Sejak akhir abad ke-16, Belanda menguasai perdagangan rempah dengan mendirikan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 1602 — perusahaan dagang yang juga berfungsi sebagai lembaga politik berkekuasaan besar, mengontrol wilayah strategis melalui benteng, aliansi, dan monopoli yang sering merugikan masyarakat lokal.
Pembentukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)
VOC didirikan 20 Maret 1602 untuk mengatasi persaingan antarpedagang Belanda dan menghadapi ancaman Inggris serta Portugis.
- Hak Oktroi: memonopoli perdagangan, membentuk angkatan bersenjata sendiri, mendirikan benteng, dan mengadakan perjanjian dengan penguasa lokal.
- Struktur Organisasi yang Kuat: dipimpin Dewan Tujuh Belas (Heeren Zeventien) di Belanda, dan gubernur jenderal di Nusantara.
- Fokus di Nusantara: beroperasi terutama di Maluku, Batavia, dan Sunda Kelapa.
- Tokoh Penting: Pieter Both (1610–1614) membangun kantor dagang di Ambon; Jan Pieterszoon Coen (1618–1629) memindahkan pusat administrasi ke Batavia.
Kebijakan-Kebijakan VOC di Nusantara
- Monopoli Perdagangan: harga dipatok rendah sepihak, larangan berdagang dengan pihak lain, dan ekstirpasi (pemusnahan tanaman rempah berlebih) untuk menjaga harga.
- Pelayaran Hongi: patroli laut memakai kapal kora-kora untuk menghancurkan tanaman rempah ilegal, menimbulkan ketakutan sekaligus perlawanan sengit.
- Sistem Pajak Contingenten dan Verplichte Leverantie: hasil bumi wajib diserahkan dan dijual dengan harga rendah yang ditentukan VOC.
- Pembangunan Benteng dan Pos Dagang: seperti Benteng Nassau (Ambon) dan Benteng Batavia untuk melindungi perdagangan dan mengawasi penduduk.
- Aliansi dan Divide et Impera: mendukung salah satu pihak dalam konflik kerajaan lalu menuntut hak monopoli atau konsesi wilayah sebagai imbalan.
- Ekspansi Wilayah: seperti Penaklukan Gowa (1669, Perjanjian Bongaya) dan Serangan ke Banten (1682).
- Sistem Tanam Paksa Awal: petani diwajibkan menanam cengkeh dan pala untuk dijual kepada VOC, menyebabkan kesengsaraan ekonomi.
- Pengusiran Pedagang Lain: seperti Pembantaian Ambon (1622) terhadap pedagang Inggris, dan pembatasan dagang bagi komunitas Arab dan Tionghoa.
Gubernur Jenderal di Awal Berdirinya VOC
- Pieter Both (1610–1614): membangun kantor dagang di Ambon, menjalin perjanjian dagang dengan kerajaan lokal, dan mengusir Portugis dari Timor dan Tidore.
- Jan Pieterszoon Coen (1618–1629): memindahkan pusat administrasi ke Batavia (1619), menerapkan ekstirpasi dan Pelayaran Hongi, serta memimpin pembantaian besar penduduk Banda (1621) yang menolak monopoli VOC.
Perlawanan dari Masyarakat Nusantara
- Perlawanan Kesultanan Ternate (1570–1575): dipimpin Sultan Baabullah, berhasil mengusir Portugis dari Ternate pada 1575, meski Belanda kemudian menggantikan posisinya.
- Perlawanan Kesultanan Mataram (1628–1629): Sultan Agung menyerang Batavia namun gagal, meski sempat melemahkan VOC untuk sementara.
- Perlawanan Kesultanan Gowa (1666–1669): Sultan Hasanuddin memimpin Perang Makassar, berujung Perjanjian Bongaya (1667) yang menyerahkan kendali dagang Gowa kepada VOC.
- Perlawanan di Banda (1621): penduduk Banda menolak menyerahkan rempah dengan harga rendah, dibalas Coen dengan Pembantaian Banda.
- Perlawanan Nathaniel Courthope (1620–1621): kapten Inggris ini mempertahankan Pulau Run, tetapi akhirnya dikuasai VOC.
Dampak Kebijakan VOC
Secara ekonomi, monopoli VOC menyebabkan kemiskinan petani; secara sosial, Pelayaran Hongi dan pajak menimbulkan ketakutan dan perlawanan; secara politik, VOC memperkuat kekuasaannya melalui strategi aliansi dan konflik.
Berakhirnya Kekuasaan VOC
Pada 31 Desember 1799, VOC dibubarkan oleh pemerintah Belanda dengan utang 134,7 juta gulden, diambil alih oleh Republik Bataaf.
- Faktor Internal: korupsi mengakar, penyalahgunaan anggaran, beban gaji dan operasional tinggi, perdagangan gelap, monopoli yang sulit dipertahankan, dan beban perang yang tinggi.
- Faktor Eksternal: invasi Prancis ke Belanda (1795), persaingan dagang dari EIC dan Compagnie des Indes, pemberontakan rakyat Nusantara, kejatuhan harga rempah, dan administrasi yang tidak efisien.
Soal. Pelayaran Hongi digunakan VOC untuk mempertahankan monopoli rempah di Maluku. Bagaimana penerapannya memengaruhi struktur sosial dan ekonomi masyarakat lokal?
Jawaban. Pelayaran Hongi menghancurkan tanaman rempah ilegal dan menegakkan monopoli yang merugikan, sehingga mengubah struktur agraris tradisional Maluku dan mengalihkan kontrol ekonomi masyarakat lokal ke tangan VOC.
Kegiatan Kelompok 3: Infografis Jejak Peninggalan Kolonial di Sekitar Kita
Tujuan. Menelusuri dan mendokumentasikan peninggalan sejarah kolonial VOC, Inggris, atau Prancis.
- Bentuk kelompok 2–3 siswa dan lakukan observasi lingkungan sekitar tempat tinggal atau sekolah.
- Kumpulkan informasi tambahan dari buku, artikel resmi (perpustakaan nasional, museum, Kemendikbud), atau narasumber lokal.
- Susun infografis semenarik mungkin (manual atau digital) berisi nama, lokasi, kondisi, fungsi dahulu dan kini, serta pesan pelestariannya.
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp