Fitri Learning

BelajarBahasa Indonesia SMP Kelas 7Bab 2

Struktur dan Kebahasaan dalam Dongeng Fantasi

Bahasa Indonesia SMP Kelas 7 · Bab 2: Menciptakan Dunia Imajinasi Lewat Teks Dongeng Fantasi

Seperti halnya teks naratif lainnya, dongeng fantasi juga memiliki struktur dan ciri kebahasaan khas yang membuatnya menarik, logis, dan menyentuh imajinasi pembaca. Dalam menulis dongeng fantasi, dua aspek penting ini perlu diperhatikan agar cerita yang dihasilkan tidak hanya imajinatif, tetapi juga koheren, bermakna, dan mudah dipahami.

a. Struktur Teks Dongeng Fantasi

Struktur teks dongeng fantasi umumnya terdiri dari empat bagian utama. Keempat bagian ini membantu pengarang menyusun ide dan peristiwa dengan urutan logis dan menarik. Berikut adalah struktur dasar yang biasa digunakan:

Orientasi

Bagian ini berisi pengenalan tokoh, latar (waktu dan tempat), serta gambaran awal suasana cerita. Tujuan orientasi adalah mengantar pembaca mengenal dunia imajinatif yang diciptakan pengarang.

“Di sebuah desa yang tersembunyi di balik bukit berkabut, hiduplah seorang anak bernama Sora yang memiliki kemampuan berbicara dengan angin. Sora tinggal bersama neneknya di rumah kayu kecil yang dikelilingi pohon-pohon raksasa. Suatu hari, angin berbisik bahwa bahaya besar akan datang dari arah barat.”

Penjelasan:

Bagian ini memperkenalkan tokoh utama (Sora), latar tempat (desa tersembunyi), waktu (tidak disebutkan langsung, tapi bisa disimpulkan suasana pagi atau sore), dan situasi awal (kehidupan biasa namun memiliki unsur fantasi: berbicara dengan angin).

Komplikasi

Komplikasi adalah bagian saat tokoh utama mulai menghadapi konflik. Biasanya, konflik timbul dari perbedaan tujuan, ancaman, atau tantangan yang tidak biasa.

“Angin memberitahu Sora bahwa seekor naga hitam yang tidur selama seribu tahun telah bangun dan sedang menuju desa mereka. Banyak desa di sekitarnya sudah hancur. Meskipun takut, Sora merasa ia harus melakukan sesuatu. Tapi bagaimana caranya? Ia hanyalah seorang anak.”

Penjelasan:

Bagian ini memunculkan konflik utama dalam cerita, yaitu ancaman dari naga hitam, serta menunjukkan dilema tokoh utama (Sora merasa kecil dan takut tapi harus bertindak).

Resolusi

Pada bagian ini, konflik mulai mendapatkan penyelesaian. Tokoh melakukan tindakan untuk mengatasi permasalahan dan situasi perlahan mulai kembali kondusif.

“Dengan bantuan angin, Sora menemukan seruling kuno peninggalan leluhur yang memiliki kekuatan untuk menidurkan makhluk jahat. Di tebing tertinggi, ia memainkan melodi angin yang membuat naga itu tertidur kembali dalam goa batu. Desa pun selamat.”

Penjelasan:

Di sini konflik utama mulai diselesaikan. Tokoh utama menemukan solusi (seruling), lalu menggunakannya untuk menyelesaikan masalah (menidurkan naga).

Koda

Koda adalah penutup cerita. Bagian ini sering berisi perubahan sikap atau kesadaran tokoh, serta pesan moral atau pelajaran yang bisa dipetik oleh pembaca.

“Sejak saat itu, Sora dikenal sebagai Penjaga Angin. Ia tidak lagi merasa kecil dan tidak berguna. Ia belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi tetap bertindak walaupun takut.”

Penjelasan:

Koda memberikan penutup cerita yang menyentuh. Tokoh utama berubah (lebih percaya diri) dan pembaca mendapatkan pesan moral: tentang keberanian dan pengorbanan.

Setiap bagian dalam struktur tersebut saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan cerita utuh yang penuh makna.

b. Kebahasaan dalam Teks Dongeng Fantasi

Ciri kebahasaan dalam dongeng fantasi berfungsi untuk memperkuat unsur imajinasi dan menggambarkan kejadian luar biasa seolah-olah benar-benar terjadi. Berikut adalah beberapa ciri kebahasaan yang umum ditemukan:

•

Penggunaan kata sifat

  • yang menggambarkan tokoh, seperti “cerdik”, “licik”, “bijaksana”, atau “pemarah”. Kata sifat ini membantu pembaca memahami karakter tokoh secara lebih jelas.

•

Keterangan waktu dan tempat

  • yang variatif dan imajinatif. Contohnya: “Di negeri langit kelima…”, “Pada suatu malam berhujan bintang…”.

•

Kata kerja tindakan

  • untuk menunjukkan aksi tokoh, misalnya “melompat”, “menyihir”, “menyelamatkan”, “mengutuk”.

•

Kalimat langsung

  • digunakan untuk menyampaikan dialog antar tokoh. Biasanya ditandai dengan tanda kutip (“…”) dan memberikan kesan lebih hidup.

•

Bahasa yang bermakna denotatif

  • , yaitu makna yang jelas dan langsung, agar pesan cerita mudah dipahami pembaca.

•

Bahasa yang menggugah imajinasi

  • , seperti metafora atau personifikasi, yang membuat dunia cerita terasa hidup dan memikat.

c. Contoh Kalimat dengan Ciri Kebahasaan

Kata sifat tokoh

“Si Ular Licik itu selalu datang dengan senyum palsunya yang menyembunyikan niat jahat.”

Keterangan tempat imajinatif

“Di negeri Pelangi Hitam, setiap langkah kaki akan meninggalkan jejak cahaya.”

Kalimat langsung

““Aku tidak akan menyerah!” teriak si kucing ajaib sambil mengayunkan tongkatnya ke langit.”

Kata kerja tindakan

“Naga raksasa itu mengibaskan sayapnya dan menghancurkan seluruh bukit es.”

Gratis — tolong sebarkan

Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.

Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya →