Gaya Normal pada Lift yang Bergerak Vertikal
Ketika seseorang berada dalam lift yang sedang bergerak vertikal, besar gaya normal atau gaya tekan dari lantai lift tidak selalu sama dengan berat orang tersebut. Nilai gaya normal akan berubah tergantung apakah lift bergerak ke atas atau ke bawah, dan apakah percepatannya konstan, meningkat, atau menurun.
Jika lift naik dengan kecepatan tetap, percepatannya nol a = 0. Maka:
Lift naik dengan percepatan a, maka gaya normal akan lebih besar dari berat:
Ketika lift turun dengan percepatan, maka gaya normal lebih kecil dari berat:
Jika lift sedang naik tetapi melambat, maka arah percepatan berlawanan dengan arah gerak sehingga percepatannya negatif:
Dengan:
m = massa orang (kg)
w = berat orang = mg (N)
N = gaya normal (N)
a= percepatan lift (m/s²)
g = percepatan gravitasi (m/s²)
Sistem Benda Bertali yang Terhubung dengan Katrol
Dalam sistem yang melibatkan dua benda yang dihubungkan melalui tali dan katrol, analisis gaya dilakukan dengan mempertimbangkan gaya berat dan tegangan tali. Diasumsikan bahwa massa tali dan katrol diabaikan serta tali tidak meregang.
Maka percepatan sistem:
Dengan:
w = berat masing-masing benda (N)
a: percepatan sistem (m/s²)
Analisis Gerak pada Bidang Datar Licin
Gerakan benda pada bidang datar licin menunjukkan bagaimana percepatan timbul akibat gaya total pada sumbu X, sementara pada sumbu Y benda dalam kondisi seimbang.
Pada sumbu Y:
Pada sumbu X:
Gaya F diuraikan menjadi komponen-komponen:
Pada sumbu Y:
Pada sumbu X:
Gerak Benda pada Bidang Miring Licin
Ketika benda bermassa m diletakkan di bidang miring licin dan ditarik oleh gaya F, kita menganalisis arah sumbu Y dan X.
Pada sumbu Y (tegak lurus bidang):
Pada sumbu X (searah bidang):
Dengan:
w = berat benda
N = gaya normal
F = gaya luar
a = percepatan (m/s²)
Gerak Benda pada Bidang Datar yang Kasar
Gesekan antara benda dan permukaan yang kasar memengaruhi percepatan benda. Gaya gesek kinetik akan menghambat gerak, sehingga perhitungannya perlu memperhitungkan gaya tersebut.
Pada sumbu Y, benda berada dalam keadaan setimbang:
Pada sumbu X, benda mengalami percepatan tetap:
Jika gaya F membentuk sudut, maka gaya harus diuraikan ke dalam sumbu X dan Y.
Komponen-komponen gaya:
Pada sumbu Y, benda tetap setimbang:
Pada sumbu X, percepatan tetap:
Sistem Beberapa Benda yang Dihubungkan dengan Tali
Dua balok, A dan B, dihubungkan tali dan diletakkan pada bidang licin. Gaya tarik bekerja pada balok B dan menyebabkan kedua benda bergerak bersamaan.
Gaya normal:
Untuk benda A:
Untuk benda B:
Substitusi:
Untuk benda A:
Untuk benda B:
Substitusi:
Gerak Benda dengan Katrol Tunggal
Benda A berada di bidang (horizontal/kasar/licin), sedangkan benda B tergantung bebas. Keduanya dihubungkan dengan tali melalui katrol.
Untuk benda A:
Untuk benda B:
Substitusi:
Untuk benda A:
Untuk benda B:
Substitusi:
Pergerakan Benda yang Terhubung dengan Tali Melalui Dua Katrol
Ketika dua benda dihubungkan oleh tali melalui dua katrol, yaitu satu katrol tetap dan satu katrol bebas, diperlukan analisis gerak yang memperhatikan rasio perpindahan dan percepatan dari masing-masing benda.
Untuk benda A:
Untuk benda B:
Percepatan benda B adalah setengah dari percepatan benda A, karena katrol bebas menyebabkan panjang tali terbagi dua:
Pergerakan Benda yang Dihubungkan dengan Tali Melintasi Tiga Katrol
Dalam sistem tiga katrol, tiga benda (A, B, dan C) dihubungkan melalui tali dan katrol dengan ketentuan satu katrol bebas dan dua katrol tetap. Percepatan benda C merupakan jumlah dari percepatan benda A dan percepatan benda B.
Untuk benda A:
Untuk benda B:
Untuk benda C:
Interaksi Gaya antara Benda yang Bersentuhan
Ketika dua benda saling bersentuhan dan salah satunya didorong oleh gaya F, maka akan timbul gaya kontak antara keduanya. Gaya ini bekerja secara aksi–reaksi.
Untuk benda A:
Untuk benda B:
Dengan:
F = gaya dorong total
a = percepatan sistem
Gaya Sentripetal yang Mengarahkan Benda ke Pusat Lingkaran
Benda yang bergerak melingkar mengalami gaya yang selalu menuju pusat lingkaran. Gaya ini disebut gaya sentripetal dan sangat penting dalam sistem rotasi.
Dengan:
m = massa benda (kg)
v = kelajuan linear (m/s)
r = jari-jari lintasan (m)
Jika sebuah benda diputar secara horizontal dengan tali, gaya tegangan pada tali menjadi gaya sentripetal. Untuk menghitung kecepatan gerak melingkar, digunakan persamaan:
Ayunan konis merupakan bentuk gerak melingkar mendatar yang terjadi ketika sebuah benda tergantung dan diputar membentuk kerucut. Gerak ini bisa dianalisis untuk menghitung periode ayunan.
Pada sumbu X:
Pada sumbu Y:
Untuk menghitung waktu yang dibutuhkan satu kali putaran:
Substitusi v dan r:
Gaya Mobil yang Bergerak pada Belokan Jalan Datar
Ketika sebuah mobil bergerak di tikungan jalan datar, diperlukan gaya gesek statis yang mengarah ke pusat lingkaran agar mobil tetap berada pada lintasan melingkar dan tidak tergelincir ke luar tikungan. Gaya gesek ini bertindak sebagai gaya sentripetal.
Persamaan yang menggambarkan hubungan antara gaya gesek dan kelajuan maksimum mobil yang dapat dipertahankan tanpa tergelincir adalah:
Sudut Kemiringan Jalan pada Belokan Miring
Untuk menempuh tikungan dengan kecepatan tinggi, jalan biasanya dirancang miring. Ini membantu mobil menikung tanpa mengandalkan gaya gesek (dengan asumsi permukaan sangat licin). Pada kasus ini, gaya normal dari permukaan jalan akan memiliki komponen yang bertanggung jawab terhadap gaya sentripetal.
Pada sumbu Y:
Pada sumbu X:
Gabungkan kedua hasil:
Benda Bergerak Melingkar pada Bidang Vertikal
Saat sebuah benda bermassa m bergerak di dalam lintasan vertikal yang licin, gaya sentripetal yang bekerja selalu menuju pusat lingkaran. Gaya-gaya yang terlibat antara lain gaya berat dan gaya normal.
Pada titik A (titik terendah):
Pada titik B:
Pada titik C:
Pada titik D (titik tertinggi):
Pada titik E:
Dapat disimpulkan bahwa gaya normal terbesar terjadi di titik terendah (A) dan gaya normal terkecil di titik tertinggi (D). Pada titik E, gaya normal hanya bergantung pada gaya sentripetal dan tidak dipengaruhi oleh berat benda.
Jika benda berada di sisi luar lingkaran vertikal, arah gaya normal justru keluar dari pusat lingkaran. Sesuai hukum Newton II, kita anggap semua gaya keluar bernilai negatif dan ke pusat bernilai positif.
Pada titik A (titik tertinggi):
Pada titik B:
Kegiatan Kelompok 1
Mengukur percepatan dan kecepatan akhir benda saat bergerak pada bidang miring.
Menentukan nilai koefisien gesekan antara permukaan bidang dan benda.
Stopwatch
Bidang miring (dapat berupa papan atau permukaan miring buatan)
Beberapa jenis benda (misalnya balok kayu, karet, atau logam kecil)
Penggaris atau meteran
Buku catatan atau lembar kerja
Bentuk kelompok yang terdiri dari 4–5 orang.
Siapkan bidang miring dengan kemiringan tertentu (misalnya 30°).
Letakkan benda di bagian atas bidang miring dan lepaskan tanpa dorongan.
Catat waktu yang dibutuhkan benda untuk mencapai dasar bidang menggunakan stopwatch.
Ukur panjang lintasan dari atas ke dasar bidang.
Gantilah jenis benda dan ulangi langkah 3–5 untuk setiap benda.
Ulangi percobaan dengan bidang datar (0°) sebagai perbandingan.
Gunakan data yang diperoleh untuk menghitung percepatan, kecepatan akhir, dan koefisien gesekan.
Bagaimana perbedaan percepatan dan kecepatan akhir untuk masing-masing benda dan sudut bidang?
Bagaimana Anda menentukan koefisien gesekan antara permukaan dan benda?
Apa pengaruh sudut kemiringan terhadap besar gaya gesek dan percepatan benda?
Buatlah kesimpulan dari kegiatan ini dan presentasikan hasilnya kepada kelas.
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp