Pola hereditas mengacu pada cara sifat atau karakter diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui gen. Untuk memahaminya, ada beberapa istilah dasar yang perlu dikuasai lebih dulu.
- Parental (P): generasi orang tua, yaitu dua individu yang disilangkan untuk mempelajari pola pewarisan sifat. Pada percobaan Mendel, parentalnya adalah tanaman kacang polong murni berbunga ungu dan berbunga putih.
- Gamet: sel reproduksi haploid yang hanya membawa satu set kromosom, yaitu sel telur dan sperma. Peleburan keduanya saat fertilisasi menghasilkan zigot dengan jumlah kromosom penuh.
- Filial (F): generasi keturunan. Keturunan pertama disebut F1, keturunan dari F1 disebut F2, dan seterusnya.
- Genotipe: susunan genetik atau komposisi alel individu, misalnya Bb, yang tidak selalu tampak secara langsung.
- Fenotipe: penampilan fisik yang dapat diamati sebagai hasil ekspresi genotipe, dan dapat dipengaruhi lingkungan. Genotipe Bb, misalnya, memunculkan fenotipe mata cokelat.
- Karakter: sifat spesifik yang diwariskan, seperti warna kulit, tinggi badan, atau golongan darah pada manusia.
Hukum Pewarisan Sifat
Hukum pewarisan sifat yang dikemukakan Gregor Mendel pada pertengahan abad ke-19 menjadi dasar genetika modern. Melalui percobaan pada tanaman kacang polong, Mendel merumuskan dua hukum utama.
Hukum Mendel I (Hukum Segregasi)
Hukum Segregasi menyatakan bahwa saat pembentukan gamet, pasangan alel yang menentukan suatu sifat dipisahkan secara acak sehingga setiap gamet hanya membawa satu alel. Dalam percobaan Mendel, persilangan kacang polong berbunga ungu dengan berbunga putih menghasilkan F1 yang seluruhnya berbunga ungu, sedangkan pada F2 muncul kembali bunga putih dengan perbandingan sekitar 3:1. Dari sini Mendel menyimpulkan bahwa alel bunga ungu bersifat dominan dan alel bunga putih bersifat resesif; sifat resesif hanya terekspresi bila individu homozigot resesif.
Hukum Mendel II (Hukum Asortasi Berpasangan Bebas)
Hukum Asortasi Bebas menyatakan bahwa gen-gen yang mengendalikan sifat berbeda diwariskan secara independen, selama gen tersebut terletak pada kromosom berbeda. Mendel membuktikannya melalui persilangan dihibrid pada kacang polong dengan sifat bentuk biji (bulat B dominan, keriput b resesif) dan warna biji (kuning Y dominan, hijau y resesif). Persilangan BBYY × bbyy menghasilkan F1 BbYy berfenotipe bulat-kuning, dan penyilangan sesama F1 menghasilkan empat macam gamet (BY, By, bY, by) serta 16 kombinasi pada F2.
| ♀ / ♂ | BY | By | bY | by |
|---|---|---|---|---|
| BY | BBYY | BBYy | BbYY | BbYy |
| By | BBYy | BByy | BbYy | Bbyy |
| bY | BbYY | BbYy | bbYY | bbYy |
| by | BbYy | Bbyy | bbYy | bbyy |
Hasil persilangan tersebut mengikuti rasio fenotipe 9:3:3:1, yaitu 9 bagian bulat-kuning, 3 bagian bulat-hijau, 3 bagian keriput-kuning, dan 1 bagian keriput-hijau. Rasio ini menunjukkan bahwa segregasi alel bentuk biji tidak dipengaruhi segregasi alel warna biji, sehingga muncul variasi kombinasi sifat pada keturunan.
Testcross, Backcross, dan Persilangan Resiprok
Uji Silang (Testcross)
Testcross digunakan untuk menentukan genotipe individu berfenotipe dominan yang belum diketahui, apakah homozigot dominan (AA) atau heterozigot (Aa), dengan menyilangkannya terhadap individu homozigot resesif (aa). Jika seluruh keturunan berfenotipe dominan, individu yang diuji adalah AA; jika keturunannya 50% dominan dan 50% resesif, individu tersebut heterozigot.
Uji Silang Balik (Backcross)
Backcross adalah persilangan antara keturunan F1 dengan salah satu induk parentalnya. Tujuannya memperkuat sifat parental tertentu pada keturunan berikutnya atau memperjelas genotipe F1. Misalnya tanaman berbunga ungu F1 (Aa) disilangkan kembali dengan induk berbunga putih (aa) sehingga menghasilkan 50% ungu (Aa) dan 50% putih (aa).
Persilangan Resiprok
Persilangan resiprok dilakukan dua kali dengan menukar peran induk jantan dan betina. Tujuannya menguji apakah suatu sifat diwariskan secara autosomal atau terpaut kromosom seks. Jika hasil kedua persilangan berbeda, berarti pewarisan sifat tersebut dipengaruhi kromosom seks.
Menghitung Macam Gamet, Fenotipe, dan Genotipe
Jumlah macam gamet dihitung dengan rumus 2ⁿ, dengan n adalah jumlah pasangan alel heterozigot. Genotipe AaBb memiliki 2 lokus heterozigot sehingga menghasilkan 2² = 4 macam gamet (AB, Ab, aB, ab), sedangkan AaBbCc menghasilkan 2³ = 8 macam gamet.
Genotipe dan fenotipe keturunan dapat diprediksi menggunakan kotak Punnett atau diagram anak garpu. Pada diagram anak garpu, setiap sifat dituliskan rasionya secara terpisah lalu dikalikan. Persilangan AaBb × AaBb, misalnya, menghasilkan rasio 3 ungu : 1 putih untuk warna bunga dan 3 bulat : 1 keriput untuk bentuk biji, sehingga kombinasinya menjadi 9 ungu-bulat, 3 ungu-keriput, 3 putih-bulat, dan 1 putih-keriput.
Jumlah kemungkinan genotipe pada F2 dihitung dengan rumus 3ⁿ dan jumlah fenotipe dengan rumus 2ⁿ, dengan n adalah jumlah sifat beda. Satu sifat beda menghasilkan 3 genotipe dan 2 fenotipe, dua sifat beda menghasilkan 9 genotipe dan 4 fenotipe, sedangkan tiga sifat beda menghasilkan 27 genotipe dan 8 fenotipe. Genotipe induk yang belum diketahui dapat ditentukan melalui uji silang: keturunan yang seluruhnya dominan menandakan induk homozigot dominan, sedangkan rasio 1:1 menandakan induk heterozigot.
Penyimpangan Hukum Mendel
Pada beberapa kasus, hasil persilangan tidak sepenuhnya mengikuti prediksi Hukum Mendel karena alel dan gen berinteraksi dengan cara yang lebih kompleks. Peristiwa ini disebut penyimpangan semu hukum Mendel, yang mencakup interaksi antaralel dan interaksi genetik.
Interaksi Antaralel
- Kodominansi: kedua alel pada pasangan heterozigot sama-sama terekspresi. Contohnya golongan darah sistem ABO, di mana alel Iᴬ dan Iᴮ bersifat kodominan sehingga genotipe IᴬIᴮ menghasilkan golongan darah AB, sedangkan ii menghasilkan golongan darah O.
- Dominansi tidak sempurna: fenotipe heterozigot berupa perantara kedua induk, seperti pada bunga snapdragon, sehingga rasio F2 menjadi 1:2:1 baik untuk genotipe maupun fenotipe.
- Alel ganda: lebih dari dua alel tersedia pada satu lokus dalam populasi, meskipun setiap individu hanya memiliki dua alel. Contohnya sistem golongan darah ABO (Iᴬ, Iᴮ, i), warna bulu kelinci (C, cᶜʰ, cᶜʰᵈ, c) dengan dominansi bertingkat, serta warna mata lalat buah (Drosophila melanogaster) dengan urutan dominansi dari wild type merah hingga alel putih yang paling resesif.
- Alel letal: alel yang menyebabkan kematian individu pemiliknya. Alel letal dominan mematikan meski hanya satu salinan, alel letal resesif hanya mematikan pada keadaan homozigot resesif sehingga individu heterozigot menjadi pembawa, sedangkan alel subletal menurunkan kebugaran atau harapan hidup tanpa selalu menyebabkan kematian, misalnya sindrom Turner.
Interaksi Genetik
Interaksi genetik terjadi ketika dua gen atau lebih bekerja bersama memengaruhi satu karakter sehingga rasio fenotipe menyimpang dari pola Mendel.
- Atavisme: munculnya kembali sifat yang sempat tidak terekspresi pada beberapa generasi, seperti bentuk jengger ayam.
- Epistasis dominan: alel dominan gen epistatik menutupi ekspresi gen hipostatik, seperti warna buah labu dengan rasio 12:3:1.
- Epistasis resesif: dua alel resesif gen epistatik menutupi gen hipostatik, seperti warna bulu anjing Labrador dengan rasio 9:3:4.
- Epistasis gen dominan rangkap: kehadiran satu alel dominan dari salah satu gen sudah cukup memunculkan fenotipe yang sama, seperti bentuk biji gandum dengan rasio 15:1.
- Epistasis gen rangkap dengan efek kumulatif: kehadiran kedua gen dominan memberikan efek lebih kuat, seperti warna biji jagung dengan rasio 9:6:1.
- Polimeri: banyak gen memengaruhi satu sifat secara kumulatif sehingga menghasilkan variasi kontinu, seperti tinggi badan dan warna kulit manusia.
- Kriptomeri: suatu gen baru terekspresi bila gen lain yang mendukung juga hadir, seperti warna bunga Linaria yang hanya ungu bila gen C dan P sama-sama dominan.
- Komplementer: dua gen harus sama-sama aktif agar fenotipe muncul, seperti warna bunga ungu kacang polong dengan rasio 9:7.
| Genotipe | Fenotipe Jengger Ayam |
|---|---|
| R-P- | Walnut |
| R-pp | Rose |
| rrP- | Pea |
| rrpp | Single |
| Genotipe | Jumlah Alel Dominan | Fenotipe (Tinggi Badan) |
|---|---|---|
| AABBCC | 6 alel dominan | Sangat tinggi |
| AABBCc | 5 alel dominan | Tinggi |
| AaBbCc | 3 alel dominan | Tinggi sedang |
| AabbCc | 2 alel dominan | Agak pendek |
| aabbcc | 0 alel dominan | Sangat pendek |
Tautan Pindah Silang dan Gagal Berpisah
Tautan (Linkage)
Tautan adalah kecenderungan dua gen atau lebih yang terletak pada kromosom yang sama untuk diwariskan bersama. Semakin dekat letak gen, semakin kecil kemungkinan terpisah oleh pindah silang, sehingga pewarisannya menyimpang dari hukum asortasi bebas. Pada tautan autosomal, misalnya warna tubuh dan bentuk sayap lalat buah (Drosophila melanogaster), keturunan didominasi kombinasi parental, sedangkan kombinasi rekombinan hanya muncul dalam jumlah kecil ketika terjadi pindah silang.
Tautan seks melibatkan gen yang terletak pada kromosom X atau Y. Karena laki-laki hanya memiliki satu kromosom X, sifat resesif terpaut X lebih mudah muncul pada laki-laki. Contoh klasiknya adalah warna mata lalat buah yang diteliti Thomas Hunt Morgan, dengan alel W⁺ (mata merah) dominan terhadap w (mata putih).
| ♀ / ♂ | W⁺ | w |
|---|---|---|
| w | W⁺w (betina mata merah) | ww (betina mata putih) |
| Y | W⁺Y (jantan mata merah) | wY (jantan mata putih) |
Pindah Silang (Crossing Over)
Pindah silang adalah pertukaran segmen DNA antara kromosom homolog pada profase I meiosis. Prosesnya diawali pembentukan kiasma sebagai titik pertukaran, dilanjutkan pertukaran segmen kromatid, dan menghasilkan gamet rekombinan dengan kombinasi alel baru. Pindah silang mampu memisahkan gen-gen yang tertaut sehingga meningkatkan variasi genetik keturunan.
Peta Kromosom
Peta kromosom disusun berdasarkan frekuensi pindah silang antargen, dengan frekuensi 1% setara dengan jarak 1 sentimorgan (cM). Frekuensi dihitung dengan membagi jumlah keturunan rekombinan dengan jumlah total keturunan lalu dikalikan 100. Jika dari 1.000 keturunan terdapat 150 rekombinan, frekuensinya 15% sehingga kedua gen berjarak 15 cM. Dengan cara ini, misalnya gen A–B berjarak 10 cM, gen B–C berjarak 5 cM, dan gen A–C berjarak 15 cM.
Gagal Berpisah (Nondisjunction)
Gagal berpisah adalah kesalahan pembelahan sel ketika kromosom homolog atau kromatid tidak terpisah dengan benar, sehingga sel anak memiliki jumlah kromosom tidak normal (aneuploidi). Kondisi ini dapat menyebabkan sindrom Down (trisomi 21), sindrom Turner, dan sindrom Klinefelter.
Penentuan Jenis Kelamin (Determinasi Seks)
Pada tahun 1902, McClung memperkenalkan gagasan bahwa kromosom khusus berperan dalam penentuan jenis kelamin. Dari pengamatannya pada belalang, ia menemukan kromosom aksesori yang kemudian dikenal sebagai kromosom X.
Penentuan Jenis Kelamin pada Hewan
- Tipe X/A: berdasarkan perbandingan jumlah kromosom X terhadap set autosom. Rasio X/A = 1 menghasilkan betina dan rasio X/A < 1 menghasilkan jantan, seperti pada lalat buah (Drosophila melanogaster).
- Tipe X/O: betina memiliki dua kromosom X (XX) sedangkan jantan hanya satu kromosom X tanpa kromosom Y (XO), seperti pada belalang.
- Tipe ZW: betina bersifat heterogamet (ZW) dan jantan homogamet (ZZ), ditemukan pada burung, beberapa reptil, ikan, dan kupu-kupu.
- Tipe haploid-diploid: jantan berkembang dari telur yang tidak dibuahi dan bersifat haploid, sedangkan betina berasal dari telur yang dibuahi dan bersifat diploid, seperti pada lebah, tawon, dan semut.
Penentuan Jenis Kelamin pada Tumbuhan
Beberapa tumbuhan juga memiliki kromosom seks. Pada sistem XY, tumbuhan jantan bergenotipe XY dan betina XX. Pada sistem ZW, betina memiliki kromosom ZW dan jantan ZZ; sistem ini ditemukan pada beberapa tanaman seperti rumput atau lumut, meskipun jarang pada tumbuhan berbunga.
Pernah dengar orang berkata, "Wah, wajah cucunya mirip sekali dengan kakeknya!"? Itu bukan sekadar omongan, secara genetik memang bisa terjadi. Sifat yang tidak muncul pada orang tua bisa muncul kembali di generasi cucu, karena gen resesif dapat tersembunyi dan diturunkan diam-diam dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jadi, bisa saja kamu punya lesung pipi atau warna rambut yang sama persis dengan kakek-nenekmu, walau orang tuamu tidak memilikinya.
Soal. Apa yang dimaksud dengan Hukum Mendel I dan bagaimana hukum ini menjelaskan kemunculan kembali sifat resesif pada generasi F2?
Jawaban. Jawaban: Hukum Mendel I atau Hukum Segregasi menyatakan bahwa pasangan alel dipisahkan secara acak ke dalam gamet saat pembentukan sel kelamin, sehingga setiap individu mewarisi satu alel dari masing-masing orang tua. Sifat resesif muncul kembali pada F2 karena alel resesif dari kedua orang tua dapat bertemu kembali dan terekspresi.
Pembahasan. Pada persilangan dua individu heterozigot (Aa × Aa), genotipe F1 adalah Aa yang berfenotipe dominan, tetapi pada F2 kombinasi alel dapat menghasilkan AA, Aa, dan aa. Individu bergenotipe aa akan mengekspresikan sifat resesif. Inilah sebabnya sifat yang sempat "menghilang" pada F1 muncul kembali pada F2 dengan rasio 3:1.
Simulasi Persilangan Monohibrid dan Dihibrid
Tujuan. Memahami prinsip Hukum Mendel I (Segregasi) dan Hukum Mendel II (Asortasi Bebas), melatih keterampilan menganalisis hasil persilangan genetik sederhana, serta menghubungkan teori pewarisan sifat dengan simulasi konkret.
Bahan.
- Manik-manik, kancing, atau kertas berwarna dua jenis (simbol A untuk alel dominan dan a untuk alel resesif)
- Kertas pengamatan
- Pulpen atau pensil
- Kalkulator sederhana (opsional)
Langkah.
- Buatlah kelompok yang terdiri dari 4 orang, lalu siapkan alat dan bahan.
- Tentukan sifat yang akan disimulasikan, misalnya A = alel dominan (bunga merah) dan a = alel resesif (bunga putih).
- Setiap anggota kelompok mengambil dua manik atau kertas secara acak untuk melambangkan gamet dari induk.
- Catat kombinasi genotipe hasil penyilangan (AA, Aa, aa).
- Ulangi hingga terkumpul minimal 20 data, lalu hitung rasio fenotipe dan genotipe yang dihasilkan.
- Untuk simulasi dihibrid, pilih dua sifat, misalnya warna bunga (A = merah, a = putih) dan bentuk daun (B = bulat, b = lonjong), lalu lakukan simulasi persilangan AaBb × AaBb.
- Catat kombinasi genotipe dan fenotipe yang dihasilkan, lalu hitung rasio fenotipe sesuai Hukum Mendel II.
- Diskusikan hasil analisismu dan bandingkan dengan rasio teoritis (monohibrid 3:1, dihibrid 9:3:3:1).
Pertanyaan.
- Apakah ada perbedaan antara hasil simulasi dan teori? Mengapa bisa terjadi?
- Apa yang dimaksud dengan penyimpangan semu Hukum Mendel?
- Bagaimana simulasi ini membantu memahami pola pewarisan sifat?
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp