Sejak kembali menjadi NKRI pada 17 Agustus 1950, Indonesia memasuki Masa Demokrasi Liberal (1950–1959) dengan sistem parlementer: pemerintahan dipimpin perdana menteri yang bertanggung jawab kepada parlemen, sementara presiden hanya berperan sebagai kepala negara.
Dinamika Politik dan Pengaruh Internasional
Sistem federal RIS ditolak PNI dan Masyumi karena dianggap peninggalan kolonial, sehingga Indonesia kembali menjadi NKRI pada 17 Agustus 1950. Muhammad Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden pada 1 Desember 1956 akibat ketidakcocokan dengan sistem parlementer, yang mengarah pada sentralisasi kekuasaan di tangan Soekarno.
Pergantian Kabinet yang Tidak Stabil
| Nama Kabinet | Tahun Pemerintahan |
|---|---|
| Kabinet Natsir (Masyumi) | 6 September 1950 – 21 Maret 1951 |
| Kabinet Sukiman (Masyumi) | 27 April 1951 – 3 April 1952 |
| Kabinet Wilopo (PNI) | 3 April 1952 – 3 Juni 1953 |
| Kabinet Ali Sastroamidjojo I (Koalisi PNI dan NU) | 31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955 |
| Kabinet Burhanuddin Harahap (Masyumi) | 12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956 |
| Kabinet Ali Sastroamidjojo II (Koalisi PNI, Masyumi, dan NU) | 20 Maret 1956 – 4 Maret 1957 |
| Kabinet Djuanda | 9 April 1957 – 5 Juli 1959 |
Peristiwa 17 Oktober 1952 menunjukkan ketegangan militer-parlemen: Kolonel A.H. Nasution dan perwira militer menuntut pembubaran parlemen, namun Soekarno menolak dan krisis berhasil diredam tanpa kekerasan. Pada 18–24 April 1955, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung yang dihadiri 29 negara dan menjadi dasar terbentuknya Gerakan Non-Blok.
Kebijakan Ekonomi pada Masa Demokrasi Liberal
Pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo (sejak 1949) menjadi ancaman keamanan besar. Di bidang ekonomi, pemerintah meluncurkan Gerakan Banteng pimpinan Sjafruddin Prawiranegara untuk memperkuat pengusaha pribumi dalam ekspor, disertai konsep Perusahaan Ali Baba (kerja sama pengusaha pribumi dengan non-pribumi) yang tidak berjalan sesuai harapan. Indonesia juga menerima bantuan ekonomi-militer AS lewat Mutual Security Act (MSA), yang sebagian besar berupa alat dan perlengkapan, bukan dana tunai.
Bantuan dari MSA sebagian besar berupa alat, mesin, dan perlengkapan, bukan dana langsung — membatasi fleksibilitas pemerintah dalam mengalokasikan bantuan sesuai kebutuhan nasional.
Soal. Apa faktor utama yang menyebabkan pergantian kabinet sangat sering pada masa Demokrasi Liberal?
Jawaban. Ketidakstabilan koalisi partai-partai dalam sistem parlementer. Kondisi politik yang terfragmentasi membuat koalisi antarpartai rapuh dan mudah dijatuhkan melalui mosi tidak percaya, menyebabkan kabinet seperti Natsir, Sukiman, Wilopo, hingga Djuanda hanya memerintah dalam waktu singkat.
Gratis — tolong sebarkan
Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.
Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya → Ilmu yang bermanfaatBagikan ke WhatsApp