Masuknya Hindu-Buddha membawa perubahan besar dalam sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan budaya Nusantara, melahirkan sejumlah kerajaan yang meninggalkan jejak berupa prasasti, candi, dan peninggalan sejarah lainnya.
Kerajaan Salakanagara: Jejak Awal Hindu di Nusantara
Diyakini sebagai kerajaan tertua di Nusantara, disebut dalam Naskah Wangsakerta, berlokasi di Teluk Lada, Pandeglang, Banten. Raja pertamanya, Dewawarman, berasal dari India dan menikahi putri setempat. Peninggalan terkait: kompleks Candi Batujaya di Karawang. Mengalami kemunduran sekitar 362 M, digantikan Kerajaan Tarumanagara.
Kerajaan Kutai: Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara
Berdiri sekitar abad ke-4 M di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, dibuktikan lewat Prasasti Yupa beraksara Pallawa. Raja terkenal, Mulawarman, dikenal dermawan — memberikan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana. Mengalami kemunduran setelah masuknya Islam, digantikan Kesultanan Kutai Kartanegara pada abad ke-16.
Kerajaan Tarumanagara: Kejayaan Hindu di Jawa Barat
Berkembang pesat di Jawa Barat (Bogor, Jakarta, Banten) pada abad ke-5 M, dibuktikan tujuh prasasti termasuk Prasasti Tugu (kanal Sungai Gomati 11 km) dan Prasasti Ciaruteun (cap kaki Raja Purnawarman). Raja Purnawarman membangun irigasi untuk pertanian. Setelah kejayaannya, digantikan Kerajaan Sunda dan Galuh.
Kerajaan Pajajaran (Sunda): Pusat Kekuasaan di Jawa Barat
Berkembang di Bogor pada abad ke-14–16, lanjutan dari Kerajaan Sunda dan Galuh, dengan raja terkenal Sri Baduga Maharaja. Meski Hindu-Buddha masih dianut bangsawan, pengaruh Islam mulai masuk ke wilayah pesisir. Runtuh akhir abad ke-16 akibat serangan Kesultanan Banten.
Kerajaan Sriwijaya: Pusat Kejayaan Maritim di Nusantara
Kerajaan maritim di Sumatra sejak abad ke-7 M, namanya berarti "kemenangan yang gemilang", menguasai Selat Malaka. Dibuktikan lewat Prasasti Kedukan Bukit, Kota Kapur, Telaga Batu, Ligor, dan Nalanda, serta catatan pendeta Tiongkok I-Tsing. Raja terkenal: Dapunta Hyang Sri Jayanasa (pendiri) dan Balaputradewa (masa kejayaan). Mundur setelah serangan Chola India (1025 M) dan akhirnya ditaklukkan Majapahit pada 1477 M.
Kerajaan Kalingga: Jejak Kepemimpinan Ratu di Nusantara
Kerajaan bercorak Buddha di Jawa Tengah sekitar abad ke-7 M, disebut manuskrip Dinasti Tang sebagai "Ho-Ling". Terkenal dengan pemimpinnya, Ratu Shima, yang tegas dan adil dalam menerapkan hukum, serta menjalin hubungan dagang dengan India dan Tiongkok.
Kerajaan Mataram Kuno: Pusat Peradaban di Tanah Jawa
Dikenal juga sebagai Kerajaan Medang, berkembang sejak abad ke-8 M dengan dua dinasti: Sanjaya (Hindu, Jawa Tengah utara) dan Syailendra (Buddha, Jawa Tengah selatan). Dibuktikan Prasasti Canggal (732 M) dan Kalasan (778 M). Dinasti Syailendra membangun Candi Borobudur, Dinasti Sanjaya membangun Candi Prambanan. Kejayaannya menurun akibat perpindahan kekuasaan ke Jawa Timur akhir abad ke-10.
Kerajaan Medang Kamulan: Awal Perkembangan Hindu di Jawa
Kelanjutan Mataram Kuno, dibuktikan Prasasti Paradah (943 M) dan Anjukladang (973 M), berpusat di tepi Sungai Brantas, Jombang. Mpu Sindok memindahkan pusat kekuasaan ke Jawa Timur dan mendirikan Dinasti Isyana. Mengalami kemunduran abad ke-11 akibat serangan Sriwijaya dan letusan Gunung Merapi.
Kerajaan Kediri: Pusat Kejayaan Sastra di Jawa Timur
Kerajaan agraris di Jawa Timur, mencapai puncak kejayaan pada masa Jayabaya (1135–1157 M) yang terkenal dengan Jangka Jayabaya, dan berkembang sebagai pusat sastra dengan karya seperti Kakawin Bharatayudha. Dikalahkan Ken Arok dari Tumapel dalam Pertempuran Ganter (1222), mengawali berdirinya Singasari.
Kerajaan Singasari: Perebutan Kekuasaan di Nusantara
Didirikan Ken Arok di Malang (1222), dicatat dalam Pararaton dan Nagarakretagama. Mencapai puncak kejayaan pada masa Kertanegara (1268–1292 M) dengan ekspedisi Pamalayu ke Sumatra (1275 M). Kertanegara dibunuh Jayakatwang dari Kediri (1292), mengawali kemunculan Majapahit.
Kerajaan Majapahit: Kejayaan Nusantara
Berpusat di Trowulan, Mojokerto, didirikan Raden Wijaya (1293) setelah mengalahkan pasukan Kublai Khan. Mencapai puncak kejayaan di bawah Hayam Wuruk (1350–1389 M) bersama Gajah Mada (Sumpah Palapa), menguasai hampir seluruh Nusantara. Runtuh sekitar abad ke-15 akibat Perang Paregreg dan tekanan kerajaan Islam pesisir Jawa.
Akhir Kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara
Akhir abad ke-15, perkembangan Islam menggantikan dominasi Hindu-Buddha, dengan Kesultanan Demak menjadi kekuatan baru menggantikan Majapahit. Warisan budaya Hindu-Buddha tetap lestari dalam candi seperti Borobudur dan Prambanan, serta tradisi yang masih bertahan di Bali dan Tengger.
Soal. Bandingkan strategi politik dan ekonomi kerajaan maritim dan agraris pada masa Hindu-Buddha di Nusantara — manakah yang lebih efektif menjaga kekuasaan jangka panjang?
Jawaban. Kerajaan maritim (Sriwijaya, Majapahit) unggul menguasai jalur dagang internasional dan ekonomi berbasis pajak perdagangan yang dinamis, namun rentan bila jalur dagang terganggu (seperti serangan Chola 1025 M) dan rawan serangan bajak laut. Kerajaan agraris (Mataram Kuno, Kediri) unggul dengan ekonomi stabil dari pertanian dan irigasi serta struktur pemerintahan yang lebih terorganisir, namun sulit berkembang sebagai pusat dagang dan rentan serangan luar karena armada laut terbatas. Sistem maritim lebih efektif dalam pengaruh global, sedangkan sistem agraris lebih bertahan dalam kestabilan lokal.
Sejak abad ke-5 Masehi, Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat telah memiliki teknologi pengairan canggih — dibuktikan Prasasti Tugu yang mencatat penggalian kanal sepanjang 11 km atas perintah Raja Purnawarman, berfungsi sebagai irigasi pertanian sekaligus pengendali banjir.
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp