Sistem Klasifikasi: Iklim Matahari
Klasifikasi iklim matahari didasarkan pada jumlah energi matahari yang diterima suatu wilayah, dengan faktor utama sudut datangnya sinar matahari dan letak garis lintang. Iklim dibagi menjadi empat jenis:
Iklim Tropis
Terletak di antara 0° – 23,5° LU/LS (daerah khatulistiwa). Ciri utama: suhu udara tinggi sepanjang tahun, kelembapan tinggi, dan curah hujan tinggi, dengan dua musim utama (hujan dan kemarau). Contoh: Indonesia, Brasil, dan sebagian besar negara di Afrika Tengah.
Iklim Subtropis
Terletak di antara 23,5° – 40° LU/LS. Memiliki empat musim (semi, panas, gugur, dingin) dengan variasi suhu lebih besar dan curah hujan lebih rendah dibanding tropis. Contoh: Jepang, Korea Selatan, sebagian Amerika Serikat, dan Argentina bagian selatan.
Iklim Sedang
Terletak di antara 40° – 66,5° LU/LS. Perbedaan suhu antara musim panas dan dingin sangat signifikan, curah hujan sedang, serta terdapat angin barat yang berpengaruh pada dinamika cuaca. Contoh: Eropa Barat, sebagian besar Amerika Serikat, dan China bagian utara.
Iklim Dingin
Terletak di antara 66,5° – 90° LU/LS (kutub utara dan selatan). Matahari bersinar sangat panjang di musim panas dan tidak terbit di musim dingin. Terdiri atas dua jenis:
Iklim Tundra: sekitar kutub (Kanada utara, Siberia, Greenland), suhu sangat dingin sepanjang tahun tetapi lebih hangat dari iklim es; vegetasi lumut dan tanaman berdaun kecil tahan dingin.
Iklim Es: kutub utara dan Antartika, suhu sangat ekstrem dengan es menutupi permukaan sepanjang tahun; hampir tidak ada kehidupan tumbuhan.
Sistem Klasifikasi: Iklim Fisis
Klasifikasi iklim fisis didasarkan pada kondisi geografis dan pengaruh bentang alam terhadap iklim suatu wilayah.
Iklim Laut
Terjadi di wilayah dekat lautan. Suhu udara lebih stabil karena air laut menyerap dan melepaskan panas secara perlahan; kelembapan tinggi sehingga curah hujan cenderung besar. Contoh: pesisir barat Eropa, Jepang, dan pesisir Australia timur.
Iklim Darat
Terjadi di daerah jauh dari pengaruh laut, terutama pedalaman benua. Suhu sangat ekstrem (panas di siang hari, sangat dingin di malam hari) dan curah hujan rendah. Contoh: Gurun Gobi, Kazakhstan, Mongolia, dan bagian tengah Amerika Utara.
Iklim Gunung
Terjadi di daerah dengan ketinggian lebih dari 600 mdpl. Suhu udara semakin dingin seiring bertambahnya ketinggian dan hujan orografis sering terjadi. Contoh: Pegunungan Himalaya, Alpen, dan Andes.
Iklim Musim
Dipengaruhi perubahan arah angin muson yang bertiup bergantian setiap enam bulan, dengan musim hujan (angin muson barat dari Samudra Hindia membawa uap air) dan musim kemarau (angin muson timur dari Australia membawa udara kering).
Sistem Klasifikasi: Iklim Koppen
Sistem klasifikasi iklim Köppen dikembangkan oleh Wladimir Köppen, klimatolog Jerman, untuk mengelompokkan iklim berdasarkan pola temperatur dan curah hujan serta hubungannya dengan vegetasi alami. Iklim Köppen dibagi menjadi lima kelompok utama dengan subkategori berdasarkan kelembapan dan suhu.
Iklim A (Iklim Tropis)
Terletak di 0° – 23,5° LU/LS dengan suhu rata-rata bulanan selalu di atas 18°C dan curah hujan tinggi. Vegetasi: hutan hujan tropis, hutan monsun, dan sabana basah. Subkategorinya:
- Af (Tropis Hujan / Hutan Hujan Tropis): hujan sepanjang tahun tanpa musim kering (Amazon, Indonesia, Malaysia).
- Am (Tropis Monsun): curah hujan tinggi dengan musim kering singkat (India bagian selatan, Myanmar).
- Aw (Tropis Sabana): musim kemarau lebih panjang dibanding musim hujan (Afrika bagian tengah, Brasil bagian timur).
Iklim B (Iklim Arid atau Kering)
Curah hujan lebih rendah dibanding evaporasi, terdapat di subtropis atau pedalaman benua. Vegetasi: padang rumput kering dan gurun. Subkategorinya:
- Bs (Steppe – Semi Kering): curah hujan sedikit tetapi masih mendukung vegetasi padang rumput (Stepa Mongolia, Great Plains di AS).
- Bw (Gurun – Sangat Kering): curah hujan sangat rendah dengan suhu ekstrem (Gurun Sahara, Gurun Atacama).
Iklim C (Iklim Sedang Hangat – Mesothermal)
Terletak di lintang menengah (23,5° – 40° LU/LS) dengan suhu bulan terdingin antara -3°C hingga 18°C. Vegetasi: hutan gugur dan hutan campuran. Subkategorinya:
- Cf (Hujan Sepanjang Tahun): curah hujan merata, tidak ada musim kemarau (Eropa Barat, Jepang bagian selatan).
- Cw (Musim Kemarau di Musim Dingin): musim panas basah, musim dingin kering (Tiongkok bagian selatan, sebagian Brasil).
- Cs (Mediterania): musim panas kering, musim dingin lembap (California, Italia, Spanyol).
Iklim D (Iklim Salju – Microthermal)
Terletak di lintang tinggi (40° – 66,5° LU/LS), suhu bulan terdingin di bawah -3°C dan bulan terpanas di atas 10°C. Vegetasi: taiga (hutan konifer). Subkategorinya:
- Df (Hujan Sepanjang Tahun): tidak ada musim kering, suhu musim dingin ekstrem (Rusia bagian tengah, Kanada utara).
- Dw (Musim Kemarau di Musim Dingin): musim dingin sangat dingin dan kering, musim panas lebih basah (Siberia, Korea Utara).
Iklim E (Iklim Es atau Salju Abadi – Polar)
Terletak di daerah kutub (66,5° – 90° LU/LS) dengan suhu rata-rata bulan terpanas di bawah 10°C. Vegetasi terbatas, terutama lumut dan ganggang. Subkategorinya:
- Et (Tundra): suhu musim panas antara 0°C – 10°C, ada musim semi singkat (Kanada utara, Islandia).
- Ef (Es – Tidak Ada Musim Panas): suhu selalu di bawah 0°C, permukaan tertutup es dan salju (Antartika, Greenland).
- Eh (Highland – Iklim Pegunungan): di pegunungan tinggi dengan karakteristik mirip tundra atau es (Pegunungan Himalaya, Andes).
Sistem Klasifikasi: Iklim Schmidt-Ferguson
Iklim Schmidt-Ferguson dikembangkan oleh J. Schmidt dan C. Ferguson berdasarkan perbandingan jumlah bulan kering dan bulan basah dalam satu tahun. Bulan basah memiliki curah hujan lebih dari 100 mm, sedangkan bulan kering kurang dari 60 mm.
Rumus Perhitungan Nilai Q
Q = (Md : Mw) × 100%, di mana Q adalah persentase perbandingan rata-rata bulan kering dan bulan basah, Md adalah rata-rata bulan kering (jumlah bulan kering dibagi jumlah tahun pengamatan), dan Mw adalah rata-rata bulan basah (jumlah bulan basah dibagi jumlah tahun pengamatan).
Klasifikasi Iklim Berdasarkan Nilai Q
Tabel Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson
| Tipe Iklim | Nilai Q | Keterangan |
|---|---|---|
| A | 0 – 14,3 | Sangat Basah |
| B | 14,3 – 33,3 | Basah |
| C | 33,3 – 60,0 | Agak Basah |
| D | 60,0 – 100,0 | Sedang |
| E | 100,0 – 167,0 | Agak Kering |
| F | 167,0 – 300,0 | Kering |
| G | 300,0 – 700,0 | Sangat Kering |
| H | > 700,0 | Ekstrem Kering |
- Tipe A: iklim sangat basah dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun (contoh: hutan hujan tropis).
- Tipe B: iklim basah dengan musim kemarau singkat (contoh: daerah tropis dengan hujan musiman).
- Tipe C: iklim agak basah dengan variasi musim yang cukup seimbang.
- Tipe D: iklim sedang dengan musim kemarau dan hujan yang relatif seimbang.
- Tipe E: iklim agak kering dengan musim kemarau yang lebih panjang.
- Tipe F: iklim kering dengan jumlah bulan basah yang sangat sedikit.
- Tipe G: iklim sangat kering seperti daerah stepa dan semi-gurun.
- Tipe H: iklim ekstrem kering seperti gurun pasir dengan hampir tidak ada curah hujan.
Grafik Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson
Grafik hubungan jumlah bulan basah (sumbu X) dan bulan kering (sumbu Y) digunakan untuk menentukan tipe iklim melalui nilai Q. Semakin banyak bulan basah, semakin rendah nilai Q (iklim lebih basah, Tipe A atau B); semakin banyak bulan kering, semakin tinggi nilai Q (iklim lebih kering, Tipe F, G, atau H). Transisi warna dari biru ke merah menunjukkan perubahan dari iklim sangat basah ke iklim ekstrem kering.
Sistem Klasifikasi: Iklim Oldeman
Klasifikasi iklim menurut Oldeman didasarkan pada zona agroklimat, yaitu hubungan antara iklim dan pertanian. Sistem ini dikembangkan L.R. Oldeman untuk menentukan pola tanam optimal berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering.
Tabel Tipe Utama Zona Agroklimat Oldeman
| Tipe Utama | Bulan Basah Berturut-turut | Keterangan |
|---|---|---|
| A | > 9 | Sangat basah, cocok untuk pertanian sepanjang tahun |
| B | 7 – 9 Bulan | Basah, mendukung tanaman pangan dan perkebunan |
| C | 5 – 6 Bulan | Cukup basah, cocok untuk tanaman yang tahan kemarau pendek |
| D | 3 – 4 Bulan | Agak kering, hanya cocok untuk pertanian dengan sistem irigasi |
| E | < 3 Bulan | Sangat kering, cocok untuk peternakan dan tanaman tahan kekeringan |
Tabel Subdivisi Zona Agroklimat Oldeman
| Subdivisi | Bulan Kering Berturut-turut | Keterangan |
|---|---|---|
| 1 | 0 – 1 Bulan | Curah hujan hampir merata sepanjang tahun |
| 2 | 2 – 3 Bulan | Memiliki musim kemarau yang singkat |
| 3 | 4 – 6 Bulan | Memiliki musim kemarau sedang, cocok untuk tanaman kering |
| 4 | > 6 Bulan | Musim kemarau panjang, membutuhkan irigasi atau tanaman tahan kering |
Tabel Klasifikasi Iklim Oldeman
| Tipe | Keterangan |
|---|---|
| A1 | Zona pertanian sangat basah dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun |
| A2 | Zona pertanian basah dengan musim kemarau sangat pendek |
| B1 | Zona pertanian cukup basah dengan musim kemarau singkat |
| B2 | Zona pertanian sedang dengan musim kemarau agak panjang |
| C1 | Zona pertanian kering dengan musim kemarau yang lebih lama |
| C2 | Zona pertanian semi-kering dengan curah hujan terbatas |
| C3 | Zona pertanian marginal dengan curah hujan rendah |
| C4 | Zona pertanian yang hampir kering dengan curah hujan sangat terbatas |
| D1 | Zona pertanian kritis dengan curah hujan minim |
| D2 | Zona pertanian sangat kritis dengan musim kemarau panjang |
| D3 | Zona pertanian hampir tidak layak untuk pertanian karena sangat kering |
| D4 | Zona pertanian ekstrem kering, lebih cocok untuk peternakan ekstensif |
| E | Zona tidak cocok untuk pertanian karena curah hujan sangat sedikit |
Sistem Klasifikasi: Iklim Junghuhn
Klasifikasi iklim Junghuhn dikembangkan oleh Franz Wilhelm Junghuhn, ahli botani dan geografi asal Jerman, berdasarkan ketinggian tempat di atas permukaan laut (mdpl) dan hubungannya dengan suhu serta jenis vegetasi.
Tabel Klasifikasi Junghuhn
| Zona Iklim | Ketinggian (mdpl) | Suhu Rata-Rata | Vegetasi Dominan | Contoh Wilayah |
|---|---|---|---|---|
| Daerah Panas | 0 – 600 | > 22°C | Kelapa, tebu, padi, pisang | Dataran rendah pantai, Sumatera, Jawa, Kalimantan |
| Daerah Sedang | 600 – 1.500 | 17 – 22°C | Kopi, cengkeh, tembakau, teh | Pegunungan menengah, Bandung, Malang |
| Daerah Dingin | 1.500 – 2.500 | 11 – 17°C | Pinus, kina, sayuran | Pegunungan tinggi, Dieng, Bromo |
| Daerah Sangat Dingin | 2.500 – 3.500 | 6 – 11°C | Lumut, perdu pegunungan | Gunung Semeru, Rinjani, Puncak Jayawijaya |
| Daerah Salju | > 3.500 | < 6°C | Tidak ada vegetasi, es abadi | Puncak Jayawijaya (Papua) |
Soal. Wilayah yang memiliki curah hujan tinggi sepanjang tahun dengan suhu rata-rata di atas 25°C masuk dalam kategori iklim Köppen…
Jawaban. Af (Tropis Hutan Hujan). Iklim Af memiliki curah hujan di atas 2000 mm/tahun dengan kelembapan tinggi dan suhu stabil sepanjang tahun.
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp