Fitri Learning

BelajarSejarah SMA Kelas 11Bab 2

Perlawanan terhadap Penjajahan Bangsa Eropa sampai Awal Abad XX

Sejarah SMA Kelas 11 · Bab 2: Melacak Jejak Perjuangan Indonesia Melawan Kolonialisme Eropa hingga Abad XX

Indonesia sebagai kawasan kaya rempah menjadi incaran bangsa Eropa sejak abad ke-16. Meski menghadapi kekuatan militer dan teknologi yang lebih canggih, semangat perlawanan dari berbagai kerajaan tetap berkobar, mulai dari pertempuran fisik hingga strategi diplomasi.

Perlawanan terhadap Bangsa Portugis

Setelah menguasai Malaka (1511), dominasi Portugis menimbulkan konflik dengan Ternate, Demak, dan Aceh.

  • Perlawanan dari Kesultanan Ternate: Sultan Hairun tewas akibat tipu muslihat Portugis (1570); dilanjutkan putranya, Sultan Baabullah, yang berhasil mengusir Portugis dari Maluku pada 1575.
  • Perlawanan dari Kesultanan Demak: Fatahillah merebut Sunda Kelapa dari Portugis pada 22 Juni 1527, melahirkan nama baru Jayakarta ("kemenangan yang gemilang").
  • Perlawanan dari Kesultanan Aceh: Sultan Ali Mughayat Syah (1514–1528) mempertahankan Aceh; Sultan Alauddin Riayat Syah (1537–1568) menerima bantuan Turki Usmani, Persia, dan Gujarat; Sultan Iskandar Muda (1607–1636) melancarkan serangan besar ke Malaka.
Daftar Penguasa Aceh – commons.wikimedia.org
Daftar Penguasa Aceh – commons.wikimedia.org

Perlawanan terhadap Kolonialisme Belanda

Berbagai kerajaan menunjukkan perlawanan yang beragam terhadap VOC dan pemerintah Hindia Belanda.

  • Perlawanan Kesultanan Mataram: Sultan Agung berambisi mempersatukan Jawa dan mengusir VOC, menyerang Batavia pada 1628 dan 1629, namun keduanya gagal akibat kekurangan logistik dan pembumihangusan lumbung pangan oleh VOC.
  • Perlawanan Kesultanan Gowa (Makassar): Sultan Hasanuddin, "Ayam Jantan dari Timur", memimpin Perang Makassar (1666–1669); VOC menang setelah bersekutu dengan Arung Palakka dari Bone, berujung Perjanjian Bongaya (1667) yang memaksa Gowa membayar ganti rugi dan membuka wilayahnya bagi monopoli VOC.
  • Perlawanan Pattimura di Maluku (1817): Thomas Matulessy (Pattimura) merebut Benteng Duurstede di Saparua dengan taktik gerilya, dibantu Kapitan Paulus dan Christina Martha Tiahahu; ia ditangkap dan dihukum mati di Ambon.
  • Perlawanan Pangeran Diponegoro (Perang Jawa, 1825–1830): dipicu pembangunan jalan Belanda yang melewati makam leluhurnya; Belanda menerapkan strategi bentengstelsel dan akhirnya menangkap Diponegoro lewat tipu muslihat perundingan pada 1830; ia wafat dalam pengasingan di Makassar (1855).
  • Perlawanan Kesultanan Palembang: Sultan Mahmud Badaruddin II menolak tunduk pada Belanda; setelah digantikan Sultan Ahmad Najamuddin yang dianggap "boneka" Belanda, konflik internal dimanfaatkan Belanda untuk menaklukkan Palembang pada 1821.
  • Perang Padri (1821–1837) di Minangkabau: berawal dari konflik Kaum Padri (dipimpin Tuanku Imam Bonjol) melawan Kaum Adat, yang kemudian bersatu melawan Belanda; berakhir setelah Benteng Bonjol jatuh dan Imam Bonjol diasingkan hingga wafat pada 1864.
  • Perang Aceh (1873–1904): dilatarbelakangi Pax Neerlandica dan Traktat Sumatra (1871); Jenderal Kohler tewas dalam serangan pertama (1873); Belanda lalu menerapkan strategi C. Snouck Hurgronje yang membedakan ulama dan uleebalang, serta membentuk Pasukan Marsose.
  • Perlawanan Sisingamangaraja XII di Tapanuli: menentang misionaris dan kolonialisme lewat perang gerilya, gugur dalam pertempuran pada 1907.
  • Perlawanan Kerajaan-Kerajaan di Bali: dipicu Hak Tawan Karang; berujung Perang Jagaraga (1848–1849) yang dimenangkan Belanda setelah perlawanan sengit dari pasukan Bali.
  • Perlawanan Kesultanan Banjar: dipicu campur tangan Belanda dalam pengangkatan sultan; Pangeran Antasari memimpin penyerangan tambang batu bara Belanda di Pengaron (1859), perlawanan berlanjut hingga 1905.
Contoh soal

Soal. Pada 1527, Kesultanan Demak di bawah Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis. Apa alasan strategis utama Demak menyerang Portugis?

Jawaban. Memutus dominasi Portugis yang mengancam perdagangan saudagar Islam di Nusantara, sekaligus melindungi kepentingan ekonomi dan solidaritas terhadap pedagang Muslim.

Kegiatan

Kegiatan Kelompok 2: Poster Strategi Perlawanan di Berbagai Wilayah

Tujuan. Mengenali karakteristik perlawanan rakyat Indonesia dan menunjukkan perbedaan strategi perlawanan antarwilayah.

  • Bentuk kelompok 3–4 siswa, pilih dua tokoh perlawanan dari dua daerah berbeda (misal Diponegoro dan Pattimura).
  • Bandingkan bentuk perlawanan, karakteristik perjuangan, tantangan, dan hasil melalui poster perbandingan.
  • Gunakan elemen visual: tabel perbandingan, gambar tokoh, simbol perjuangan, dan kutipan inspiratif.
Fakta Unik di Balik Sejarah

Dalam Perang Tondano (1808–1809), masyarakat Minahasa membangun "Benteng Gantung" di tebing curam sekitar Danau Tondano untuk melancarkan serangan mendadak dari ketinggian. Benteng Moraya kini menjadi simbol sejarah perjuangan rakyat Minahasa.

Gratis — tolong sebarkan

Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.

Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya →