Fitri Learning

BelajarIPS SMP Kelas 8Bab 3

Ekspansi, Penaklukan, dan Penjajahan di Indonesia

IPS SMP Kelas 8 · Bab 3: Semangat Kebangsaan dan Identitas Nasional

Pada abad ke-14, penjelajahan samudra oleh bangsa Eropa dimulai sebagai respons terhadap keterbatasan sumber daya di Eropa dan keinginan menemukan jalur perdagangan baru. Penjelajahan ini berujung penguasaan berbagai wilayah, termasuk Indonesia yang kaya rempah-rempah, emas, dan komoditas lain, dan bertransformasi menjadi imperialisme.

Faktor Geografis dalam Ekspansi Wilayah di Indonesia

Indonesia menjadi jalur perdagangan utama penghubung Asia dan Eropa karena terletak di antara dua samudra besar, dengan kekayaan alam yang dibutuhkan negara-negara Eropa. Banyaknya selat dan perairan penghubung antarwilayah mempermudah akses transportasi laut, menjadikan Indonesia titik strategis penjelajahan samudra.

Motivasi yang Mendorong Ekspansi

Tiga faktor utama pendorong penjelajahan disebut "3G" (Gold, Glory, Gospel): Gold — kekayaan alam terutama rempah-rempah (lada, cengkeh, pala, kayu manis) serta hasil tambang (emas, perak, timah); Glory — ambisi memperluas pengaruh dan kekuasaan; Gospel — misi penyebaran agama Kristen. Revolusi Industri abad ke-18 memperkuat imperialisme modern lewat kemajuan transportasi dan manufaktur, dengan tujuan menyediakan pasar bagi barang Eropa, menguasai sumber daya alam, dan memperkuat kekuasaan politik-ekonomi.

Kondisi Masyarakat Indonesia di Bawah Penjajahan Bangsa Eropa

  • Portugis: tiba akhir abad ke-15 di bawah Vasco da Gama, menaklukkan Malaka (1511) lewat Alfonso de Albuquerque, membangun benteng di Ternate (1512); mendominasi perdagangan rempah hingga terdesak Belanda pada awal abad ke-17.
  • Spanyol: ekspedisi Ferdinand Magellan tiba di Filipina (1521) membuka jalan eksplorasi Maluku; berkonflik dengan Portugis hingga Perjanjian Saragosa (1529), namun kalah bersaing dengan Portugis dan Belanda.
  • Inggris: Francis Drake dan Thomas Cavendish singgah di Maluku (1577); East India Company (EIC) mendirikan pos di Banten (1602), namun menyerahkan Maluku ke Belanda (1667) dan akhirnya memusatkan koloni di India.
  • Belanda: VOC didirikan 1602 dengan hak istimewa (mendirikan benteng, memonopoli dagang, berperang, mencetak uang, membentuk tentara). VOC menguasai Ambon-Tidore (1605), Banda (1609), dan Batavia (1619) sebagai pusat komando. VOC dibubarkan 31 Desember 1799 akibat korupsi, perdagangan ilegal, biaya perang, dan persaingan Eropa; Hindia Belanda lahir di bawah Gubernur Jenderal Williem Daendels.
Gambar: Peta jalur Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) sepanjang Anyer–Panarukan yang dibangun pada era Daendels.

Kebijakan kolonial seperti monopoli perdagangan, kerja paksa (jalan Anyer-Panarukan era Daendels), dan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel oleh Johannes van den Bosch, 1830, mewajibkan petani menanam kopi/tebu di 20% lahan) menindas rakyat hingga dihapus 1870 dan digantikan kebijakan Pintu Terbuka (Open Door Policy). Transformasi yang terjadi meliputi aspek geografis (perombakan tata guna lahan, pembangunan infrastruktur, pembagian provincie-afdeling), politik (sistem de jure-de facto, hierarki administrasi terpusat), ekonomi (perkebunan skala besar, sistem upah-kontrak-pajak, penanaman modal asing), sosial-budaya (stratifikasi sosial Eropa-pribumi-peranakan, penyebaran Kristen), dan pendidikan (sistem terbatas namun melahirkan kaum terpelajar penggerak nasionalisme).

  • Perlawanan terhadap Portugis: Ternate, Tidore, Aceh, dan Demak menentang monopoli dagang hingga Portugis kalah pada akhir abad ke-17.
  • Perlawanan terhadap VOC: Ternate, Tidore, Ambon, Mataram, dan Gowa-Tallo menentang kebijakan menindas VOC.
  • Perang Aceh (1873–1942): perlawanan terlama Indonesia, dipimpin tokoh seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dien, menghabiskan banyak sumber daya Belanda.
  • Perang Tapanuli (1878–1907): dipimpin Si Singamangaraja XII, berakhir setelah ia gugur di Dairi.
  • Perang Padri (1821–1837): dipimpin Tuanku Imam Bonjol di Sumatra Barat, berakhir dengan penangkapan dan pengasingannya.
  • Perlawanan Palembang: dipimpin Sultan Mahmud Badaruddin II, jatuh ke Belanda pada 1824.
  • Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825–1830): dipimpin Pangeran Diponegoro, berakhir setelah ia ditipu dan ditangkap Jenderal De Kock.
  • Perlawanan Bali: dipimpin Raja Buleleng dan I Gusti Ketut Jelantik terkait hak tawan karang, berakhir dengan takluknya Buleleng (1849).
  • Perlawanan Kalimantan: dipimpin Pangeran Antasari dan tokoh lain di Banjarmasin sejak 1859.
  • Perlawanan Sulawesi Selatan: Sultan Hasanuddin menentang Perjanjian Bongaya (1667); Kerajaan Suppa dan Kerajaan Bone melawan hingga takluk 1825.
  • Perang Pattimura (1817) di Maluku: dipimpin Thomas Matulessy (Pattimura), dilanjutkan Christina Tiahahu setelah Pattimura dieksekusi 1818.

Kondisi Masyarakat Indonesia pada Masa Penjajahan Jepang di Indonesia

Jepang mengakhiri kebijakan sakoku lewat Konvensi Kanagawa (1854) dan Restorasi Meiji (1868), berkembang menjadi kekuatan industri-militer. Setelah menyerang Pearl Harbor (8 Desember 1941), Jepang menginvasi Indonesia mulai Tarakan (11 Januari 1942), dan Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati (8 Maret 1942). Jepang menarik simpati lewat propaganda "saudara tua", Gerakan Tiga A, dan pembebasan tokoh nasional dari tahanan Belanda.

  • Geografi: perkebunan dialihkan untuk karet, kina, dan jarak demi kebutuhan perang; eksploitasi hutan tanpa penghijauan merusak lingkungan.
  • Politik: wilayah dibagi tiga pemerintahan militer (barat, tengah, timur); dibentuk organisasi Poetera, Hokokai, Chuo Sangi-in, serta lembaga militer Heiho, Peta, Keibodan, Seinendan, Fujinkai, dan polisi militer Kempeitai yang represif.
  • Ekonomi: petani wajib menyerahkan 60% hasil panen; eksploitasi SDM lewat kerja paksa romusha untuk membangun infrastruktur militer.
  • Sosial: propaganda lewat radio-film-poster, tonarigumi (rukun tetangga) untuk mengawasi masyarakat, ketegangan antaretnis semakin dalam.
  • Budaya: Keimin Bunkei Shisodo (1943) menyebarkan budaya Jepang; seikerei, lagu Kimigayo, dan penanggalan Jepang dipaksakan; seniman kritis ditangkap.
  • Pendidikan: kurikulum diarahkan membentuk loyalitas pada Jepang, pelajar dilibatkan kerja bakti, namun sebagian mendapat beasiswa ke Jepang.

Perlawanan terhadap Jepang berbeda dari perlawanan terhadap Belanda — rakyat menyadari Jepang bukan pembebas, melainkan penjajah baru. Perlawanan lebih terorganisir lewat gerakan bawah tanah dan pemikiran ideologis, hingga akhirnya bermuara pada proklamasi kemerdekaan 1945.

Tanya jawab

Jelaskan bagaimana ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman berkontribusi pada penjelajahan samudra dan dominasi Belanda di Indonesia!
Ekspedisi Cornelis de Houtman (1595) membuka jalur perdagangan langsung Belanda-Indonesia, mencapai Banten meski menghadapi rintangan. Ekspedisi ini menjadi langkah awal berdirinya VOC (1602), yang kemudian mendominasi perdagangan rempah, menguasai wilayah strategis, dan mendirikan koloni yang berlanjut menjadi penjajahan lebih dari tiga abad.

Pokok-Pokok Gerilja

Strategi perang gerilya Pangeran Diponegoro diwariskan lewat kisah keturunannya hingga sampai kepada Jenderal Sudirman, yang berhasil mengacaukan pertahanan Belanda, dan akhirnya dituliskan kembali oleh Jenderal A.H. Nasution dalam buku Pokok-Pokok Gerilja (1953). Buku ini berisi prinsip dan teknik perang gerilya dan menjadi rujukan pendidikan militer di berbagai negara.

Gratis — tolong sebarkan

Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.

Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya →