Setelah menata stabilitas politik, Soeharto memfokuskan perhatian pada pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita).
Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita I–V)
- Repelita I (1969–1974): pemulihan ekonomi pasca-krisis, fokus produksi beras, pengendalian inflasi, dan infrastruktur dasar.
- Repelita II (1974–1979): diversifikasi ekonomi lewat industri pengolahan dan infrastruktur lintas provinsi; sektor minyak-gas mulai menopang keuangan negara.
- Repelita III (1979–1984): industrialisasi lebih dalam, ekspor minyak-gas melonjak, pembangunan bendungan seperti Karangkates (1977).
- Repelita IV (1984–1989): pengembangan industri non-migas, pendidikan, Bandara Soekarno-Hatta (diresmikan 1 Mei 1985), dan satelit Palapa (1976).
- Repelita V (1989–1994): modernisasi lanjutan, jalan tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatera, mulai memperhatikan pembangunan ramah lingkungan.
Bandara Soekarno-Hatta diresmikan pada 1 Mei 1985, di tengah Repelita IV, dirancang menjadi salah satu bandara terbesar dan tersibuk di Asia Tenggara, menggantikan fungsi utama Bandara Kemayoran.
Revolusi Hijau dan Pancausaha Tani
Revolusi Hijau memperkenalkan benih unggul, pupuk kimia, dan irigasi modern lewat program Intensifikasi, Ekstensifikasi, Diversifikasi, dan Rehabilitasi, didukung Pancausaha Tani (pengolahan tanah, irigasi, bibit unggul, pupuk-obat hama, pemberantasan hama). Pada 1984 Indonesia mencapai swasembada beras dan menerima penghargaan FAO, meski dalam jangka panjang menimbulkan ketergantungan pupuk kimia dan penurunan kualitas tanah.
Pembangunan Infrastruktur
Pemerintah membangun Jalan Lintas Sumatera dan Jalan Lintas Jawa, jalur ganda kereta Pantura, bendungan Karangkates dan Jatiluhur, serta Bandara Soekarno-Hatta sebagai hub internasional. Di bidang teknologi, Satelit Palapa (9 Juli 1976) menjadikan Indonesia negara pertama di Asia Tenggara dengan satelit komunikasi, sementara IPTN (didirikan 26 April 1976, dipimpin BJ Habibie) mengembangkan pesawat terbang lokal seperti N-250. Industri strategis lain seperti PT Krakatau Steel (1970) dan Pertamina memperkuat basis industri nasional.
Soal. Apa dampak utama penerapan kebijakan Revolusi Hijau pada sektor pertanian Indonesia?
Jawaban. Meningkatkan kesejahteraan petani dan mengantarkan swasembada beras pada 1984, namun juga menurunkan kualitas tanah dalam jangka panjang akibat ketergantungan pada pupuk kimia.
Kegiatan Kelompok 1: Politik, Ekonomi, dan Sosial Orde Baru
Tujuan. Menganalisis sistem politik, peran militer dan Golkar, kebijakan ekonomi, serta dampaknya terhadap kehidupan sosial di era Orde Baru.
- Bentuk kelompok 4–5 orang, lalu pelajari data berikut:
- Diskusikan peran Golkar dan militer, keberhasilan dan kelemahan sistem politik, serta dampak kebijakan ekonomi dan kependudukan terhadap rakyat; susun kesimpulan dalam tabel kelebihan-kekurangan.
| Aspek | Penjelasan Singkat |
|---|---|
| Politik | Sistem satu partai dominan (Golkar), militer berperan besar, kontrol ketat terhadap media |
| Ekonomi | Fokus pembangunan, swasembada pangan, pertumbuhan tinggi, namun ketimpangan mulai muncul |
| Sosial | Program KB, pembangunan infrastruktur besar-besaran, namun pembatasan kebebasan berpendapat |
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp