Fitri Learning

BelajarBiologi SMA Kelas 10Bab 5

Pengendalian Limbah

Biologi SMA Kelas 10 · Bab 5: Perubahan dan Pelestarian Lingkungan Hidup

Limbah adalah sisa dari suatu proses produksi atau konsumsi yang tidak lagi digunakan dan dibuang ke lingkungan. Limbah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan pencemaran dan kerusakan ekosistem. Penanganan limbah terbagi berdasarkan jenisnya, yaitu limbah cair, padat, gas, dan bahan berbahaya dan beracun (B3).

Pengendalian Limbah Cair

Cara Pengolahan Limbah Cair Domestik — researchgate.net
Cara Pengolahan Limbah Cair Domestik — researchgate.net

Sistem Penanganan Limbah Cair Domestik

  • Cubluk: cara sederhana yang umumnya digunakan di pedesaan, limbah cair disalurkan ke lubang penampungan dalam tanah untuk disaring dan diserap tanah.
  • Tangki septik konvensional: limbah cair terendap dalam tangki, bahan padat terurai oleh bakteri pengurai, dan air yang lebih bersih disalurkan ke tanah.
  • Tangki septik biofilter: dilengkapi lapisan filter biologis yang menyaring lebih banyak bahan pencemar sehingga air yang dihasilkan lebih bersih.
  • Instalasi pengolahan limbah cair domestik: sistem terpusat yang lebih besar dengan proses fisik, kimia, dan biologis untuk menghilangkan kontaminan.

Sistem Penanganan Limbah Cair Industri

Cara Pengolahan Limbah Cair Industri — lordbroken.wp.com
Cara Pengolahan Limbah Cair Industri — lordbroken.wp.com
  • Penanganan sistem setempat: dipakai industri kecil, limbah cair diproses langsung di lokasi dengan filter atau kolam pengendapan.
  • Penanganan sistem terpusat: untuk industri besar, limbah diproses di fasilitas terpusat dengan filtrasi, pengendapan, dan pemurnian kimiawi.

Pengendalian Limbah Padat

Langkah pertama adalah mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan dengan prinsip 3R: Reduce (mengurangi jumlah sampah dengan membeli barang lebih sedikit atau lebih tahan lama), Reuse (menggunakan kembali barang seperti botol kaca atau kardus), dan Recycle (mendaur ulang plastik, kertas, dan logam menjadi barang baru).

  • Penimbunan tanah: sampah ditimbun di tempat pembuangan akhir (TPA), namun tidak menyelesaikan masalah jangka panjang karena tanah bisa tercemar.
  • Penimbunan berlapis dengan tanah: mengurangi bau dan pembusukan, tetapi masih berdampak besar bagi lingkungan.
  • Pembakaran: mengurangi volume sampah secara signifikan, namun jika tidak dilakukan dengan benar menyebabkan polusi udara dan pelepasan dioksin.
  • Penghancuran: sampah organik dihancurkan menjadi lebih kecil untuk memudahkan pengelolaan atau dipakai sebagai pakan ternak dan pupuk.
  • Pengomposan: limbah organik seperti daun, ranting, dan sisa makanan diolah menjadi kompos yang berguna untuk pertanian.
  • Pemanfaatan sebagai makanan ternak: mengurangi sampah sekaligus memberikan manfaat ekonomi dalam peternakan.

Pengendalian Limbah Gas

  • Filter udara: menangkap partikel kecil seperti debu, asap, dan gas berbahaya, umumnya dipakai di industri berlimbah gas besar.
  • Filter siklon: memanfaatkan gaya sentrifugal untuk memisahkan partikel padat dari udara.
  • Filter basah: menggunakan air untuk menyerap gas berbahaya, terutama gas-gas asam.
  • Pengendap sistem gravitasi: memisahkan partikel padat berukuran besar seperti debu atau asap industri.
  • Pengendap elektrostatik: menggunakan muatan listrik untuk menarik partikel halus dalam gas.

Pengendalian Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

  • Limbah B3 dari kegiatan industri: limbah kimia, logam berat, dan produk sampingan produksi yang memerlukan sistem pengolahan khusus.
  • Limbah B3 dari kegiatan rumah sakit: jarum suntik bekas, bahan kimia farmasi, dan limbah infeksius yang harus dikelola sangat hati-hati.
  • Limbah B3 dari kegiatan rumah tangga: baterai bekas, lampu neon, dan bahan kimia pembersih yang harus diproses dengan benar.
  • Limbah B3 dari kegiatan pertanian: pestisida dan herbisida berlebihan yang mencemari tanah dan air.
Kegiatan Praktikum

Pembuatan Kompos dari Limbah Organik Rumah Tangga

Tujuan. Mengolah limbah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos, mengidentifikasi jenis limbah organik dan dampaknya terhadap pencemaran lingkungan, serta menerapkan solusi pengelolaan limbah ramah lingkungan.

Bahan.

  • Ember plastik atau wadah bekas (volume ±10–20 liter)
  • Sekop kecil atau sendok semen
  • Sisa sayuran, kulit buah, daun kering, rumput
  • Gula merah ±¼ kg
  • EM4 (larutan bakteri pengurai) ±200 mL
  • Air matang secukupnya
  • Kain penutup atau tutup ember
  • Pisau/cutter untuk mencacah sampah

Langkah.

  1. Cacah bahan organik (kulit buah, daun, sayuran) menjadi ukuran kecil sekitar 1–2 cm.
  2. Masukkan bahan-bahan ke dalam ember secara bertahap, mulai dari lapisan daun kering, lalu sisa makanan, dan seterusnya.
  3. Larutkan gula merah dalam air hangat, dinginkan, lalu tambahkan EM4 ke dalam larutan tersebut.
  4. Siram larutan EM4 ke seluruh bahan kompos dalam ember.
  5. Aduk campuran kompos setiap 1–2 hari sekali untuk menjaga sirkulasi udara dan mencegah pembusukan anaerob.
  6. Tutup ember dengan kain agar tidak terkena sinar matahari langsung namun tetap mendapat udara.
  7. Setelah ±15–21 hari, periksa hasil kompos: warna kehitaman, bau seperti tanah, dan tekstur gembur menandakan kompos siap digunakan.

Pertanyaan.

  1. Jangan tambahkan bahan anorganik seperti plastik, logam, atau kaca.
  2. Hindari sisa makanan berminyak atau tulang hewan karena dapat menghambat proses pengomposan.
  3. Bandingkan hasil kompos yang kamu buat dengan hasil kelompok lain di sekolah.

Gratis — tolong sebarkan

Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.

Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya →