini hampir memusnahkan populasi manusia purba.

Contoh soal

Soal. Berikan pernyataan yang benar tentang interaksi antara ancaman (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity) dalam risiko bencana!

Pembahasan. Kapasitas rendah dapat menyebabkan ancaman kecil berubah menjadi bencana besar. Kapasitas yang rendah, seperti kurangnya kesiapsiagaan masyarakat atau infrastruktur yang lemah, dapat memperbesar dampak dari ancaman yang relatif kecil. Sebaliknya, kapasitas tinggi membantu mengurangi risiko meskipun ancaman besar.

Gratis — tolong sebarkan

Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.

Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya →