Perdagangan rempah pada masa Hindu-Buddha bukan sekadar jalur ekonomi, tetapi juga jalur pertukaran budaya, ilmu pengetahuan, agama, dan teknologi. Selat Malaka, Laut Jawa, dan Laut Tiongkok Selatan menjadi jalur utama distribusi cengkih, pala, lada, dan kapur barus.
Kerajaan Sriwijaya: Pusat Perdagangan Maritim dan Pengendali Selat Malaka
Sriwijaya mengendalikan Selat Malaka lewat sistem pajak bagi kapal yang melintas, menjadi pusat pengumpul rempah dari Sumatra, Jawa, Maluku, dan Kalimantan sebelum diekspor ke India, Tiongkok, dan Arab. Menurut catatan Zhao Rugua, komoditasnya meliputi cengkih, lada, kayu gaharu, kapur barus, emas, perak, mutiara, hingga porselen Tiongkok. Kejayaannya meredup setelah serangan Kerajaan Colamandala (1017–1025 M).
Kerajaan Mataram Kuno dan Peranannya dalam Perdagangan Rempah
Meski kerajaan agraris berbasis pedalaman, Mataram Kuno turut berperan dalam perdagangan rempah — dibuktikan relief kapal dagang di Candi Borobudur (masa Raja Samaratungga, 792–835 M) yang menunjukkan hubungan dagang dengan India, Tiongkok, dan Arab, serta komoditas cengkih, pala, kayu gaharu, dan lada. Pusat kekuasaan berpindah ke Jawa Timur awal abad ke-10 akibat letusan Gunung Merapi.
Kerajaan Singasari: Dinasti yang Membuka Jalan bagi Kejayaan Majapahit
Singasari (1222–1292 M) menggabungkan kekuatan militer, diplomasi, dan ekspansi untuk mengamankan jalur rempah — termasuk ekspedisi Pamalayu (1275 M) ke Sumatra dan hubungan dagang dengan Dinasti Yuan di Tiongkok. Setelah Raja Kertanegara menolak tunduk pada Kubilai Khan, ia justru gugur akibat pemberontakan Jayakatwang dari Kediri (1292 M) — membuka jalan bagi Raden Wijaya mendirikan Majapahit.
Kerajaan Majapahit: Puncak Kejayaan Jalur Rempah di Nusantara
Majapahit menguasai daerah penghasil rempah (Maluku, Sumatra, Kalimantan) melalui ekspansi wilayah yang dikenal sebagai Cakrawala Mandala Dwipantara, dijaga angkatan laut kuat di bawah Laksamana Nala, dan mengembangkan pelabuhan besar (Tuban, Gresik, Surabaya, Sedayu). Puncak kejayaannya terjadi pada 1336 M ketika Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Runtuh sekitar 1478 M akibat Perang Paregreg, meningkatnya Kesultanan Malaka, dan datangnya ekspedisi Eropa.
Soal. Bagaimana relief kapal dagang di Candi Borobudur menunjukkan keterlibatan Mataram Kuno dalam perdagangan maritim, dan apa implikasinya?
Jawaban. Relief tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Mataram Kuno memiliki hubungan dagang dengan India, Tiongkok, dan Timur Tengah, mendistribusikan rempah seperti cengkih, lada, dan kayu gaharu ke pelabuhan pesisir utara Jawa. Bukti astronomi dalam relief juga menunjukkan pemahaman navigasi berbasis bintang yang memungkinkan pelayaran jarak jauh — membuktikan bahwa meski berpusat di pedalaman, Mataram Kuno tetap berperan dalam jaringan perdagangan Nusantara dengan dunia luar.
Cengkih dan pala dari Maluku sudah diperdagangkan hingga Timur Tengah dan Eropa sejak ribuan tahun lalu — bahkan jejak cengkih Maluku ditemukan di Mesir! Sriwijaya, sang penguasa Selat Malaka, menjadikan Nusantara sebagai pusat distribusi rempah dunia.
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp