Fitri Learning

BelajarKimia SMA Kelas 11Bab 9

Titrasi Asam-Basa

Kimia SMA Kelas 11 · Bab 9: Larutan Penyangga

Titrasi asam-basa adalah metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam atau basa menggunakan larutan standar yang diketahui konsentrasinya. Prinsip utamanya adalah reaksi netralisasi, di mana larutan dengan konsentrasi belum diketahui dititrasi hingga mencapai titik ekivalen, yaitu titik ketika jumlah mol asam sama dengan jumlah mol basa. Perubahan pH selama titrasi dipantau menggunakan indikator pH atau pH meter dan digambarkan dalam bentuk kurva titrasi.

Kurva Titrasi Asam Basa

Kurva titrasi menggambarkan perubahan pH larutan selama proses titrasi berlangsung dan sangat penting untuk menentukan titik ekivalen serta memilih indikator yang sesuai. Bentuk kurva bergantung pada kekuatan asam dan basa yang bereaksi, terbagi menjadi titrasi asam kuat dengan basa kuat dan titrasi asam lemah dengan basa kuat.

Titrasi Asam Kuat dengan Basa Kuat

Pada titrasi ini terjadi reaksi netralisasi sempurna $HCl + NaOH \rightarrow NaCl + H_2O$. HCl terionisasi sempurna menjadi $H^+$ dan $Cl^-$, sedangkan NaOH terionisasi menjadi $Na^+$ dan $OH^-$; ketika keduanya bertemu terbentuk air sehingga larutan netral pada titik ekivalen.

Sebelum titrasi dimulai, pH awal sangat rendah (sekitar 1 untuk HCl 0,1 M). Selama titrasi pH naik perlahan, lalu di sekitar titik ekivalen terjadi perubahan pH yang sangat tajam. Pada titik ekivalen pH = 7 karena larutan hanya mengandung air dan garam netral, dan setelahnya kelebihan basa menyebabkan pH meningkat drastis. Karena perubahan pH tajam terjadi di sekitar pH 7, metil merah (trayek 4,4–6,2) maupun fenolftalein (trayek 8,2–10,0) dapat digunakan, namun fenolftalein lebih sering dipilih karena perubahan warnanya lebih jelas.

Contoh soal

Soal. Contoh titrasi asam kuat dengan basa kuat: Larutan HCl sebanyak 25 mL dititrasi dengan NaOH 0,1 M, dan titik ekuivalen tercapai pada volume NaOH 30 mL. Tentukan konsentrasi HCl.

Kurva titrasi HCl dengan NaOH
Kurva titrasi HCl dengan NaOH

Tabel data kurva titrasi HCl dengan NaOH

Volume NaOH (mL)Kondisi LarutanpH
0HCl murni~1
10HCl berlebih~1,5
20HCl berlebih~2,0
29Hampir ekuivalen~3,5
30Titik ekuivalen7
31NaOH berlebih (sedikit)~10
40NaOH berlebih~12
50NaOH dominan~13

Sebelum titik ekuivalen (0–29 mL) larutan masih asam karena HCl belum habis dan pH naik perlahan. Pada titik ekuivalen (30 mL), HCl tepat habis sehingga pH = 7. Setelah titik ekuivalen larutan menjadi basa karena NaOH berlebih dan pH naik drastis di atas 10. Perubahan pH paling tajam terjadi dekat titik ekuivalen, yang penting dalam memilih indikator titrasi.

Titrasi Asam Lemah dengan Basa Kuat

Pada titrasi ini, asam lemah seperti asam asetat bereaksi dengan basa kuat menghasilkan garam dan air: $CH_3COOH + NaOH \rightarrow CH_3COO^- + Na^+ + H_2O$. Pada titik ekivalen, garam natrium asetat yang terbentuk mengalami hidrolisis sehingga larutan bersifat sedikit basa dengan pH lebih dari 7.

pH awal lebih tinggi dibanding titrasi asam kuat karena asam lemah tidak terionisasi sepenuhnya. Selama titrasi pH meningkat bertahap, titik ekivalen berada di pH lebih dari 7, dan setelahnya pH meningkat drastis akibat kelebihan basa kuat. Karena titik ekivalen berada di atas pH 7, fenolftalein (trayek 8,2–10,0) paling cocok, sedangkan metil merah tidak sesuai karena perubahan warnanya terjadi sebelum titik ekivalen tercapai.

Contoh soal

Soal. Contoh titrasi asam lemah dengan basa kuat: Sebanyak 25 mL $CH_3COOH$ 0,1 M dititrasi dengan NaOH 0,1 M, dengan $K_a = 1{,}8 \times 10^{-5}$. Tentukan pH awal sebelum titrasi dilaksanakan.

Kurva titrasi asam lemah dengan basa kuat
Kurva titrasi asam lemah dengan basa kuat

Tabel data kurva titrasi asam asetat dengan NaOH

Volume NaOH (mL)pH
0~2,8
5,26~4,17
7,895~4,40
10,52~4,60
15,78~4,97
18,42~5,19
23,684~6
26,31~11,40
28,9~12,19
34,21~12,52

pH awal 2,87 menunjukkan asam asetat adalah asam lemah. Saat NaOH ditambahkan, terbentuk zona buffer antara $CH_3COOH$ dan $CH_3COO^-$ sehingga kenaikan pH tidak drastis. Pada titik setengah titrasi, $[CH_3COOH] = [CH_3COO^-]$ sehingga $pH \approx pK_a = 4{,}76$. Pada titik ekuivalen (NaOH 25 mL), semua asam habis dan hanya tersisa natrium asetat sehingga pH $= 8{,}72$ karena hidrolisis ion asetat. Setelah titik ekuivalen, pH meningkat drastis karena kelebihan $OH^-$.

Pelaksanaan Titrasi

Dalam titrasi asam-basa, larutan sampel dengan konsentrasi tidak diketahui direaksikan dengan larutan standar (titran) hingga mencapai titik ekivalen. Alat yang digunakan meliputi buret untuk meneteskan titran dengan volume terukur, pipet volumetrik untuk mengambil larutan sampel secara akurat, erlenmeyer sebagai tempat reaksi, serta indikator pH atau pH meter untuk menentukan titik ekivalen.

  1. Menyiapkan larutan: larutan sampel ditakar dengan pipet volumetrik, dimasukkan ke erlenmeyer, lalu ditambahkan beberapa tetes indikator yang sesuai.
  2. Mengisi buret dengan larutan titran hingga skala nol, memastikan tidak ada gelembung udara yang dapat memengaruhi akurasi volume.
  3. Melakukan titrasi: titran diteteskan perlahan ke dalam larutan sampel sambil terus diaduk, dan perubahan warna indikator atau nilai pH diamati.
  4. Menentukan titik ekivalen: titrasi dihentikan ketika terjadi perubahan warna permanen atau pH menunjukkan titik ekivalen, lalu volume titran dicatat.
  5. Menghitung konsentrasi larutan sampel menggunakan hubungan $M_1V_1 = M_2V_2$.

Keakuratan titrasi dipengaruhi oleh pemilihan indikator yang tepat, penggunaan alat ukur yang presisi, penambahan titran yang hati-hati terutama mendekati titik ekivalen, serta pencatatan volume yang akurat saat membaca skala buret.

Larutan Penyangga pada Bir dan Wine
  • Dalam fermentasi, bir dan wine menghasilkan asam organik seperti asam laktat dan asam asetat yang dapat membuat minuman terlalu asam. Larutan penyangga berbasis karbonat dan fosfat digunakan agar pH tetap optimal — wine merah umumnya berpH 3,3–3,6 sedangkan wine putih 3,0–3,4.
  • pH yang tidak stabil dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri merugikan. Dengan sistem penyangga, mikroorganisme perusak sulit berkembang; wine dengan pH di atas 4,5 jauh lebih rentan terhadap kontaminasi bakteri.
Kegiatan

Titrasi Asam Cuka dengan NaOH

Tujuan. Menentukan konsentrasi asam asetat dalam cuka dapur melalui titrasi dengan larutan NaOH standar.

Bahan.

  • Buret 50 mL dan statif
  • Pipet volumetrik 25 mL
  • Erlenmeyer 250 mL
  • Larutan NaOH 0,1 M
  • Cuka dapur dan indikator fenolftalein
  • Labu ukur dan kacamata pelindung

Langkah.

  1. Bentuk kelompok beranggotakan 4–5 siswa dan gunakan kacamata pelindung.
  2. Encerkan cuka dapur 10 kali, lalu pipet 25 mL larutan encer tersebut ke dalam erlenmeyer.
  3. Tambahkan 3 tetes indikator fenolftalein ke dalam erlenmeyer.
  4. Isi buret dengan larutan NaOH 0,1 M hingga skala nol dan pastikan tidak ada gelembung udara.
  5. Teteskan NaOH perlahan sambil erlenmeyer digoyang, hentikan tepat saat larutan berubah menjadi merah muda yang tidak hilang dalam 30 detik.
  6. Catat volume NaOH yang terpakai, ulangi titrasi tiga kali, lalu hitung konsentrasi asam asetat menggunakan $M_1V_1 = M_2V_2$.

Pertanyaan.

  1. Berapa konsentrasi asam asetat dalam cuka dapur berdasarkan hasil titrasi Anda?
  2. Mengapa fenolftalein dipilih sebagai indikator, bukan metil jingga?
  3. Jelaskan perbedaan antara titik akhir titrasi dan titik ekuivalen berdasarkan percobaan ini.

Gratis — tolong sebarkan

Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.

Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya →