Fitri Learning

BelajarGeografi SMA Kelas 10Bab 5

Ciri-Ciri Iklim di Indonesia dan Dampaknya

Geografi SMA Kelas 10 · Bab 5: Atmosfer

Sistem Iklim yang Berlaku di Indonesia

Iklim Berdasarkan Letak Astronomis

Letak astronomis Indonesia berada di antara 6° LU – 11° LS dan 95° BT – 141° BT, yang membuatnya beriklim tropis. Berdasarkan letak astronomisnya, Indonesia memiliki tiga tipe iklim utama, yaitu:

  • Iklim Musim: dipengaruhi angin monsun yang berubah arah setiap enam bulan.
  • Iklim Laut: dipengaruhi kondisi kepulauan Indonesia yang dikelilingi lautan.
  • Iklim Panas: dipengaruhi letak Indonesia di daerah tropis.

Ketiga jenis iklim ini menyebabkan curah hujan tinggi, sekitar 2.500 mm per tahun. Dengan curah hujan besar dan penyinaran matahari yang cukup, tanah di Indonesia selalu cukup air sehingga cocok untuk pertanian.

Peta Sebaran Curah Hujan Jawa Timur Tahun 2022 – staklim-jatim.bmkg.go.id
Peta Sebaran Curah Hujan Jawa Timur Tahun 2022 – staklim-jatim.bmkg.go.id

Iklim Berdasarkan Letak Geografis

Iklim Indonesia juga dipengaruhi letak geografisnya di antara dua samudra dan berbentuk kepulauan tropis:

  • Musim Hujan di Indonesia (Oktober–April): disebabkan angin monsun barat yang bertiup dari Samudra Hindia dan membawa uap air.
  • Musim Kemarau di Indonesia (April–Oktober): disebabkan angin monsun timur yang bertiup dari Australia dan bersifat kering.

Kaitan Antara Jenis Iklim dan Bentuk Ekosistem di Indonesia

Hubungan Iklim dengan Ekosistem

Setiap tipe iklim mendukung ekosistem tertentu, seperti:

Hutan Tropis: curah hujan tinggi sepanjang tahun (lebih dari 2.000 mm/tahun), suhu hangat, kelembapan >80%, vegetasi sangat lebat dengan pohon tinggi 30–50 meter. Tersebar di Sumatra, Kalimantan, Papua. Contoh: pohon jati, mahoni, meranti, dan palem.

Hutan Musim: berada di wilayah dengan musim hujan dan kemarau yang jelas; daun pohon meranggas saat kemarau. Tersebar di Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat. Contoh: pohon jati, akasia.

Sabana: padang rumput luas dengan beberapa pohon tersebar, curah hujan lebih rendah dibanding hutan tropis. Tersebar di Nusa Tenggara Timur dan beberapa bagian Jawa Timur. Contoh: rumput liar, pohon lontar, akasia.

Stepa: daerah kering dengan curah hujan kurang dari 1.000 mm/tahun, hampir tidak ada pohon besar. Tersebar di Nusa Tenggara Timur. Contoh: rumput alang-alang, perdu, kaktus.

Tipe Vegetasi Berdasarkan Kelembapan Menurut C. Hart Merriam

C. Hart Merriam mengklasifikasikan vegetasi berdasarkan tingkat kelembapan dan suhu menjadi enam komunitas tumbuhan utama:

Padang Rumput (Grassland): curah hujan 250 – 750 mm/tahun, didominasi rumput tinggi dengan sedikit pohon tahan kekeringan dan akar panjang. Contoh: sabana di Afrika dan Nusa Tenggara Timur, stepa di Mongolia dan Rusia.

Gurun (Desert): curah hujan <250 mm/tahun dengan suhu ekstrem; tumbuhan beradaptasi dengan daun kecil atau duri dan akar panjang. Contoh: Gurun Sahara, Atacama, Gobi, serta wilayah semi-gurun di Nusa Tenggara Timur (Pulau Sumba).

Hutan Basah (Rainforest): curah hujan >2.000 mm/tahun, kelembapan >80%, suhu 25 – 30°C; tumbuhan berlapis-lapis dengan pohon tinggi 30–50 meter dan daun lebar hijau sepanjang tahun. Contoh: hutan hujan tropis Indonesia, Amazon, Kongo.

Hutan Gugur (Deciduous Forest): curah hujan 750 – 1.500 mm/tahun dengan empat musim; pohon menggugurkan daun saat musim dingin. Contoh: Amerika Utara bagian timur, Eropa Barat, Tiongkok bagian timur.

Tundra: suhu sangat dingin sepanjang tahun (-40°C hingga 10°C) dengan permafrost; hanya ditumbuhi lumut dan semak kecil. Contoh: Kutub Utara, Alaska, Siberia, Greenland.

Taiga (Hutan Boreal): musim dingin panjang hingga -50°C dan musim panas singkat 10 – 20°C; didominasi pohon konifer berdaun jarum. Contoh: Kanada, Rusia, Skandinavia.

Dampak Cuaca dan Iklim terhadap Berbagai Aspek Kehidupan

Aspek Pariwisata: Wisata pantai lebih ramai pada musim kemarau, sedangkan wisata alam pegunungan lebih stabil sepanjang tahun. Cuaca buruk dapat menyebabkan penutupan tempat wisata tertentu.

Aspek Transportasi: Curah hujan tinggi dapat menyebabkan banjir dan longsor yang mengganggu transportasi darat; pelayaran dan penerbangan dipengaruhi angin kencang dan gelombang tinggi.

Aspek Industri: Beberapa industri bergantung pada iklim, seperti pertanian dan perikanan. Industri tekstil dan makanan perlu menyesuaikan kondisi kelembapan untuk menjaga kualitas produk.

Aspek Sosial dan Budaya: Pola permukiman dan mata pencaharian masyarakat bergantung pada iklim; masyarakat pesisir cenderung menjadi nelayan, masyarakat pegunungan lebih banyak bertani.

Aspek Pertanian: Iklim muson mempengaruhi pola tanam padi, jagung, dan tanaman lain; petani menyesuaikan musim tanam dengan musim hujan dan kemarau.

Aspek Telekomunikasi: Cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan badai dapat mengganggu sinyal komunikasi dan infrastruktur telekomunikasi.

Contoh soal

Soal. Mengapa masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) lebih banyak mengembangkan peternakan dibandingkan pertanian? Jelaskan kaitannya dengan karakteristik iklim di wilayah tersebut!

Jawaban. NTT memiliki iklim sabana (Aw – Tropis Sabana) dengan musim kemarau panjang dan curah hujan rendah, sehingga sulit bercocok tanam secara intensif. Oleh karena itu, masyarakat lebih banyak mengembangkan peternakan sapi dan kuda karena hewan-hewan ini lebih tahan terhadap kondisi kering dibandingkan tanaman pangan.

Gratis — tolong sebarkan

Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.

Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya →