Suhu Tubuh Manusia
Suhu tubuh manusia pada kondisi normal berkisar antara 36,5°C–37,5°C, relatif stabil karena tubuh memiliki mekanisme pengaturan agar panas dari metabolisme tidak berlebihan maupun kekurangan.
Sistem Pengatur Suhu Tubuh pada Manusia
Pusat pengatur suhu tubuh terletak di hipotalamus, yang berfungsi seperti "termostat biologis". Saat suhu tubuh meningkat, hipotalamus memerintahkan kelenjar keringat memperbanyak produksi keringat, dan pembuluh darah kulit melebar (vasodilatasi) agar panas berpindah keluar. Saat suhu tubuh menurun, pembuluh darah kulit menyempit (vasokonstriksi) dan otot menggigil untuk menghasilkan panas tambahan.
Cara Mengukur Suhu Tubuh
Suhu tubuh dapat diketahui secara kualitatif (sentuhan) atau kuantitatif (termometer), dengan hasil berbeda tergantung lokasi pengukuran:
- Di bawah lidah (mulut): sekitar 37°C
- Di ketiak: sekitar 36,5°C
- Di rektum (anus): sekitar 37,5°C
Suhu Tubuh Hewan
Kemampuan hewan menjaga kestabilan suhu tubuh disebut termoregulasi. Berdasarkan mekanismenya, hewan dibedakan menjadi hewan ektoterm dan hewan endoterm.
Hewan Ektoterm: Menyerap Panas dari Lingkungan
Cara menghangatkan tubuh: berbaring di batu hangat (konduksi), berjemur (radiasi), atau masuk ke sarang tertutup udara untuk menghindari hilangnya panas (konveksi). Cara mendinginkan tubuh: bersembunyi di tempat teduh atau liang bawah tanah, berendam di air atau lumpur dingin, dan menghindari paparan langsung sinar matahari. Contohnya buaya dan kadal yang berjemur di siang hari, serta lebah yang membangun sarang berongga untuk sirkulasi udara.
Hewan Endoterm: Menghasilkan Panas dari Dalam Tubuh
Hewan endoterm (berdarah panas) seperti burung dan mamalia menghasilkan sebagian besar panas tubuh dari metabolisme, sehingga suhunya relatif tetap walau lingkungan berubah. Mekanisme perilaku (behavioral): hibernasi (beruang kutub di musim dingin), estivasi (lemur atau katak gurun di musim panas), menyemprot air ke tubuh (gajah) atau berendam lumpur (badak), dan tupai tanah menutupi tubuh dengan ekornya. Mekanisme struktur tubuh (morphological): bulu pada burung dan rambut pada mamalia sebagai isolator, serta lapisan lemak di bawah kulit pada hewan kutub seperti paus dan anjing laut.
Soal. Seekor beruang kutub hidup di daerah bersuhu sangat rendah dan memiliki lapisan lemak tebal serta bulu yang rapat. Akibat perubahan iklim, wilayah tempat tinggalnya mengalami peningkatan suhu rata-rata sebesar 7°C dalam 10 tahun terakhir, sehingga beruang kutub mulai sering berendam di air laut dingin lebih lama dari biasanya. Jelaskan bagaimana perubahan perilaku ini menunjukkan keterkaitan antara mekanisme fisiologis dan perilaku dalam menjaga kestabilan suhu tubuhnya!
Pembahasan. Beruang kutub termasuk hewan endoterm yang menghasilkan panas tubuh dari metabolisme internal. Lapisan lemak tebal dan bulu rapat biasanya membantu mengisolasi panas agar tubuh tetap hangat di lingkungan dingin. Namun saat suhu lingkungan meningkat, mekanisme isolasi tersebut justru membuat tubuh mudah overheating, sehingga beruang menggunakan termoregulasi perilaku dengan berendam lebih lama di air laut dingin agar panas tubuhnya tersalurkan melalui konduksi dan konveksi — menunjukkan koordinasi antara mekanisme fisiologis dan perilaku sebagai bentuk adaptasi dinamis terhadap perubahan lingkungan.
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp