-
Soal
Seorang ilmuwan melakukan eksperimen dengan dua larutan berbeda: Larutan A: 0,5 mol urea (non-elektrolit) dilarutkan dalam 1 kg air. Larutan B: 0,2 mol 𝐶𝑎𝐶𝑙2 (elektrolit kuat) dilarutkan dalam 1 kg air. Setelah dilakukan pengamatan, diketahui bahwa sifat koligatif larutan B lebih besar daripada larutan A. Pernyataan berikut menjelaskan hasil pengamatan ini. Manakah yang paling benar?
Lihat pembahasan
Jawaban: C. Sifat koligatif larutan B lebih besar karena ionisasi 𝐶𝑎𝐶𝑙2 menghasilkan jumlah partikel lebih banyak dibandingkan urea. Pembahasan: Sifat koligatif larutan bergantung pada jumlah total partikel dalam larutan, bukan jenis zat terlarut. Urea, sebagai non-elektrolit, tidak terurai dalam larutan, sehingga setiap molekul tetap satu partikel. Sebaliknya, 𝐶𝑎𝐶𝑙2, sebagai elektrolit kuat, terionisasi menjadi tiga ion (𝐶𝑎2+ dan 2C𝑙-), menghasilkan partikel lebih banyak dibandingkan urea. Karena sifat koligatif, seperti penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, dan penurunan titik beku, bergantung pada jumlah partikel, larutan B memiliki efek koligatif lebih besar. Jawaban A salah karena jumlah partikel pada larutan B lebih banyak. Jawaban B salah karena sifat koligatif tidak hanya bergantung pada jenis zat, melainkan jumlah total partikel. Jawaban D salah karena massa zat terlarut tidak relevan. Jawaban E salah karena sifat koligatif berbeda karena perbedaan jumlah partikel.
-
Soal
Seorang ilmuwan melakukan eksperimen dengan dua larutan berbeda: Larutan A: 0,5 mol urea (non-elektrolit) dilarutkan dalam 1 kg air. Larutan B: 0,2 mol (elektrolit kuat) dilarutkan dalam 1 kg air. Setelah dilakukan pengamatan, diketahui bahwa sifat koligatif larutan B lebih besar daripada larutan A. Pernyataan berikut menjelaskan hasil pengamatan ini. Manakah yang paling benar?
Lihat pembahasan
Jawaban: C. Sifat koligatif larutan B lebih besar karena ionisasi 𝐶𝑎𝐶𝑙2 menghasilkan jumlah partikel lebih banyak dibandingkan urea. Pembahasan: Sifat koligatif larutan bergantung pada jumlah total partikel dalam larutan, bukan jenis zat terlarut. Urea, sebagai non-elektrolit, tidak terurai dalam larutan, sehingga setiap molekul tetap satu partikel. Sebaliknya, , sebagai elektrolit kuat, terionisasi menjadi tiga ion ( dan ), menghasilkan partikel lebih banyak dibandingkan urea. Karena sifat koligatif, seperti penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, dan penurunan titik beku, bergantung pada jumlah partikel, larutan B memiliki efek koligatif lebih besar. Jawaban A salah karena jumlah partikel pada larutan B lebih banyak. Jawaban B salah karena sifat koligatif tidak hanya bergantung pada jenis zat, melainkan jumlah total partikel. Jawaban D salah karena massa zat terlarut tidak relevan. Jawaban E salah karena sifat koligatif berbeda karena perbedaan jumlah partikel.
-
Soal
Seorang ilmuwan melakukan eksperimen dengan dua larutan berbeda: Larutan A: 0,5 mol urea (non-elektrolit) dilarutkan dalam 1 kg air. Larutan B: 0,2 mol (elektrolit kuat) dilarutkan dalam 1 kg air. Setelah dilakukan pengamatan, diketahui bahwa sifat koligatif larutan B lebih besar daripada larutan A. Pernyataan berikut menjelaskan hasil pengamatan ini. Manakah yang paling benar?
Lihat pembahasan
Jawaban: C. Sifat koligatif larutan B lebih besar karena ionisasi menghasilkan jumlah partikel lebih banyak dibandingkan urea. Pembahasan: Sifat koligatif larutan bergantung pada jumlah total partikel dalam larutan, bukan jenis zat terlarut. Urea, sebagai non-elektrolit, tidak terurai dalam larutan, sehingga setiap molekul tetap satu partikel. Sebaliknya, , sebagai elektrolit kuat, terionisasi menjadi tiga ion ( dan ), menghasilkan partikel lebih banyak dibandingkan urea. Karena sifat koligatif, seperti penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, dan penurunan titik beku, bergantung pada jumlah partikel, larutan B memiliki efek koligatif lebih besar. Jawaban A salah karena jumlah partikel pada larutan B lebih banyak. Jawaban B salah karena sifat koligatif tidak hanya bergantung pada jenis zat, melainkan jumlah total partikel. Jawaban D salah karena massa zat terlarut tidak relevan. Jawaban E salah karena sifat koligatif berbeda karena perbedaan jumlah partikel.
-
Soal
Seorang ilmuwan melakukan eksperimen dengan dua larutan berbeda: Larutan A: 0,5 mol urea (non-elektrolit) dilarutkan dalam 1 kg air. Larutan B: 0,2 mol (elektrolit kuat) dilarutkan dalam 1 kg air. Setelah dilakukan pengamatan, diketahui bahwa sifat koligatif larutan B lebih besar daripada larutan A. Pernyataan berikut menjelaskan hasil pengamatan ini. Manakah yang paling benar?
Lihat pembahasan
Jawaban: C. Sifat koligatif larutan B lebih besar karena ionisasi menghasilkan jumlah partikel lebih banyak dibandingkan urea. Pembahasan: Sifat koligatif larutan bergantung pada jumlah total partikel dalam larutan, bukan jenis zat terlarut. Urea, sebagai non-elektrolit, tidak terurai dalam larutan, sehingga setiap molekul tetap satu partikel. Sebaliknya, , sebagai elektrolit kuat, terionisasi menjadi tiga ion ( Ca^2^+ dan ), menghasilkan partikel lebih banyak dibandingkan urea. Karena sifat koligatif, seperti penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, dan penurunan titik beku, bergantung pada jumlah partikel, larutan B memiliki efek koligatif lebih besar. Jawaban A salah karena jumlah partikel pada larutan B lebih banyak. Jawaban B salah karena sifat koligatif tidak hanya bergantung pada jenis zat, melainkan jumlah total partikel. Jawaban D salah karena massa zat terlarut tidak relevan. Jawaban E salah karena sifat koligatif berbeda karena perbedaan jumlah partikel.
-
Soal
Seorang ilmuwan melakukan eksperimen dengan dua larutan berbeda: Larutan A: 0,5 mol urea (non-elektrolit) dilarutkan dalam 1 kg air. Larutan B: 0,2 mol (elektrolit kuat) dilarutkan dalam 1 kg air. Setelah dilakukan pengamatan, diketahui bahwa sifat koligatif larutan B lebih besar daripada larutan A. Pernyataan berikut menjelaskan hasil pengamatan ini. Manakah yang paling benar?
Lihat pembahasan
Jawaban: C. Sifat koligatif larutan B lebih besar karena ionisasi menghasilkan jumlah partikel lebih banyak dibandingkan urea. Pembahasan: Sifat koligatif larutan bergantung pada jumlah total partikel dalam larutan, bukan jenis zat terlarut. Urea, sebagai non-elektrolit, tidak terurai dalam larutan, sehingga setiap molekul tetap satu partikel. Sebaliknya, , sebagai elektrolit kuat, terionisasi menjadi tiga ion ( dan ), menghasilkan partikel lebih banyak dibandingkan urea. Karena sifat koligatif, seperti penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, dan penurunan titik beku, bergantung pada jumlah partikel, larutan B memiliki efek koligatif lebih besar. Jawaban A salah karena jumlah partikel pada larutan B lebih banyak. Jawaban B salah karena sifat koligatif tidak hanya bergantung pada jenis zat, melainkan jumlah total partikel. Jawaban D salah karena massa zat terlarut tidak relevan. Jawaban E salah karena sifat koligatif berbeda karena perbedaan jumlah partikel.
-
Soal
Seorang siswa mengamati dua larutan pada suhu yang sama: • Larutan X: Mengandung 1 mol glukosa (non-volatil) dalam 2 liter air. • Larutan Y: Mengandung 0,5 mol urea (non-volatil) dalam 1 liter air. Setelah mengukur tekanan uap kedua larutan, siswa mendapati bahwa larutan Y memiliki tekanan uap yang lebih rendah dibandingkan larutan X. Apa penjelasan paling logis untuk fenomena ini?
Lihat pembahasan
Jawaban: A. Larutan Y memiliki konsentrasi zat terlarut lebih tinggi, sehingga tekanan uapnya lebih rendah dibandingkan larutan X. Pembahasan: Penurunan tekanan uap larutan bergantung pada fraksi mol zat terlarut. Dalam larutan Y, konsentrasi zat terlarut lebih tinggi dibandingkan larutan X, karena larutan Y memiliki 0,5 mol zat terlarut dalam 1 liter air, sedangkan larutan X memiliki 1 mol zat terlarut dalam 2 liter air. Konsentrasi yang lebih tinggi pada larutan Y mengurangi jumlah molekul pelarut di permukaan larutan, sehingga tekanan uap larutan Y lebih rendah. Jawaban B salah karena jumlah partikel tidak sama; larutan Y memiliki konsentrasi lebih tinggi. Jawaban C salah karena tekanan uap bergantung pada konsentrasi zat terlarut. Jawaban D dan E salah karena sifat koligatif tidak bergantung pada jenis zat terlarut, melainkan jumlah partikel.
-
Soal
Seorang ahli kimia membuat larutan dengan melarutkan sejumlah zat A ke dalam pelarut B. Setelah larutan terbentuk, ia mencatat bahwa fraksi mol zat A lebih kecil dibandingkan fraksi mol pelarut B. Pernyataan berikut mencoba menjelaskan kondisi ini. Manakah yang paling tepat?
Lihat pembahasan
Jawaban: B. Fraksi mol zat A lebih kecil karena jumlah mol pelarut B lebih besar dibandingkan jumlah mol zat A dalam larutan. Pembahasan: Fraksi mol suatu komponen dalam larutan dihitung dengan membagi jumlah mol komponen tersebut dengan jumlah mol total dalam larutan (X=n komponenn totalX = \frac{}{}). Dalam kasus ini, fraksi mol zat A lebih kecil dibandingkan pelarut B karena jumlah mol pelarut B lebih besar, yang umum terjadi pada larutan encer di mana pelarut biasanya berjumlah jauh lebih banyak dibandingkan zat terlarut. Pilihan A salah karena fraksi mol tidak ditentukan oleh massa molar melainkan jumlah mol. Pilihan C salah karena penambahan pelarut tidak otomatis menjelaskan perbandingan fraksi mol, kecuali melalui jumlah mol. Pilihan D salah karena ionisasi akan meningkatkan jumlah partikel zat A, bukan menguranginya. Pilihan E salah karena kesulitan melarut tidak memengaruhi definisi fraksi mol, selama zat A larut dalam pelarut.
-
Soal
Seorang ilmuwan membuat larutan dengan melarutkan 18 gram glukosa C6H12O6_{12} (massa molar = 180 g/mol) ke dalam 180 gram air. Tekanan uap air murni pada suhu 25 °C adalah 23,8 mmHg. Anggap bahwa glukosa tidak menguap dan air adalah satu-satunya komponen yang menghasilkan tekanan uap. Berapakah tekanan uap larutan tersebut pada suhu 25 °C?
Lihat pembahasan
Jawaban: C. 22,8 mmHg Pembahasan: 1. Hitung mol zat terlarut (glukosa): Mol glukosa=massamassa molar=18180=0,1 mol 2. Hitung mol pelarut (air): Mol air=massamassa molar=18018=10 mol 3. Hitung fraksi mol pelarut ( XpelarutX_{} ): Xpelarut=mol pelarutmol pelarut+mol zat terlarut=1010+0,1=1010,1≈0,990X_{} = \frac{}{ + } = = 0,990 4. Hitung tekanan uap larutan ( PlarutanP_{} ) menggunakan Hukum Raoult: Plarutan=Xpelarut⋅Ppelarut0P_{} = X_{} _{} Plarutan=0,990⋅23,8 mmHg≈22,8 mmHg 5. Kesimpulan: Tekanan uap larutan adalah 22,8 mmHg, sehingga jawaban yang benar adalah C. Catatan: Penurunan tekanan uap ( ΔP P ΔP) dapat dihitung sebagai: ΔP=Ppelarut0−Plarutan=23,8−22,8=1,0 mmHg P = _{} - P_{} = 23,8 - 22,8 = 1,0 \, Ini menunjukkan bahwa tekanan uap larutan menurun sebesar 1,0 mmHg akibat adanya zat terlarut.
-
Soal
Seorang ilmuwan membuat larutan dengan melarutkan 18 gram glukosa (massa molar = 180 g/mol) ke dalam 180 gram air. Tekanan uap air murni pada suhu 25 °C adalah 23,8 mmHg. Anggap bahwa glukosa tidak menguap dan air adalah satu-satunya komponen yang menghasilkan tekanan uap. Berapakah tekanan uap larutan tersebut pada suhu 25 °C?
Lihat pembahasan
Jawaban: C. 22,8 mmHg Pembahasan: 1. Hitung mol zat terlarut (glukosa): Mol glukosa=massamassa molar=18180=0,1 mol 2. Hitung mol pelarut (air): Mol air=massamassa molar=18018=10 mol 3. Hitung fraksi mol pelarut ( XpelarutX_{} ): Xpelarut=mol pelarutmol pelarut+mol zat terlarut=1010+0,1=1010,1≈0,990X_{} = \frac{}{ + } = = 0,990 4. Hitung tekanan uap larutan ( PlarutanP_{} ) menggunakan Hukum Raoult: Plarutan=Xpelarut⋅Ppelarut0P_{} = X_{} _{} Plarutan=0,990⋅23,8 mmHg≈22,8 mmHg 5. Kesimpulan: Tekanan uap larutan adalah 22,8 mmHg, sehingga jawaban yang benar adalah C. Catatan: Penurunan tekanan uap ( ΔP P ΔP) dapat dihitung sebagai: ΔP=Ppelarut0−Plarutan=23,8−22,8=1,0 mmHg P = _{} - P_{} = 23,8 - 22,8 = 1,0 \, Ini menunjukkan bahwa tekanan uap larutan menurun sebesar 1,0 mmHg akibat adanya zat terlarut.
-
Soal
Seorang ilmuwan membuat larutan dengan melarutkan 18 gram glukosa C_6H_1_2O_6 (massa molar = 180 g/mol) ke dalam 180 gram air. Tekanan uap air murni pada suhu 25 °C adalah 23,8 mmHg. Anggap bahwa glukosa tidak menguap dan air adalah satu-satunya komponen yang menghasilkan tekanan uap. Berapakah tekanan uap larutan tersebut pada suhu 25 °C?
Lihat pembahasan
Jawaban: C. 22,8 mmHg Pembahasan: 1. Hitung mol zat terlarut (glukosa): Mol glukosa=massamassa molar=18180=0,1 mol 2. Hitung mol pelarut (air): Mol air=massamassa molar=18018=10 mol 3. Hitung fraksi mol pelarut ( XpelarutX_{} ): Xpelarut=mol pelarutmol pelarut+mol zat terlarut=1010+0,1=1010,1≈0,990X_{} = \frac{}{ + } = = 0,990 4. Hitung tekanan uap larutan ( PlarutanP_{} ) menggunakan Hukum Raoult: Plarutan=Xpelarut⋅Ppelarut0P_{} = X_{} _{} Plarutan=0,990⋅23,8 mmHg≈22,8 mmHg 5. Kesimpulan: Tekanan uap larutan adalah 22,8 mmHg, sehingga jawaban yang benar adalah C. Catatan: Penurunan tekanan uap ( ΔP P ΔP) dapat dihitung sebagai: ΔP=Ppelarut0−Plarutan=23,8−22,8=1,0 mmHg P = _{} - P_{} = 23,8 - 22,8 = 1,0 \, Ini menunjukkan bahwa tekanan uap larutan menurun sebesar 1,0 mmHg akibat adanya zat terlarut.
-
Soal
Seorang ilmuwan membuat larutan dengan melarutkan 18 gram glukosa (massa molar = 180 g/mol) ke dalam 180 gram air. Tekanan uap air murni pada suhu 25 °C adalah 23,8 mmHg. Anggap bahwa glukosa tidak menguap dan air adalah satu-satunya komponen yang menghasilkan tekanan uap. Berapakah tekanan uap larutan tersebut pada suhu 25 °C?
Lihat pembahasan
Jawaban: C. 22,8 mmHg Pembahasan: 1. Hitung mol zat terlarut (glukosa): Mol glukosa=massamassa molar=18180=0,1 mol 2. Hitung mol pelarut (air): Mol air=massamassa molar=18018=10 mol 3. Hitung fraksi mol pelarut ( XpelarutX_{} ): Xpelarut=mol pelarutmol pelarut+mol zat terlarut=1010+0,1=1010,1≈0,990X_{} = \frac{}{ + } = = 0,990 4. Hitung tekanan uap larutan ( PlarutanP_{} ) menggunakan Hukum Raoult: Plarutan=Xpelarut⋅Ppelarut0P_{} = X_{} _{} Plarutan=0,990⋅23,8 mmHg≈22,8 mmHg 5. Kesimpulan: Tekanan uap larutan adalah 22,8 mmHg, sehingga jawaban yang benar adalah C. Catatan: Penurunan tekanan uap ( ΔP P ΔP) dapat dihitung sebagai: ΔP=Ppelarut0−Plarutan=23,8−22,8=1,0 mmHg P = _{} - P_{} = 23,8 - 22,8 = 1,0 \, Ini menunjukkan bahwa tekanan uap larutan menurun sebesar 1,0 mmHg akibat adanya zat terlarut.
-
Soal
Seorang ilmuwan membuat larutan dengan melarutkan 18 gram glukosa (massa molar = 180 g/mol) ke dalam 180 gram air. Tekanan uap air murni pada suhu 25 °C adalah 23,8 mmHg. Anggap bahwa glukosa tidak menguap dan air adalah satu-satunya komponen yang menghasilkan tekanan uap. Berapakah tekanan uap larutan tersebut pada suhu 25 °C?
Lihat pembahasan
Jawaban: C. 22,8 mmHg Pembahasan: 1. Hitung mol zat terlarut (glukosa): Mol glukosa=massamassa molar=18180=0,1 mol 2. Hitung mol pelarut (air): Mol air=massamassa molar=18018=10 mol 3. Hitung fraksi mol pelarut ( ): Xpelarut=mol pelarutmol pelarut+mol zat terlarut=1010+0,1=1010,1≈0,990X_{} = \frac{}{ + } = = 0,990 4. Hitung tekanan uap larutan ( )menggunakan Hukum Raoult: Plarutan=Xpelarut⋅Ppelarut0P_{} = X_{} _{} Plarutan=0,990⋅23,8 mmHg≈22,8 mmHg 5. Kesimpulan: Tekanan uap larutan adalah 22,8 mmHg, sehingga jawaban yang benar adalah C. Catatan: Penurunan tekanan uap ( ) dapat dihitung sebagai: ΔP=Ppelarut0−Plarutan=23,8−22,8=1,0 mmHg P = _{} - P_{} = 23,8 - 22,8 = 1,0 \, Ini menunjukkan bahwa tekanan uap larutan menurun sebesar 1,0 mmHg akibat adanya zat terlarut.
-
Soal
Seorang ilmuwan membuat larutan dengan melarutkan 18 gram glukosa (massa molar = 180 g/mol) ke dalam 180 gram air. Tekanan uap air murni pada suhu 25 °C adalah 23,8 mmHg. Anggap bahwa glukosa tidak menguap dan air adalah satu-satunya komponen yang menghasilkan tekanan uap. Berapakah tekanan uap larutan tersebut pada suhu 25 °C?
Lihat pembahasan
Jawaban: C. 22,8 mmHg Pembahasan: 1. Hitung mol zat terlarut (glukosa): Mol glukosa=massamassa molar=18180=0,1 mol 2. Hitung mol pelarut (air): Mol air=massamassa molar=18018=10 mol 3. Hitung fraksi mol pelarut ( ): Xpelarut=mol pelarutmol pelarut+mol zat terlarut=1010+0,1=1010,1≈0,990X_{} = \frac{}{ + } = = 0,990 4. Hitung tekanan uap larutan ( )menggunakan Hukum Raoult: Plarutan=Xpelarut⋅Ppelarut0P_{} = X_{} _{} Plarutan=0,990⋅23,8 mmHg≈22,8 mmHg 5. Kesimpulan: Tekanan uap larutan adalah 22,8 mmHg, sehingga jawaban yang benar adalah C. Catatan: Penurunan tekanan uap ( ) dapat dihitung sebagai: ΔP=Ppelarut0−Plarutan=23,8−22,8=1,0 mmHg P = _{} - P_{} = 23,8 - 22,8 = 1,0 \, Ini menunjukkan bahwa tekanan uap larutan menurun sebesar 1,0 mmHg akibat adanya zat terlarut.
-
Soal
Seorang ilmuwan mencampurkan 46 gram etanol C2H5OH_5OH, massa molar = 46 g/mol) dengan 180 gram air H2O ,massa molar = 18 g/mol) untuk membuat larutan. Hitung fraksi mol etanol dalam larutan tersebut.
Lihat pembahasan
Jawaban: B. 0,20 Pembahasan: 1. Hitung jumlah mol etanol: Mol etanol=massa etanolmassa molar etanol=4646=1 mol 2. Hitung jumlah mol air: Mol air=massa airmassa molar air=18018=10 mol = \frac{}{} = = 10 \, 3. Hitung total mol dalam larutan: Total mol=mol etanol+mol air=1+10=11 mol 4. Hitung fraksi mol etanol ( XetanolX_{} Xetanol): Xetanol=mol etanoltotal mol=111≈0,20X_{} = \frac{}{} = 0,20
-
Soal
Seorang ilmuwan mencampurkan 46 gram etanol C2H5OH_5OH , massa molar = 46 g/mol) dengan 180 gram air H2O ,massa molar = 18 g/mol) untuk membuat larutan. Hitung fraksi mol etanol dalam larutan tersebut.
Lihat pembahasan
Jawaban: B. 0,20 Pembahasan: 1. Hitung jumlah mol etanol: Mol etanol=massa etanolmassa molar etanol=4646=1 mol 2. Hitung jumlah mol air: Mol air=massa airmassa molar air=18018=10 mol = \frac{}{} = = 10 \, 3. Hitung total mol dalam larutan: Total mol=mol etanol+mol air=1+10=11 mol 4. Hitung fraksi mol etanol ( XetanolX_{} Xetanol): Xetanol=mol etanoltotal mol=111≈0,20X_{} = \frac{}{} = 0,20
-
Soal
Seorang ilmuwan mencampurkan 46 gram etanol _5OH , massa molar = 46 g/mol) dengan 180 gram air H2O ,massa molar = 18 g/mol) untuk membuat larutan. Hitung fraksi mol etanol dalam larutan tersebut.
Lihat pembahasan
Jawaban: B. 0,20 Pembahasan: 1. Hitung jumlah mol etanol: Mol etanol=massa etanolmassa molar etanol=4646=1 mol 2. Hitung jumlah mol air: Mol air=massa airmassa molar air=18018=10 mol = \frac{}{} = = 10 \, 3. Hitung total mol dalam larutan: Total mol=mol etanol+mol air=1+10=11 mol 4. Hitung fraksi mol etanol ( XetanolX_{} Xetanol): Xetanol=mol etanoltotal mol=111≈0,20X_{} = \frac{}{} = 0,20
-
Soal
Seorang ilmuwan mencampurkan 46 gram etanol , massa molar = 46 g/mol) dengan 180 gram air , massa molar = 18 g/mol) untuk membuat larutan. Hitung fraksi mol etanol dalam larutan tersebut.
Lihat pembahasan
Jawaban: B. 0,20 Pembahasan: 1. Hitung jumlah mol etanol: Mol etanol=massa etanolmassa molar etanol=4646=1 mol 2. Hitung jumlah mol air: Mol air=massa airmassa molar air=18018=10 mol = \frac{}{} = = 10 \, 3. Hitung total mol dalam larutan: Total mol=mol etanol+mol air=1+10=11 mol 4. Hitung fraksi mol etanol ( XetanolX_{} Xetanol): Xetanol=mol etanoltotal mol=111≈0,20X_{} = \frac{}{} = 0,20
-
Soal
Seorang ilmuwan mencampurkan 46 gram etanol , massa molar = 46 g/mol) dengan 180 gram air , massa molar = 18 g/mol) untuk membuat larutan. Hitung fraksi mol etanol dalam larutan tersebut.
Lihat pembahasan
Jawaban: B. 0,20 Pembahasan: 1. Hitung jumlah mol etanol: Mol etanol=massa etanolmassa molar etanol=4646=1 mol 2. Hitung jumlah mol air: Mol air=massa airmassa molar air=18018=10 mol = \frac{}{} = = 10 \, 3. Hitung total mol dalam larutan: Total mol=mol etanol+mol air=1+10=11 mol 4. Hitung fraksi mol etanol (Xetanol): Xetanol=mol etanoltotal mol=111≈0,20X_{} = \frac{}{} = 0,20
-
Soal
Seorang ilmuwan mencampurkan 46 gram etanol , massa molar = 46 g/mol) dengan 180 gram air , massa molar = 18 g/mol) untuk membuat larutan. Hitung fraksi mol etanol dalam larutan tersebut.
Lihat pembahasan
Jawaban: B. 0,20 Pembahasan: 1. Hitung jumlah mol etanol: Mol etanol=massa etanolmassa molar etanol=4646=1 mol 2. Hitung jumlah mol air: Mol air=massa airmassa molar air=18018=10 mol = \frac{}{} = = 10 \, 3. Hitung total mol dalam larutan: Total mol=mol etanol+mol air=1+10=11 mol 4. Hitung fraksi mol etanol (Xetanol): Xetanol=mol etanoltotal mol=111≈0,20X_{} = \frac{}{} = 0,20
-
Soal
Seorang ilmuwan mencampurkan 46 gram etanol , massa molar = 46 g/mol) dengan 180 gram air , massa molar = 18 g/mol) untuk membuat larutan. Hitung fraksi mol etanol dalam larutan tersebut.
Lihat pembahasan
Jawaban: B. 0,20 Pembahasan: 1. Hitung jumlah mol etanol: Mol etanol=massa etanolmassa molar etanol=4646=1 mol 2. Hitung jumlah mol air: Mol air=massa airmassa molar air=18018=10 mol = \frac{}{} = = 10 \, 3. Hitung total mol dalam larutan: Total mol=mol etanol+mol air=1+10=11 mol 4. Hitung fraksi mol etanol: Xetanol=mol etanoltotal mol=111≈0,20X_{} = \frac{}{} = 0,20
-
Soal
Seorang siswa melakukan eksperimen dengan dua larutan: • Larutan A: 1 mol zat non-volatil dilarutkan dalam 1 kg air. • Larutan B: 0,5 mol zat non-volatil dilarutkan dalam 1 kg air. Setelah mengukur titik didih kedua larutan, siswa mendapati bahwa kenaikan titik didih larutan A lebih besar dibandingkan larutan B. Apa yang menyebabkan perbedaan tersebut?
Lihat pembahasan
Jawaban: A. Larutan A memiliki konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi dibandingkan larutan B. Pembahasan: Kenaikan titik didih larutan (ΔTb ) bergantung pada molalitas (mm) larutan dan tetapan kenaikan titik didih molal (Kb). Karena larutan A memiliki jumlah mol zat terlarut yang lebih tinggi dibandingkan larutan B, konsentrasi partikel dalam larutan A lebih besar, sehingga kenaikan titik didihnya lebih besar. Pilihan B salah karena massa molar tidak memengaruhi sifat koligatif secara langsung. Pilihan C salah karena Kb bergantung pada jenis pelarut, bukan larutan. Pilihan D salah karena larutan A memiliki tekanan uap lebih rendah, bukan lebih tinggi. Pilihan E salah karena kenaikan titik didih menunjukkan larutan mendidih pada suhu lebih tinggi.
-
Soal
Seorang siswa melakukan eksperimen dengan dua larutan: • Larutan A: 1 mol zat non-volatil dilarutkan dalam 1 kg air. • Larutan B: 0,5 mol zat non-volatil dilarutkan dalam 1 kg air. Setelah mengukur titik didih kedua larutan, siswa mendapati bahwa kenaikan titik didih larutan A lebih besar dibandingkan larutan B. Apa yang menyebabkan perbedaan tersebut?
Lihat pembahasan
Jawaban: A. Larutan A memiliki konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi dibandingkan larutan B. Pembahasan: Kenaikan titik didih larutan () bergantung pada molalitas (m) larutan dan tetapan kenaikan titik didih molal ( Kb ). Karena larutan A memiliki jumlah mol zat terlarut yang lebih tinggi dibandingkan larutan B, konsentrasi partikel dalam larutan A lebih besar, sehingga kenaikan titik didihnya lebih besar. Pilihan B salah karena massa molar tidak memengaruhi sifat koligatif secara langsung. Pilihan C salah karena Kb bergantung pada jenis pelarut, bukan larutan. Pilihan D salah karena larutan A memiliki tekanan uap lebih rendah, bukan lebih tinggi. Pilihan E salah karena kenaikan titik didih menunjukkan larutan mendidih pada suhu lebih tinggi.
-
Soal
Seorang siswa melakukan eksperimen dengan dua larutan: • Larutan A: 1 mol zat non-volatil dilarutkan dalam 1 kg air. • Larutan B: 0,5 mol zat non-volatil dilarutkan dalam 1 kg air. Setelah mengukur titik didih kedua larutan, siswa mendapati bahwa kenaikan titik didih larutan A lebih besar dibandingkan larutan B. Apa yang menyebabkan perbedaan tersebut?
Lihat pembahasan
Jawaban: A. Larutan A memiliki konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi dibandingkan larutan B. Pembahasan: Kenaikan titik didih larutan (ΔTb ΔTb) bergantung pada molalitas (mmm) larutan dan tetapan kenaikan titik didih molal (Kb). Karena larutan A memiliki jumlah mol zat terlarut yang lebih tinggi dibandingkan larutan B, konsentrasi partikel dalam larutan A lebih besar, sehingga kenaikan titik didihnya lebih besar. Pilihan B salah karena massa molar tidak memengaruhi sifat koligatif secara langsung. Pilihan C salah karena Kb bergantung pada jenis pelarut, bukan larutan. Pilihan D salah karena larutan A memiliki tekanan uap lebih rendah, bukan lebih tinggi. Pilihan E salah karena kenaikan titik didih menunjukkan larutan mendidih pada suhu lebih tinggi.
-
Soal
Seorang siswa melakukan eksperimen dengan dua larutan: • Larutan A: 1 mol zat non-volatil dilarutkan dalam 1 kg air. • Larutan B: 0,5 mol zat non-volatil dilarutkan dalam 1 kg air. Setelah mengukur titik didih kedua larutan, siswa mendapati bahwa kenaikan titik didih larutan A lebih besar dibandingkan larutan B. Apa yang menyebabkan perbedaan tersebut?
Lihat pembahasan
Jawaban: A. Larutan A memiliki konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi dibandingkan larutan B. Pembahasan: Kenaikan titik didih larutan bergantung pada molalitas larutan dan tetapan kenaikan titik didih molal. Karena larutan A memiliki jumlah mol zat terlarut yang lebih tinggi dibandingkan larutan B, konsentrasi partikel dalam larutan A lebih besar, sehingga kenaikan titik didihnya lebih besar. Pilihan B salah karena massa molar tidak memengaruhi sifat koligatif secara langsung. Pilihan C salah karena titik didih bergantung pada jenis pelarut, bukan larutan. Pilihan D salah karena larutan A memiliki tekanan uap lebih rendah, bukan lebih tinggi. Pilihan E salah karena kenaikan titik didih menunjukkan larutan mendidih pada suhu lebih tinggi.
-
Soal
Seorang siswa melakukan eksperimen dengan dua larutan: • Larutan A: 1 mol zat non-volatil dilarutkan dalam 1 kg air. • Larutan B: 0,5 mol zat non-volatil dilarutkan dalam 1 kg air. Setelah mengukur titik didih kedua larutan, siswa mendapati bahwa kenaikan titik didih larutan A lebih besar dibandingkan larutan B. Apa yang menyebabkan perbedaan tersebut?
Lihat pembahasan
Jawaban: A. Larutan A memiliki konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi dibandingkan larutan B. Pembahasan: 1. Kenaikan Titik Didih: Kenaikan titik didih () adalah sifat koligatif yang bergantung pada jumlah partikel zat terlarut dalam larutan. Rumusnya: Di mana: - : Tetapan kenaikan titik didih molal (bergantung pada pelarut). - : Molalitas larutan (). 2. Perbandingan Larutan A dan B: - Larutan A: - Larutan B: 3. Kesimpulan: Karena molalitas larutan A lebih besar, kenaikan titik didih () pada larutan A lebih besar dibandingkan larutan B. Sifat koligatif hanya bergantung pada jumlah partikel zat terlarut, bukan jenisnya.
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp