Fitri Learning

BelajarSejarah SMA Kelas 12Bab 1

Strategi Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan melalui Diplomasi

Sejarah SMA Kelas 12 · Bab 1: Jejak Sejarah Panjang dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Selain perlawanan bersenjata, Indonesia menempuh diplomasi untuk mendapatkan pengakuan internasional dan menyelesaikan konflik dengan Belanda — melalui perundingan langsung (Linggarjati, Renville, Roem-Royen), mediator internasional (KTN, UNCI), maupun organisasi seperti PBB.

Perundingan Pendahuluan dan Konferensi Malino (16–25 Juli 1946)

Belanda melalui NICA mengadakan Konferensi Malino di Sulawesi Selatan untuk membentuk negara-negara federal di luar kekuasaan Republik Indonesia. Dihadiri perwakilan Kalimantan dan Indonesia Timur serta digagas Gubernur Jenderal Belanda W.J. van Mook, konferensi ini mengusulkan negara boneka seperti Negara Indonesia Timur (NIT) tanpa melibatkan Republik Indonesia.

Perundingan Linggarjati (10–15 November 1946)

Diadakan di Kuningan, hasil resminya diumumkan 25 Maret 1947: Belanda mengakui secara de facto kekuasaan RI atas Jawa, Sumatra, dan Madura, serta disepakati pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) dalam Uni Indonesia-Belanda. Hasil ini memunculkan reaksi beragam — Sutan Sjahrir mendukung, sementara Tan Malaka dan kelompok kiri menentang keras karena dianggap terlalu menguntungkan Belanda.

Komisi Tiga Negara (KTN)

Setelah Agresi Militer Belanda I (Juli 1947), PBB membentuk KTN sebagai mediator, beranggotakan Australia (dipilih Indonesia, diwakili Richard Kirby), Belgia (dipilih Belanda, diwakili Paul van Zeeland), dan Amerika Serikat (dipilih bersama, diwakili Frank Porter Graham). KTN memantau gencatan senjata dan memfasilitasi Perundingan Renville.

Perundingan Renville (8 Desember 1947–17 Januari 1948)

Berlangsung di atas kapal USS Renville, perundingan ini menghasilkan garis demarkasi Van Mook yang sangat merugikan Indonesia karena mempersempit wilayah kekuasaan RI. Belanda kemudian membentuk negara-negara boneka lewat BFO dan melancarkan Agresi Militer II (19 Desember 1948) yang menduduki Yogyakarta serta menangkap Soekarno-Hatta. Perlawanan rakyat tak berhenti — Letnan Kolonel Soeharto memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949 yang berhasil merebut Yogyakarta selama 6 jam, memberi pengaruh besar bagi perundingan diplomasi selanjutnya.

Fakta Unik di Balik Sejarah

Perundingan Renville berlangsung di atas kapal perang Amerika Serikat, USS Renville, yang berlabuh di Teluk Jakarta — bukan di tempat netral seperti biasanya, menggambarkan betapa tegang dan gentingnya situasi saat itu serta peran aktif Amerika Serikat sebagai penengah lewat Komisi Tiga Negara.

Perundingan Roem-Royen (14 April–7 Mei 1949)

  • Dinamai dari Mohammad Roem (Indonesia) dan Dr. J.H. van Royen (Belanda), diadakan setelah PBB mendesak Belanda menyusul tekanan internasional dan Serangan Umum 1 Maret.
  • Belanda sepakat menghentikan agresi militer dan mengembalikan pemerintahan RI ke Yogyakarta.
  • Konferensi Meja Bundar (KMB) disepakati untuk segera diadakan.

Konferensi Inter-Indonesia (19–22 Juli 1949)

Memperkuat persatuan antara Republik Indonesia dan negara-negara bagian BFO sebelum menghadapi Belanda di KMB: disepakati bentuk RIS sebagai negara federal dan penyatuan militer antar negara bagian. Tokoh yang terlibat termasuk Mohammad Hatta dan Wali Negara Pasundan, Soemitro Kolopaking.

Konferensi Meja Bundar (23 Agustus–2 November 1949)

  • Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949, kecuali Irian Barat yang masih diperdebatkan.
  • Indonesia berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan Soekarno sebagai presiden dan Hatta sebagai perdana menteri.
  • Penarikan pasukan Belanda secara bertahap dari wilayah Indonesia.
  • Tokoh penting: Mohammad Hatta memimpin delegasi Indonesia; Willem Drees sebagai Perdana Menteri Belanda.
Contoh soal

Soal. Bandingkan hasil Perundingan Linggarjati dan Renville — mana yang lebih merugikan Indonesia?

Jawaban. Renville lebih merugikan: garis Van Mook mempersempit wilayah RI dan legitimasi politik Indonesia melemah akibat pembentukan negara-negara boneka Belanda. Linggarjati masih memberi ruang gerak yang lebih luas secara wilayah dan diplomatik dibandingkan Renville.

Kegiatan

Kegiatan Kelompok 2: Memetakan Perjuangan Diplomasi

Tujuan. Memetakan secara visual peristiwa-peristiwa penting dalam mempertahankan kemerdekaan, menghubungkan perjuangan fisik dan diplomasi.

  • Bentuk kelompok 4–5 orang, siapkan peta Indonesia, dan tandai lokasi pertempuran maupun perundingan penting (Surabaya, Ambarawa, Medan, Linggarjati, Renville).
  • Di setiap titik tuliskan peristiwa, tokoh utama, dan dampaknya, lalu hubungkan titik-titik tersebut dan simpulkan bagaimana kombinasi perjuangan fisik dan diplomasi memperkuat upaya mempertahankan kemerdekaan.

Gratis — tolong sebarkan

Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.

Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya →