Fitri Learning

BelajarSejarah SMA Kelas 12Bab 2

Perjalanan Indonesia di Era Demokrasi Terpimpin

Sejarah SMA Kelas 12 · Bab 2: Dinamika Demokrasi di Indonesia dari Demokrasi Liberal hingga Demokrasi Terpimpin

Pada 1959, Indonesia memasuki Demokrasi Terpimpin setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 membubarkan Konstituante dan mengembalikan UUD 1945. Kekuasaan semakin terpusat di tangan presiden hingga tahun 1965.

Gambar: Presiden Sukarno membacakan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 – commons.wikimedia.org

Kondisi Politik pada Masa Demokrasi Terpimpin

  • Tiga alasan penerapan Demokrasi Terpimpin: kegagalan sistem parlementer (kabinet sering jatuh), meningkatnya gerakan separatis (DI/TII, PRRI, Permesta), dan konflik ideologi antar kelompok nasionalis, agama, dan komunis.
  • MPRS dan DPA dibentuk sebagai lembaga penopang kekuasaan presiden — MPRS menyusun GBHN, DPA memberi nasihat kepada presiden.
  • Komando Operasi Tertinggi (KOTI) dibentuk 19 Desember 1961, dipimpin langsung Soekarno untuk mengendalikan keamanan nasional, termasuk dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia.
  • Nasakom (Nasionalisme-Agama-Komunisme) dicetuskan Soekarno untuk menyatukan tiga ideologi besar, namun dalam praktiknya justru memperkuat pengaruh PKI dalam pemerintahan.

Konflik sosial seperti Peristiwa Bandar Betsy (16 Maret 1960, Sumatra Utara) dan Peristiwa Jengkol (1964, Jawa Barat) mencerminkan ketegangan antara petani yang dipengaruhi PKI dan pemerintah/swasta terkait perebutan lahan.

Kondisi Ekonomi pada Masa Demokrasi Terpimpin

Untuk mengatasi krisis ekonomi, Soekarno mengeluarkan Deklarasi Ekonomi (Dekon) pada 28 Maret 1963 guna membangun ekonomi mandiri, namun pelaksanaannya terhambat keterbatasan sumber daya. Devaluasi 25 Agustus 1959 memangkas nilai rupiah 75% (Rp1000 menjadi Rp250), namun inflasi tetap tak terkendali hingga mencapai 600% pada 1965.

Fakta Unik di Balik Sejarah

Devaluasi 75 Persen yang Mengejutkan: pada 25 Agustus 1959, pemerintah memangkas nilai rupiah 75 persen — uang kertas Rp1000 hanya dihargai Rp250 — namun inflasi justru terus melonjak hingga 600 persen pada 1965.

Kabinet Gotong Royong (Kabinet Kaki Empat)

Dibentuk 18 Februari 1960, kabinet ini mengakomodasi empat kekuatan utama: nasionalis (PNI, diwakili Ali Sastroamidjojo), agama (NU, diwakili KH Idham Chalid), komunis (PKI, diwakili DN Aidit), dan militer (diwakili Jenderal AH Nasution) — upaya Soekarno menciptakan stabilitas politik di tengah krisis.

Contoh soal

Soal. Apa dampak devaluasi rupiah yang dilakukan pemerintah Indonesia pada tahun 1959?

Jawaban. Penurunan nilai rupiah secara drastis terhadap mata uang asing sebesar 75% (Rp1000 menjadi Rp250), bertujuan mengurangi jumlah uang beredar dan mengatasi inflasi — meski inflasi tetap menjadi masalah besar hingga akhir masa Demokrasi Terpimpin.

Gratis — tolong sebarkan

Materi dan latihan di sini bisa dipakai siapa saja tanpa membayar dan tanpa mendaftar. Aplikasi Fitri Learning membawa semuanya ke HP, lengkap dengan nilai dan pembahasan, dan jalan tanpa internet setelah diunduh sekali.

Gratis, tanpa akunUnduh aplikasinya →