Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia meninggalkan jejak yang masih terlihat dalam bahasa, sistem pemerintahan, arsitektur, ekonomi, dan kesenian, meski mayoritas penduduk kini menganut Islam dan Kristen.
Perkembangan Bahasa dan Sistem Tulisan
Aksara Pallawa dari India yang berbahasa Sanskerta menjadi tulisan pertama di Nusantara, ditemukan dalam Prasasti Kutai dan berbagai prasasti Tarumanagara, Sriwijaya, dan Mataram Kuno. Bahasa Sanskerta memengaruhi bahasa Jawa Kuno dan Melayu Kuno — beberapa kata bahasa Indonesia saat ini masih berasal darinya, seperti agama, raja, desa, dan pustaka.
Pengaruh dalam Politik dan Sistem Pemerintahan
Konsep Dewa Raja — raja dianggap titisan dewa dengan kekuasaan mutlak — tercermin dalam kekuasaan absolut, struktur pemerintahan terpusat, dan penggunaan candi besar seperti Borobudur dan Prambanan sebagai simbol legitimasi kekuasaan. Arca-arca dewa seperti Wisnu, Siwa, dan Dhyani Buddha ditempatkan di ruang utama candi.
Tata Kota dan Sistem Arsitektur Hindu-Buddha
Konsep tata kota berbasis sistem mandala — pusat kota dikelilingi bangunan penting seperti istana dan candi — masih terlihat pada tata letak Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta.
Sistem Ekonomi dan Pola Mata Pencaharian
Ekonomi kerajaan Hindu-Buddha berkembang pesat melalui perdagangan maritim (Sriwijaya menguasai Selat Malaka), pengembangan irigasi pertanian (kanal Sungai Gomati oleh Purnawarman), serta pusat perdagangan internasional seperti Sunda Kalapa, Palembang, dan Majapahit. Sistem feodalisme masih kuat: petani dan pedagang tunduk pada raja dan bangsawan, sementara brahmana mengelola keagamaan dan pendidikan.
Agama dan Kehidupan Sosial-Budaya
Sebelum Hindu-Buddha, masyarakat Nusantara menganut animisme dan dinamisme. Terjadi akulturasi budaya, misalnya konsep pripih (tempat penyimpanan benda sakral dalam candi). Masyarakat Hindu-Buddha mengenal sistem kasta — Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra — namun lebih fleksibel dibanding India, terbukti dari raja seperti Ken Arok yang berasal dari rakyat biasa.
Arsitektur dan Kesenian Rupa
Candi Hindu-Buddha terdiri dari tiga bagian: Bhurloka (dunia fana), Bhurvaloka (tahap penyucian), dan Svarloka (dunia dewa). Candi Jawa Tengah (contoh: Prambanan) berstruktur besar beratap stupa menghadap timur; candi Jawa Timur (contoh: Candi Jawi) lebih ramping beratap kubus menghadap barat. Seni rupa berkembang melalui relief (misalnya kisah Siddharta Gautama di Borobudur, kisah Ramayana di Prambanan) dan arca dewa seperti Wisnu, Siwa, dan Ganesha.
Kesusastraan
Sastra berkembang dalam bahasa Kawi dan Sanskerta, di antaranya Ramayana (Mpu Walmiki), Mahabharata (Mpu Vyasa), Nagarakretagama (Mpu Prapanca, tentang Majapahit di masa Hayam Wuruk), dan Arjunawiwaha (Mpu Kanwa).
Sistem Kalender
Kalender Saka dari India digunakan sejak 78 Masehi, tercatat dalam Prasasti Talang Tuwo di Kerajaan Sriwijaya. Hingga kini kalender Saka masih dipakai masyarakat Bali untuk menentukan hari-hari penting seperti Nyepi dan Galungan.
Soal. Bagaimana aksara Hindu-Buddha dari India berkembang menjadi aksara daerah di Nusantara dan masih bertahan hingga kini?
Jawaban. Aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta yang masuk melalui perdagangan dan agama diadaptasi masyarakat lokal (misalnya Prasasti Kutai) untuk kebutuhan administratif dan keagamaan, lalu berkembang menjadi aksara Jawa, Bali, dan Sunda Kuno. Beberapa masih bertahan, seperti aksara Bali dalam upacara adat dan kitab suci Hindu, serta kata-kata Sanskerta dalam bahasa Indonesia modern seperti "agama", "desa", dan "pustaka".
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp