Darah sebagai Cairan Kehidupan
Darah adalah komponen vital dalam tubuh manusia yang berfungsi mengangkut oksigen, nutrisi, hormon, dan zat sisa metabolisme, serta berperan dalam sistem imun dan menjaga suhu tubuh. Volume darah manusia berkisar antara 4-6 liter, tergantung usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan.
Darah terdiri dari plasma darah dan sel-sel darah. Plasma adalah bagian cair yang mengandung protein, elektrolit, hormon, dan zat gizi. Sel-sel darah meliputi eritrosit (mengangkut oksigen), leukosit (melawan infeksi), dan trombosit (membantu pembekuan darah). Gangguan seperti anemia, leukopenia, atau trombositopenia dapat berdampak serius bagi kesehatan.
Jenis Sistem Peredaran Darah
Sistem Peredaran Darah Terbuka
Sistem peredaran darah terbuka ditemukan pada serangga, moluska, dan beberapa arthropoda lain. Jantung memompa darah ke pembuluh besar yang terbuka ke rongga tubuh, sehingga hemolimfa membasahi organ secara langsung sebelum kembali ke jantung. Tekanan darahnya rendah dan sirkulasinya lambat, sehingga lebih sesuai bagi organisme dengan metabolisme rendah.
Sistem Peredaran Darah Tertutup
Sistem peredaran darah tertutup ditemukan pada manusia, mamalia, burung, ikan, dan amfibi. Darah selalu mengalir dalam pembuluh melalui jaringan arteri, kapiler, dan vena dengan tekanan tinggi. Kapiler memungkinkan pertukaran oksigen, karbon dioksida, nutrisi, dan limbah, lalu darah dikembalikan ke jantung melalui vena. Sistem ini mempertahankan tekanan darah stabil dan mempercepat transportasi zat.
Fungsi Utama Sistem Peredaran Darah
- Transportasi oksigen dan karbon dioksida: eritrosit membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh melalui hemoglobin dan mengangkut karbon dioksida kembali ke paru-paru.
- Distribusi nutrisi dan hormon: darah mengangkut glukosa, asam amino, asam lemak, dan hormon dari kelenjar endokrin ke organ target.
- Pembuangan zat sisa metabolisme seperti urea dan asam laktat ke ginjal, hati, dan paru-paru.
- Sistem kekebalan tubuh: leukosit dan antibodi dalam plasma melawan bakteri, virus, dan zat asing.
- Regulasi suhu tubuh melalui vasodilatasi saat suhu naik dan vasokonstriksi saat suhu turun.
- Proses pembekuan darah (hemostasis) oleh trombosit dan faktor pembekuan saat terjadi luka.
- Menjaga keseimbangan pH dan tekanan osmotik melalui buffer bikarbonat dan protein plasma seperti albumin.
Komponen Darah pada Sistem Sirkulasi Darah Manusia
Plasma Darah
Plasma darah menyusun sekitar 55% dari total volume darah dan berfungsi sebagai medium transportasi bagi sel-sel darah serta zat penting lainnya. Komponen utamanya adalah protein plasma: albumin, globulin, dan fibrinogen.
- Albumin: protein plasma utama yang diproduksi hati (sekitar 60% total protein plasma). Menjaga tekanan osmotik darah agar cairan tidak keluar berlebihan ke jaringan sehingga mencegah edema, sekaligus mengangkut asam lemak, hormon, dan obat-obatan. Penurunannya (hipoalbuminemia) terjadi akibat gangguan hati, penyakit ginjal, kekurangan gizi, atau peradangan kronis.
- Globulin: berperan dalam sistem kekebalan dan transportasi zat. Alfa dan beta globulin mengangkut vitamin, zat besi (transferrin), hormon, serta lemak dan kolesterol melalui lipoprotein. Gamma globulin (imunoglobulin) melawan bakteri, virus, dan patogen lain melalui lima jenis utama: IgA, IgG, IgM, IgE, dan IgD.
- Fibrinogen: diubah menjadi fibrin oleh enzim trombin saat terjadi luka, membentuk jaring yang menangkap trombosit dan eritrosit untuk menghentikan perdarahan. Kadar rendah (hipofibrinogenemia) menyebabkan mudah memar dan perdarahan berkepanjangan, sedangkan kadar tinggi (hiperfibrinogenemia) meningkatkan risiko trombus, stroke, dan serangan jantung.
Selain protein, plasma mengandung elektrolit (natrium, kalium, kalsium) yang menjaga keseimbangan ion serta mendukung fungsi saraf dan otot, glukosa sebagai sumber energi, asam amino dan asam lemak, hormon seperti insulin dan hormon tiroid, serta produk sisa metabolisme seperti karbon dioksida dan urea. Komposisi plasma bersifat dinamis: saat dehidrasi darah menjadi lebih kental, sedangkan kelebihan cairan meningkatkan volume plasma dan tekanan darah.
Sel Darah Merah (Eritrosit)
Jumlah eritrosit berkisar 4,7-6,1 juta sel per mikroliter darah pada pria dan 4,2-5,4 juta pada wanita. Produksinya terjadi di sumsum tulang melalui eritropoiesis dan diatur oleh hormon eritropoietin dari ginjal. Fungsi utamanya mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan membawa karbon dioksida kembali ke paru-paru, sekaligus menjaga keseimbangan pH darah melalui sistem buffer hemoglobin.
Rentang normal kadar hematokrit adalah 40-54% pada laki-laki, 36-48% pada perempuan, dan 35-45% pada anak-anak. Hematokrit rendah mengindikasikan anemia, kehilangan darah, atau gangguan produksi eritrosit; hematokrit tinggi dapat terjadi akibat dehidrasi, penyakit paru kronis, atau polisitemia vera.
Nutrisi utama untuk produksi eritrosit:
- Zat besi: komponen utama hemoglobin. Kekurangannya menyebabkan anemia defisiensi besi dengan gejala kelelahan, pucat, dan pusing. Sumber: daging merah, hati, bayam, kacang-kacangan, dan makanan laut.
- Vitamin B12 (kobalamin): berperan dalam pembentukan DNA eritrosit. Kekurangannya menyebabkan anemia megaloblastik. Sumber: daging, ikan, telur, susu, dan keju.
- Asam folat (vitamin B9): dibutuhkan untuk pembelahan dan pematangan eritrosit, terutama pada ibu hamil. Sumber: sayuran hijau, jeruk, alpukat, dan biji-bijian.
- Tembaga dan vitamin C: membantu penyerapan zat besi. Sumber tembaga: kerang, kacang-kacangan, cokelat hitam; sumber vitamin C: jeruk, stroberi, kiwi, paprika merah.
Eritrosit berumur sekitar 120 hari sebelum dihancurkan melalui hemolisis di limpa dan hati. Hemoglobin dipecah menjadi heme dan globin; zat besi didaur ulang untuk hemoglobin baru, sedangkan sisanya diubah menjadi bilirubin yang dibuang melalui empedu. Gangguan proses ini menyebabkan penumpukan bilirubin dan penyakit kuning (jaundice).
Sel Darah Putih (Leukosit)
Leukosit memiliki inti sel dan dapat bergerak aktif menanggapi ancaman patogen melalui kemotaksis. Jumlah normalnya 4.000-11.000 sel per mikroliter darah. Peningkatan berlebihan (leukositosis) dapat menandakan infeksi atau leukemia, sedangkan jumlah terlalu rendah (leukopenia) membuat tubuh rentan penyakit. Leukosit mampu melakukan fagositosis, yaitu menangkap dan menghancurkan patogen.
Leukosit dibagi menjadi granulosit dan agranulosit berdasarkan ada tidaknya granula dalam sitoplasma.
- Neutrofil: paling banyak (50-70% total leukosit), garis pertahanan pertama terhadap bakteri dan jamur melalui fagositosis. Berumur 6-12 jam dalam sirkulasi. Neutrofilia menandakan infeksi bakteri akut, neutropenia meningkatkan risiko infeksi serius.
- Eosinofil: 1-3% total leukosit, melawan infeksi parasit seperti cacing melalui degranulasi enzim toksik dan berperan dalam reaksi alergi seperti asma dan rinitis alergi.
- Basofil: paling sedikit (0,5-1%), melepaskan histamin, leukotrien, dan prostaglandin yang memicu reaksi alergi dan inflamasi seperti gatal, pembengkakan, dan sesak napas.
- Limfosit: 20-40% total leukosit, berperan dalam imunitas spesifik. Limfosit B memproduksi antibodi dan membentuk sel memori; limfosit T terdiri dari sel T helper dan sel T sitotoksik; sel NK menghancurkan sel terinfeksi virus dan sel kanker secara langsung.
- Monosit: leukosit terbesar (3-8%), berubah menjadi makrofag di jaringan untuk membersihkan patogen dan sel mati, serta menjadi penghubung antara sistem imun bawaan dan adaptif.
Keping Darah (Trombosit)
Trombosit adalah fragmen sel kecil tanpa inti yang mengandung enzim dan faktor pembekuan. Jumlah normalnya 150.000-450.000 per mikroliter darah. Trombositopenia menyebabkan perdarahan sulit berhenti, sedangkan trombositosis berisiko menimbulkan trombosis. Fungsi utamanya membentuk sumbat trombosit di area luka dan melepaskan zat kimia yang merangsang pertumbuhan jaringan baru.
Cara Kerja Pembekuan Darah
Saat pembuluh darah terluka, trombosit menempel pada area yang rusak dan membentuk sumbat sementara. Proses ini memicu rangkaian reaksi faktor pembekuan yang mengubah fibrinogen menjadi fibrin, membentuk jaring yang memperkuat sumbat trombosit dan menghentikan perdarahan.
Pembekuan darah melibatkan lebih dari 13 faktor pembekuan, termasuk protrombin, trombin, fibrinogen, dan vitamin K. Jika salah satu faktor tidak berfungsi, dapat terjadi gangguan seperti hemofilia.
Golongan Darah
Penggolongan Darah Sistem ABO
Sistem ABO dikembangkan oleh Karl Landsteiner pada tahun 1900 dan membawanya meraih Hadiah Nobel pada 1930. Golongan darah dikelompokkan berdasarkan antigen pada permukaan eritrosit. Golongan AB ditemukan oleh muridnya, Alfred von Decastello dan Adriano Sturli, pada tahun 1902.
| Golongan Darah | Antigen pada Eritrosit | Antibodi dalam Plasma | Menerima dari | Mendonorkan ke |
|---|---|---|---|---|
| A | Antigen A | Antibodi anti-B | A, O | A, AB |
| B | Antigen B | Antibodi anti-A | B, O | B, AB |
| AB | Antigen A dan B | Tidak ada antibodi | A, B, AB, O (penerima universal) | AB |
| O | Tidak ada antigen | Antibodi anti-A dan anti-B | O | A, B, AB, O (donor universal) |
Golongan darah O adalah donor universal karena tidak memiliki antigen A atau B, sedangkan golongan AB adalah penerima universal karena tidak memiliki antibodi anti-A maupun anti-B.
Penggolongan Darah Sistem Rh (Rhesus)
Sistem Rh ditemukan pada tahun 1940 oleh Karl Landsteiner dan Alexander S. Wiener melalui percobaan dengan darah kera Rhesus. Sekitar 85% populasi memiliki antigen Rh (Rh-positif) dan 15% tidak memilikinya (Rh-negatif).
| Golongan Rh | Antigen pada Eritrosit | Antibodi dalam Plasma | Menerima dari | Mendonorkan ke |
|---|---|---|---|---|
| Rh+ (positif) | Ada antigen Rh/D | Tidak ada antibodi anti-Rh | Rh+ dan Rh- | Hanya Rh+ |
| Rh- (negatif) | Tidak ada antigen Rh/D | Dapat membentuk anti-Rh jika terpapar Rh+ | Hanya Rh- | Rh+ dan Rh- |
Jika pasien Rh-negatif menerima darah Rh-positif, sistem imunnya membentuk antibodi anti-Rh. Pada transfusi berikutnya antibodi tersebut menghancurkan eritrosit donor sehingga terjadi hemolisis intravaskular, anemia berat, demam, menggigil, hingga gagal ginjal.
Pada kehamilan, ibu Rh-negatif yang mengandung janin Rh-positif dapat membentuk antibodi anti-Rh setelah persalinan pertama. Pada kehamilan berikutnya antibodi ini dapat menembus plasenta dan menyerang eritrosit janin, menyebabkan eritroblastosis fetalis. Pencegahannya dengan suntikan RhoGAM (imunoglobulin anti-Rh) pada trimester ketiga dan setelah melahirkan.
Pengujian Tipe Darah
Uji golongan darah dilakukan dengan mencampurkan sampel darah dengan antibodi anti-A, anti-B, dan anti-Rh untuk melihat reaksi aglutinasi. Menggumpal dengan anti-A berarti golongan A, dengan anti-B berarti B, dengan keduanya berarti AB, dan tanpa reaksi berarti O. Reaksi dengan anti-Rh menunjukkan Rh-positif. Pengujian ini juga digunakan dalam bidang forensik dan genetika.
Tes Golongan Darah
Tujuan. Mengetahui golongan darah sistem ABO dan rhesus (Rh).
Bahan.
- Kaca objek
- Blood lancet
- Kapas
- Alkohol 70%
- Serum anti-A, anti-B, anti-AB, dan anti-D (anti-Rho)
- Tusuk gigi atau pengaduk
Langkah.
- Bersihkan kaca objek dan blood lancet dengan alkohol.
- Tusuk ujung jari dengan blood lancet, teteskan darah ke kaca objek.
- Tambahkan masing-masing serum (anti-A, anti-B, anti-AB, anti-D) ke tetesan darah.
- Aduk perlahan setiap tetesan dengan tusuk gigi yang berbeda.
- Amati ada atau tidaknya penggumpalan, lalu tentukan golongan darah berdasarkan reaksi yang terjadi.
Pertanyaan.
- Apa hasil golongan darah dan rhesus Anda?
- Mengapa perlu mengetahui golongan darah sebelum transfusi?
- Apa akibatnya jika transfusi dilakukan tanpa memperhatikan kecocokan golongan darah?
| No | Nama | Reaksi (Serum A, B, AB, D) | Golongan Darah | Sistem Rh |
|---|---|---|---|---|
| 1 | ||||
| 2 |
Transfusi Darah
Transfusi darah menggantikan darah yang hilang akibat cedera, operasi, atau penyakit seperti anemia dan gangguan pembekuan darah. Kecocokan golongan darah harus diperiksa teliti untuk mencegah reaksi transfusi. Golongan O- adalah pendonor universal dan AB+ adalah penerima universal. Transfusi dapat berupa darah utuh maupun komponen tertentu seperti eritrosit pekat, trombosit, plasma, atau faktor pembekuan sesuai kebutuhan pasien. Saat ini juga sedang dikembangkan teknologi pengganti darah sintetis.
Organ Peredaran Darah
Jantung
Jantung berukuran sekitar kepalan tangan dan terletak di rongga dada, sedikit ke kiri dari garis tengah tubuh. Jantung memiliki empat ruang, yaitu atrium kanan, atrium kiri, ventrikel kanan, dan ventrikel kiri, serta katup yang memastikan aliran darah hanya satu arah. Kontraksi jantung disebut sistole dan relaksasinya disebut diastole, berulang sekitar 60-100 kali per menit.
Dinding jantung terdiri dari tiga lapisan:
- Epikardium: lapisan terluar yang melindungi jantung dari gesekan, mengandung pembuluh koroner, saraf, dan jaringan lemak, serta menghasilkan cairan serosa. Gangguannya berupa perikarditis.
- Miokardium: lapisan otot yang bertanggung jawab atas kontraksi. Diskus interkalaris memungkinkan impuls listrik menyebar cepat. Ventrikel kiri memiliki miokardium paling tebal. Gangguannya berupa infark miokard.
- Endokardium: lapisan terdalam yang melapisi ruang dan katup jantung, mengurangi gesekan darah dan mencegah pembentukan bekuan. Peradangannya disebut endokarditis.
Sel otot jantung (kardiomiosit) berbentuk silindris dan bercabang, dihubungkan oleh diskus interkalaris yang mengandung gap junction dan desmosom sehingga kontraksi terjadi secara sinkron. Kardiomiosit kaya mitokondria dan menggunakan asam lemak, glukosa, serta laktat sebagai sumber energi agar dapat bekerja tanpa henti.
Katup jantung berfungsi sebagai pintu satu arah:
- Katup trikuspidalis: antara atrium kanan dan ventrikel kanan, memiliki tiga daun katup.
- Katup bikuspidalis (mitral): antara atrium kiri dan ventrikel kiri, memiliki dua daun katup.
- Katup pulmonalis: antara ventrikel kanan dan arteri pulmonalis.
- Katup aorta: antara ventrikel kiri dan aorta.
Atrium kanan menerima darah miskin oksigen dari seluruh tubuh melalui vena cava superior, vena cava inferior, dan sinus coronarius. Ventrikel kanan memompa darah ke paru-paru melalui arteri pulmonalis dan berdinding lebih tipis karena tekanan sirkulasi paru rendah. Atrium kiri menerima darah kaya oksigen dari empat vena pulmonalis. Ventrikel kiri adalah ruang terkuat dengan dinding paling tebal, memompa darah ke seluruh tubuh melalui aorta, dan paling rentan mengalami hipertrofi akibat tekanan darah tinggi.
Sistem Konduksi Jantung
- Nodus SA: pacemaker alami jantung yang menghasilkan impuls listrik.
- Nodus AV: memperlambat sinyal sejenak agar atrium selesai berkontraksi dan ventrikel terisi penuh sebelum memompa. Gangguannya menyebabkan blok jantung.
- Berkas His: membawa impuls dari nodus AV ke kedua ventrikel melalui septum interventrikular sehingga kontraksi terjadi bersamaan.
- Serabut Purkinje: menyebar ke seluruh dinding ventrikel dan memastikan kontraksi ventrikel cepat, merata, dan kuat.
Pembuluh Darah
Pembuluh darah terbagi menjadi arteri, vena, dan kapiler dengan panjang total mencapai 100.000 km, cukup untuk mengelilingi bumi lebih dari dua kali.
Arteri membawa darah keluar dari jantung. Dindingnya terdiri dari tunica intima (endotelium halus), tunica media (otot polos dan serat elastin), dan tunica externa (jaringan ikat). Arteri lebih tebal dan elastis daripada vena karena menahan tekanan tinggi. Jenisnya meliputi arteri elastis (aorta, arteri pulmonalis), arteri muscularis (brachialis, femoralis), dan arteriol yang mengatur aliran ke kapiler.
Vena mengembalikan darah ke jantung dengan dinding lebih tipis dan kurang elastis. Vena memiliki katup yang mencegah aliran balik akibat gravitasi; jika katup melemah dapat terjadi varises. Jenisnya meliputi vena superfisial (vena safena magna), vena dalam (vena femoralis, vena cava), dan vena pulmonalis yang membawa darah kaya oksigen.
Kapiler adalah pembuluh terkecil dengan diameter 5-10 mikrometer dan hanya memiliki satu lapisan sel endotelium, sehingga zat mudah berdifusi. Jenisnya adalah kapiler kontinu (otot dan otak), kapiler fenestrasi (ginjal dan usus), serta kapiler sinusoidal (hati dan sumsum tulang). Gangguan pada kapiler dapat menyebabkan edema.
Proses Distribusi Darah dalam Tubuh
Peredaran darah pulmonalis membawa darah miskin oksigen dari ventrikel kanan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis. Di paru-paru karbon dioksida dikeluarkan dan oksigen diserap, lalu darah kembali ke atrium kiri melalui vena pulmonalis.
Peredaran darah sistemik dimulai dari ventrikel kiri yang memompa darah kaya oksigen ke aorta dan bercabang ke seluruh tubuh. Setelah pertukaran zat di kapiler, darah miskin oksigen dikumpulkan melalui vena cava dan kembali ke atrium kanan.
- Sirkulasi portal: mengangkut darah dari lambung, usus, dan pankreas langsung ke hati melalui vena porta hepatika untuk menyaring racun dan mengatur kadar glukosa.
- Sirkulasi koroner: pembuluh koroner membawa oksigen dan nutrisi ke otot jantung. Penyumbatannya menyebabkan penyakit jantung koroner.
- Peredaran darah janin: oksigen dan nutrisi diperoleh dari plasenta, dengan struktur khusus berupa duktus arteriosus dan foramen ovale yang menutup setelah lahir.
Tekanan darah diukur dalam dua angka: sistole saat jantung berkontraksi dan diastole saat jantung beristirahat, dengan nilai normal sekitar 120/80 mmHg. Denyut nadi adalah gelombang tekanan akibat kontraksi jantung yang dapat dirasakan pada arteri besar seperti arteri radial. Faktor yang memengaruhinya adalah usia, aktivitas fisik, kondisi emosional, dan kesehatan jantung.
Tekanan Darah
Tujuan. Mengukur tekanan darah dan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi tekanan darah.
Bahan.
- Tensimeter manual atau digital
Langkah.
- Ukur tekanan darah dalam kondisi istirahat menggunakan tensimeter.
- Catat hasil tekanan sistolik dan diastolik ke dalam tabel.
- Lakukan aktivitas ringan seperti jalan cepat selama 5 menit, kemudian ukur kembali tekanan darah.
- Ulangi pengukuran setelah istirahat 10 menit.
- Bandingkan hasil tekanan darah sebelum, sesudah aktivitas, dan setelah istirahat, lalu tentukan apakah tergolong normal, rendah, atau tinggi.
Pertanyaan.
- Bagaimana perbandingan tekanan darah saat istirahat, setelah aktivitas, dan setelah istirahat ulang?
- Apa pengaruh aktivitas fisik terhadap tekanan darah?
- Apa akibatnya jika tekanan darah terlalu tinggi atau terlalu rendah?
- Apa saja faktor yang dapat memengaruhi tekanan darah selain aktivitas fisik?
| No | Nama | Umur | Istirahat | Setelah Aktivitas | Setelah Istirahat |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | |||||
| 2 |
Soal. Seorang pasien mengalami kehilangan darah cukup banyak akibat kecelakaan dan membutuhkan transfusi segera. Hasil tes menunjukkan pasien bergolongan darah O Rh-. Golongan darah apa saja yang bisa didonorkan kepadanya dan apa yang terjadi jika terjadi inkompatibilitas transfusi?
Jawaban. Jawaban: Pasien O Rh- hanya bisa menerima darah dari donor O Rh-.
Pembahasan. Golongan O tidak memiliki antigen A atau B sehingga tidak dapat menerima darah golongan A, B, atau AB, dan Rh-negatif tidak dapat menerima darah Rh-positif karena akan memicu reaksi imun. Jika terjadi inkompatibilitas, antibodi pasien menyerang eritrosit donor sehingga terjadi hemolisis intravaskular dan reaksi transfusi akut berupa demam, nyeri dada, tekanan darah rendah, hingga gagal ginjal akut.
Setiap hari jantung manusia memompa sekitar 7.500 liter darah melalui lebih dari 100.000 km pembuluh darah, cukup untuk mengelilingi bumi lebih dari dua kali. Kecepatan aliran darah di arteri besar bisa mencapai 1,6 km/jam, sementara di kapiler darah mengalir perlahan agar pertukaran oksigen dan nutrisi berlangsung optimal.
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp