Fitri Learning

BelajarGeografi SMA Kelas 12Bab 2

Pengertian, Paradigma, Pendekatan, Dan Indikator Pembangunan

Geografi SMA Kelas 12 · Bab 2: Revolusi Industri dan Pembangunan Wilayah: Transformasi Ruang Bumi dan Kesejahteraan Manusia

Pengertian Pembangunan

Pembangunan adalah istilah yang menggambarkan keinginan negara untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Pembangunan menjadi keharusan bagi negara-negara yang merdeka setelah Perang Dunia II dalam memenuhi tuntutan rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan.

Menurut para ahli, Ginandjar Kartasasmita menyebut pembangunan sebagai proses perubahan menuju kondisi yang lebih baik melalui upaya terencana; Tikson menyebut pembangunan nasional sebagai transformasi ekonomi, sosial, dan budaya melalui kebijakan dan strategi terencana; sedangkan Suryono menyebutnya proses perubahan yang dilakukan secara sadar dan berkelanjutan untuk mencapai perbaikan hidup dan kemajuan.

Pembangunan tidak hanya meliputi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pertumbuhan di bidang politik, budaya, hukum, lingkungan, dan sosial. Menurut UU RI No. 25 Tahun 2004, pembangunan nasional adalah upaya oleh seluruh komponen bangsa untuk mencapai tujuan negara melalui proses perubahan. Unsur-unsur pembangunan meliputi perubahan (peralihan dari kondisi yang kurang baik menuju kesempurnaan), tujuan (pelestarian, kesejahteraan, dan kebahagiaan rakyat yang lebih baik), serta potensi (memanfaatkan sumber daya manusia dalam masyarakat untuk mendukung pelaksanaan pembangunan).

Paradigma dan Pendekatan Pembangunan

Paradigma pembangunan adalah cara pandang tentang masalah pembangunan yang digunakan dalam pelaksanaannya untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan. Ada dua paradigma utama dalam pembangunan:

Paradigma Top-Down

Proses pembangunan dilakukan secara sentralistik, dengan perencanaan dan pendanaan yang ditentukan dari atas tanpa melibatkan masyarakat secara aktif. Pendekatan ini berdasarkan analisis kebutuhan melalui survei dan penelitian, namun sering kali tidak sesuai dengan kondisi nyata masyarakat karena masyarakat berperan sebagai objek. Keuntungannya, pembangunan dapat berlangsung cepat dan sesuai rencana. Kekurangannya, masyarakat hanya sebagai penerima hasil pembangunan sehingga sering terjadi ketidakcocokan dengan kebutuhan lokal dan ketidakberhasilan program.

Paradigma Bottom-Up

Pendekatan ini melibatkan masyarakat dalam proses pembangunan, dimulai dari pengenalan masalah hingga pengambilan keputusan. Paradigma ini muncul sebagai reaksi dari pendekatan top-down dan berkembang pesat sejak 1990-an. Masyarakat dan pemerintah bekerja sama dengan masyarakat sebagai subjek aktif, sehingga membantu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi. Keunggulannya:

  • Masyarakat menentukan keputusan pembangunan, sehingga memiliki tanggung jawab lebih besar terhadap hasilnya.
  • Peran pemerintah pusat terbatas sebagai fasilitator dan motivator.
  • Penguatan institusi lokal yang dapat memecahkan masalah wilayah setempat.

Pendekatan Pembangunan

Pembangunan Berwawasan Kependudukan (Population Based Development)

Pembangunan Berwawasan Kependudukan (PBK) adalah pembangunan yang menempatkan penduduk sebagai fokus utama, baik sebagai subjek maupun objek, yang bertujuan meningkatkan kualitas penduduk untuk mencapai kesejahteraan. PBK memiliki dua makna: selaras dengan potensi penduduk (penduduk sebagai titik sentral pembangunan) dan pembangunan sumber daya manusia (menekankan peningkatan kualitas manusia daripada hanya membangun infrastruktur).

Latar belakang PBK meliputi laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, ketidakseimbangan kuantitas dan kualitas penduduk, sasaran pembangunan berupa kesejahteraan masyarakat baik fisik maupun nonfisik, permasalahan kependudukan yang kompleks, serta pemahaman bahwa kemajuan bangsa ditentukan oleh kualitas penduduk, bukan kekayaan sumber daya alam.

Tiga aspek pokok PBK adalah penduduk sebagai objek dan subjek pembangunan, pemberdayaan penduduk untuk partisipasi optimal, serta pembangunan berkelanjutan yang tidak dapat tercapai tanpa variabel penduduk. Lima dimensi PBK meliputi:

  • Partisipasi: penduduk sebagai pelaku pembangunan.
  • Keberlangsungan: inti dari pembangunan berkelanjutan.
  • Prorakyat: penduduk sebagai objek pembangunan.
  • Integrasi: data kependudukan sebagai dasar utama perencanaan.
  • Kesetaraan: mewujudkan kesetaraan gender dalam pembangunan.

Prinsip PBK adalah pendekatan hak asasi sebagai prinsip utama, keterlibatan semua pemangku kepentingan, penduduk sebagai subjek dan objek pembangunan, bagian dari pembangunan berkelanjutan, serta penyediaan data kependudukan yang valid dan reliabel. Tujuan PBK mencakup produktivitas (meningkatkan human capital melalui investasi manusia), pemerataan (kesempatan yang sama dalam akses sumber daya), kesinambungan (mencukupi kebutuhan sekarang dan masa depan), serta pemberdayaan (penduduk ikut serta dalam pengambilan keputusan).

Dampak PBK adalah menekan pertumbuhan penduduk dan memprioritaskan kesejahteraan sosial, serta mendorong lembaga pemerintah dan desa menyediakan layanan sosial, kesehatan, dan produktivitas masyarakat. Keuntungannya menekankan partisipasi masyarakat lokal (bottom-up planning), masyarakat menjadi pelaku sekaligus penikmat pembangunan, dan dampaknya lebih besar terhadap kesejahteraan dibandingkan pembangunan yang hanya berorientasi pertumbuhan. Implementasinya dilakukan dengan mengaktifkan program KB, peningkatan pelayanan, sosialisasi kebijakan pengendalian penduduk, dan pemberdayaan keluarga.

Studi Kasus — Desa Sumberjaya, Malang: implementasi program KB melalui advokasi, sosialisasi, dan pertemuan kelompok masyarakat. Namun, belum optimal karena keterbatasan sumber daya manusia, dana, dan sarana operasional.

Pembangunan Berwawasan Lingkungan (Environmental Based Development)

Pembangunan dan lingkungan saling memengaruhi. Pembangunan yang buruk menciptakan lingkungan yang tidak kondusif, dan lingkungan yang rusak menghambat pembangunan. Pembangunan Berwawasan Lingkungan (PBL) adalah pembangunan yang memperhatikan kondisi alam agar tetap lestari, dengan dua prinsip penting yakni kebutuhan pokok manusia (terutama masyarakat miskin) dan keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan kini dan masa depan.

Prinsip PBL adalah pembangunan dilakukan secara berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya alam secara rasional tanpa merusak lingkungan, serta negara harus merencanakan pembangunan yang terintegrasi dan sejalan dengan perlindungan lingkungan. Latar belakangnya adalah revolusi industri yang membawa kemajuan tetapi juga pencemaran dan kerusakan tanah, serta pembangunan besar-besaran yang merusak air, tanah, dan udara.

Tujuan PBL adalah menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung pembangunan berkelanjutan, meliputi penggunaan sumber daya yang efisien dan berkelanjutan, partisipasi masyarakat, keselarasan antara manusia dan lingkungan hidup, perlindungan kepentingan generasi sekarang dan mendatang, serta pengendalian pemanfaatan sumber daya secara bijak.

Ciri-ciri PBL mencakup pemerataan dan keadilan dalam distribusi lahan serta kesempatan ekonomi, penghargaan terhadap keanekaragaman hayati, pendekatan integratif antara manusia dan lingkungan, serta pandangan jangka panjang dalam perencanaan sumber daya. Empat prinsip utamanya adalah disesuaikan dengan skala ekoregion, pengembangan dan distribusi sumber daya yang adil secara sosial dan ekologis, pembentukan otoritas partisipatif di ekoregion, serta menyeimbangkan jumlah penduduk dengan sumber daya alam. Contoh implementasi: reboisasi, gerakan bersih lingkungan, dan penanaman pohon.

Studi Kasus — Summarecon Bekasi: kota ini mengutamakan kualitas udara dengan menanam hampir 9.000 pohon untuk mendukung kualitas hidup warganya.

Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)

Pembangunan Berkelanjutan adalah pembangunan yang berfokus pada keberlanjutan jangka panjang, menjaga keseimbangan sumber daya untuk generasi saat ini dan mendatang. Konsep ini muncul karena degradasi lingkungan akibat pembangunan yang tidak memperhatikan dampak jangka panjang, dan ditegaskan di Konferensi PBB Rio de Janeiro (1992) serta Laporan Brundtland (1987). Konsep ini berawal dari pengelolaan hutan di Eropa (abad 17-18) dan dikembangkan melalui Konferensi Stockholm (1972) dan Konferensi Rio (1992).

Prinsip pembangunan berkelanjutan meliputi hak manusia atas kehidupan layak dan produktif, kedaulatan negara atas sumber daya alam beserta kewajiban menjaga lingkungan, serta keadilan antargenerasi dengan melindungi lingkungan sebagai bagian dari proses pembangunan. Tujuannya menghasilkan tujuan global (SDGs) yang menggantikan MDGs dan mencakup 17 tujuan, termasuk mengakhiri kemiskinan, kesetaraan gender, dan penanggulangan perubahan iklim, didukung kesepakatan Paris (COP21) dan Sendai Framework.

Dampaknya meningkatkan ketahanan lingkungan dan kualitas hidup manusia, mengurangi pemborosan dan biaya, serta membantu menurunkan angka kematian dan meningkatkan kesejahteraan sosial. Namun, pembangunan yang cepat di beberapa negara memperburuk ketidaksetaraan sosial dan eksploitasi sumber daya. Implementasinya memadukan aspek ekonomi (sistem ekonomi ramah lingkungan), sosial (pemberdayaan masyarakat dalam pelestarian lingkungan), lingkungan (pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan), dan budaya (kreativitas, pengetahuan, dan warisan budaya sebagai modal pembangunan inklusif), serta memerlukan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan perdamaian sosial.

Pembangunan Berpusat pada Manusia (People-Centered Development)

Pembangunan ini menekankan pemberdayaan manusia, mengembangkan potensi ekonomi, rasa percaya diri, harga diri, serta melestarikan nilai budaya, dengan melibatkan masyarakat sebagai pusat baik sebagai subjek maupun objek. Latar belakangnya adalah respons terhadap model pembangunan berorientasi produksi yang mengabaikan kebutuhan masyarakat luas, dengan fokus pada pemberdayaan untuk mengatasi kemiskinan, ketidakberdayaan, dan keterbelakangan.

Ciri-cirinya menitikberatkan pada ekologi manusia, sumber daya kreatif yang tak terbatas, dan pertumbuhan manusia sebagai tujuan utama, dengan masyarakat sebagai subjek pembangunan yang menetapkan tujuan dan mengendalikan sumber daya. Tujuannya meningkatkan partisipasi masyarakat terutama kelompok rentan, mengurangi ketergantungan pada birokrasi, serta fokus pada pengentasan kemiskinan dan pemerataan keadilan. Implementasinya melalui Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM), seperti pengumpulan beras untuk lansia, serta contoh internasional berupa stasiun radio komunitas di Laos yang mendukung pendidikan, kesehatan, dan pertanian melalui UNDP.

Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan pembangunan penting diketahui sebagai tolok ukur kesuksesan. Beberapa indikator yang dapat digunakan adalah pertumbuhan ekonomi, pemerataan distribusi pendapatan, dan indeks kualitas hidup.

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dianggap sebagai indikator keberhasilan pembangunan. Negara yang pertumbuhan ekonominya meningkat dianggap berhasil melaksanakan pembangunan. Indikator ini sering dinyatakan dengan kenaikan Gross Domestic Product (GDP) dalam persentase tahunan, serta diukur melalui produktivitas masyarakat yang ditunjukkan melalui Gross National Product (GNP).

Perbedaannya, GDP adalah total pendapatan barang dan jasa yang dihasilkan dalam negeri termasuk oleh orang asing yang bekerja di dalam negara, sedangkan GNP adalah total pendapatan barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara termasuk yang bekerja di luar negeri. GDP atas dasar harga berlaku mengukur nilai tambah dengan harga tahun berjalan untuk meninjau struktur ekonomi, sedangkan harga konstan menggunakan harga tetap pada satu tahun untuk mengetahui pertumbuhan dari tahun ke tahun (Rustan, 2019).

Untuk membandingkan pertumbuhan ekonomi antarnegara digunakan income per kapita (GNP dibagi jumlah penduduk) yang menunjukkan pendapatan rata-rata per orang. Pendapatan per kapita menjadi indikator kesejahteraan, namun tidak menggambarkan pemerataan distribusi pendapatan dan akses terhadap sumber daya ekonomi. Kelemahan indikator ini adalah mengabaikan struktur umur penduduk, nilai tukar mata uang, distribusi pendapatan, dan kondisi sosial budaya.

Pemerataan Distribusi Pendapatan (Rasio Gini)

Rasio Gini adalah ukuran ketimpangan pendapatan yang berkisar dari 0 (pemerataan sempurna) hingga 1 (ketimpangan sempurna). Rasio di atas 0,5 menunjukkan ketimpangan yang buruk dan berpotensi menimbulkan masalah sosial (Todaro dalam Fuady, 2013). Ketimpangan terjadi saat jarak antara orang kaya dan miskin semakin lebar, yang dapat menyebabkan kesenjangan sosial, kecemburuan, dan kriminalitas. Karena itu, tujuan pembangunan bergeser dari hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi menjadi upaya mengurangi kemiskinan dan ketimpangan.

Distribusi pendapatan dibedakan menjadi distribusi personal (seberapa besar perbedaan pendapatan yang diterima setiap individu) dan distribusi fungsional (porsi pendapatan yang diterima tiap faktor produksi). Kurva Lorenz menggambarkan hubungan antara persentase penerima pendapatan dan persentase total pendapatan yang mereka terima, sedangkan koefisien Gini mengukur ketimpangan distribusi pendapatan.

Perkembangan Rasio Gini Indonesia Periode Maret 2019 – 2022 – bps.go.id
Perkembangan Rasio Gini Indonesia Periode Maret 2019 – 2022 – bps.go.id

Tabel Kriteria Ketimpangan Pendapatan

Nilai Koefisien GiniDistribusi Pendapatan
X = 0Merata Sempurna
0 < X < 0,4Tingkat Ketimpangan Rendah
0,4 < X < 0,5Tingkat Ketimpangan Sedang
0,5 < X < 1Tingkat Ketimpangan Tinggi
X = 1Tidak Merata Sempurna

Indeks Kualitas Hidup (IKH)

Indeks Kualitas Hidup (IKH) diperkenalkan oleh Morris D. Morris pada tahun 1979 sebagai alternatif untuk mengukur kinerja pembangunan suatu negara, karena ketidakpuasan terhadap GNP sebagai indikator tunggal. IKH mencerminkan berbagai aspek sosial, seperti kesehatan masyarakat, kualitas gizi, dan kesejahteraan lingkungan, dengan tiga aspek pengukuran: harapan hidup pada usia 1 tahun, tingkat kematian bayi, dan tingkat melek huruf.

Harapan hidup dan kematian bayi mencerminkan status gizi, kesehatan, serta lingkungan keluarga, sedangkan tingkat melek huruf mencerminkan akses pendidikan dan hasil pembangunan. Skala penilaiannya: angka kematian bayi terbaik 7 per 1.000 dan terburuk 229 per 1.000; harapan hidup setelah usia satu tahun terbaik 77 tahun dan terburuk 38 tahun; melek huruf dengan target ideal 100%; serta skala IKH 1-100 di mana 1 menunjukkan kondisi sangat buruk dan 100 sangat baik. Meskipun tidak selalu sama dengan GNP per kapita, negara dengan GNP tinggi biasanya memiliki IKH yang tinggi pula.

Dampak Pembangunan Wilayah terhadap Perubahan Ruang Muka Bumi

Perubahan Muka Bumi sebagai Dampak Pembangunan

Untuk memenuhi kebutuhan penduduk, pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, rel kereta, dan bendungan pasti melibatkan penebangan pohon dan penggalian lahan yang menyebabkan perubahan muka bumi. Pembangunan kawasan industri juga mengubah lahan pertanian menjadi kawasan industri. Contoh: Bendungan Sutami di Malang mengubah Sungai Brantas yang curam menjadi bendungan yang berfungsi untuk irigasi, pembangkit listrik, dan pariwisata.

Sejak 1970-an, Indonesia memperkenalkan strategi pewilayahan dan pusat pertumbuhan untuk mempercepat ekonomi. Pembangunan wilayah adalah proses multidimensi yang melibatkan reorganisasi sistem ekonomi dan sosial untuk masa depan yang lebih baik, mencakup pembangunan fisik (infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang langsung dirasakan masyarakat) dan nonfisik (upaya jangka panjang yang mendorong ekonomi, kesehatan, dan pendidikan masyarakat). Analisis Dampak Lingkungan (amdal) diterapkan untuk mencegah kerusakan akibat pembangunan infrastruktur.

Perubahan Muka Bumi sebagai Dampak Interaksi Antarruang

Interaksi antarruang merupakan konsep yang berasal dari Edward Ulman, yang berarti proses perpindahan dinamis antarwilayah, seperti manusia, barang, dan informasi. Transportasi darat, laut, dan udara mempercepat pergerakan manusia dan barang serta meningkatkan interaksi antarruang melalui jalan nasional, tol, pelabuhan, dan bandara. Contohnya, Jembatan Suramadu mengubah wilayah di sekitar Madura dari area pertanian menjadi pusat perdagangan, sementara Tol Trans-Jawa, Jabodetabek, dan Trans-Sumatra juga memicu perubahan lahan akibat meningkatnya aktivitas ekonomi.

Peningkatan transportasi memperluas pasar, mendorong ekspansi ekonomi dan spesialisasi industri, serta membentuk kawasan metropolitan. Dampak pembangunan infrastruktur meliputi:

  • Pembebasan lahan: mengurangi lahan untuk keperluan lain dan berpotensi merusak lingkungan.
  • Fragmentasi habitat: memisahkan ekosistem alami yang mengganggu kehidupan satwa dan tumbuhan.
  • Perubahan penggunaan lahan: meningkatkan urbanisasi dan mengubah fungsi lahan, mempengaruhi produktivitas serta keseimbangan ekosistem.
  • Perubahan iklim: emisi dari transportasi dapat memperburuk perubahan iklim.

Perubahan Muka Bumi sebagai Dampak Bencana

Perubahan muka bumi dipengaruhi oleh faktor alam, seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan longsor, serta faktor manusia, seperti pembangunan tidak terencana dan eksploitasi sumber daya. Indonesia berisiko tinggi bencana, dengan 317 daerah rawan banjir, 127 gunung berapi aktif, dan 3 lempeng aktif, sehingga pengurangan risiko bencana menjadi prioritas pembangunan. Penanggulangan bencana dilakukan melalui sistem peringatan dini, pemetaan risiko, dan prioritas wilayah rawan bencana. IMDFF-DR (Indonesia Multi Donor Fund Facility for Disaster Recovery) mendukung pemulihan masyarakat, ekonomi daerah, dan rekonstruksi pascabencana sejak 2009.

Dalam RPJMN 2015-2019, sasaran nasional adalah menurunkan indeks risiko bencana di pusat pertumbuhan berisiko tinggi, sedangkan RPJMN 2020-2024 memprioritaskan ketahanan bencana dan perubahan iklim dalam pembangunan.

Contoh soal

Soal. Jelaskan perbedaan utama antara paradigma pembangunan Top-Down dan Bottom-Up, serta sebutkan kelebihan dari pendekatan pembangunan berwawasan kependudukan (PBK)!

Jawaban. Paradigma Top-Down adalah pembangunan yang dirancang pemerintah pusat tanpa keterlibatan langsung masyarakat. Sebaliknya, paradigma Bottom-Up melibatkan masyarakat aktif sejak perencanaan hingga pelaksanaan.,Kelebihan PBK:,-Penduduk sebagai subjek dan objek pembangunan,-Masyarakat aktif terlibat,-Fokus pada kualitas SDM,-Hasil lebih merata dan berkelanjutan

Pembahasan. Top-Down cenderung cepat tapi kurang sesuai kebutuhan lokal. Bottom-Up lebih partisipatif dan adaptif. PBK unggul karena menekankan pembangunan manusia dan memperhatikan aspek demografi dalam mewujudkan kesejahteraan jangka panjang.

Peta Penentu Pembangunan

Gratis — tolong sebarkan

Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.

Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya →